Pantas Saja Sangat Detail, Masashi Kishimoto Ternyata Pakai Ajaran Dewa-Dewa Ini Buat Bikin Kisah Naruto!

Lalu Mohammad Zaenudin • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 10:49 WIB
Susanoo vs Kurama
Susanoo vs Kurama

 LombokPost – Salah satu alasan mengapa Naruto tetap dicintai jutaan penggemar hingga lebih dari dua dekade setelah pertama kali terbit adalah karena dunia yang dibangun Masashi Kishimoto terasa begitu hidup.

Di balik setiap jurus, karakter, hingga peperangan antar desa ninja, tersimpan fondasi budaya, mitologi, dan filsafat yang membuat cerita tersebut tidak terasa seperti khayalan tanpa arah.

Banyak pembaca mengira berbagai teknik dalam Naruto hanyalah hasil imajinasi liar sang kreator. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, sebagian besar konsep yang muncul dalam manga tersebut memiliki akar yang kuat pada kepercayaan, legenda, hingga pandangan hidup masyarakat Jepang dan Asia Timur.

Salah satu contoh paling terkenal adalah teknik pamungkas milik klan Uchiha. Nama-nama seperti Amaterasu, Tsukuyomi, dan Susanoo bukanlah nama yang diciptakan Kishimoto. Ketiganya berasal dari mitologi Shinto, agama asli Jepang yang telah berkembang selama ribuan tahun.

Dalam mitologi Shinto, Amaterasu dikenal sebagai Dewi Matahari yang menjadi salah satu dewa tertinggi. Tsukuyomi merupakan Dewa Bulan, sementara Susanoo adalah Dewa Laut dan Badai.

Kishimoto mengambil nama-nama tersebut, lalu mengubahnya menjadi kemampuan mata Sharingan dan Mangekyou Sharingan dengan karakteristik yang tetap mencerminkan sifat para dewa tersebut.

Amaterasu, misalnya, diwujudkan sebagai api hitam yang tidak pernah padam hingga membakar targetnya. Tsukuyomi menjadi teknik ilusi yang mengendalikan ruang dan waktu di dalam pikiran lawan. Sedangkan Susanoo hadir sebagai sosok raksasa pelindung yang melambangkan kekuatan sekaligus perlindungan bagi penggunanya.

Pendekatan serupa juga terlihat pada penciptaan para Bijuu. Makhluk-makhluk berekor itu bukan sekadar monster raksasa untuk menambah kesan dramatis dalam pertarungan. Hampir semuanya memiliki hubungan erat dengan cerita rakyat Jepang mengenai yokai, yakni makhluk supranatural yang telah menjadi bagian dari budaya Jepang selama berabad-abad.

Kurama, misalnya, terinspirasi dari kitsune, rubah berekor sembilan yang dalam berbagai legenda dipercaya memiliki kecerdasan luar biasa, kekuatan spiritual, dan umur yang sangat panjang. Sementara Shukaku memiliki kemiripan dengan tanuki, makhluk legenda yang sering digambarkan memiliki kemampuan sihir dan perubahan wujud.

Baca Juga: Pernah Diremehkan dan Buncit Nilai Sekolah! Terkuak Masa Lalu Kelam Masashi Kishimoto Sebelum Ciptakan Naruto

Gyuki, Bijuu Ekor Delapan, juga bukan hasil khayalan tanpa dasar. Sosoknya memiliki kemiripan dengan ushi-oni, makhluk dalam cerita rakyat Jepang yang digambarkan memiliki tubuh gabungan banteng dan monster laut. Dengan mengambil inspirasi dari legenda-legenda tersebut, Kishimoto membuat dunia Naruto terasa akrab bagi masyarakat Jepang, tetapi tetap menarik bagi pembaca internasional.

Tidak hanya mengambil inspirasi dari budaya Jepang, Kishimoto juga memadukan konsep spiritual dari India dan Tiongkok. Sistem chakra yang menjadi sumber kekuatan para ninja berakar dari ajaran Hindu dan Buddhisme mengenai pusat energi dalam tubuh manusia.

Dalam tradisi spiritual tersebut, chakra diyakini sebagai titik-titik energi yang memengaruhi keseimbangan fisik maupun mental seseorang. Kishimoto kemudian mengembangkan konsep itu menjadi sumber tenaga bagi seluruh teknik ninja, sehingga sistem pertarungan dalam Naruto memiliki aturan yang jelas dan konsisten.

Konsep tersebut semakin diperkuat dengan penggunaan lima elemen dasar, yakni api, air, angin, tanah, dan petir. Kelima elemen ini telah lama dikenal dalam filsafat Tiongkok dan Jepang sebagai unsur pembentuk alam semesta. Di tangan Kishimoto, teori tersebut berkembang menjadi sistem pertarungan yang membuat setiap karakter memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing.

Bahkan konsep Yin dan Yang juga diadaptasi menjadi bagian penting dalam dunia Naruto. Kedua konsep yang berasal dari filsafat Timur itu menggambarkan keseimbangan dua kekuatan yang saling melengkapi. Kishimoto mengolahnya menjadi Yin Release, Yang Release, hingga Yin-Yang Release yang menjadi dasar berbagai teknik tingkat tinggi, termasuk kemampuan Sage of Six Paths.

Yang membuat karya Kishimoto semakin istimewa bukan hanya kemampuannya mengambil referensi budaya, tetapi juga mengolahnya menjadi sesuatu yang mudah dipahami pembaca modern. Ia tidak menyalin mentah-mentah mitologi kuno, melainkan memodifikasinya agar sesuai dengan kebutuhan cerita tanpa menghilangkan makna aslinya.

Inilah yang membedakan Naruto dari banyak karya fantasi lainnya. Dunia ninja yang dibangun Kishimoto memiliki aturan, sejarah, budaya, hingga filosofi yang saling berkaitan. Setiap jurus terasa memiliki alasan mengapa ia ada, bukan sekadar diciptakan agar pertarungan terlihat spektakuler.

Tak heran apabila hingga kini banyak akademisi, peneliti budaya populer, maupun penggemar manga masih terus membahas berbagai simbol dan filosofi yang tersembunyi di balik kisah Naruto.

Bagi sebagian orang, serial ini memang bercerita tentang ninja. Namun bagi yang menelusurinya lebih dalam, Naruto adalah perpaduan antara mitologi, sejarah, budaya, filsafat, dan imajinasi yang dirangkai menjadi sebuah mahakarya modern yang melampaui batas komik hiburan semata.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Beragam Sumber
mitologi jepang dalam anime naruto asal usul jurus uchiha filsafat dan lore naruto