LombokPost - Pepatah populer pop-culture modern pernah menyebutkan bahwa "tidak ada orang yang murni terlahir jahat, melainkan keputusan dan luka di masa lalu yang membentuk seseorang menjadi monster".
Jika kalian ingat Joker juga pernah mengatakan: "Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti"
Di jagat sandiwara radio Tutur Tinular mahakarya S. Tidjab, prinsip filosofis ini tergambar sangat sempurna melalui kehadiran dua tokoh antagonis paling ikonik: Mpu Tong Bajil dan Dewi Sambi.
Bagi jutaan pendengar radio di era 80-an hingga 90-an, nama Mpu Tong Bajil dan Dewi Sambi selalu berhasil membangkitkan rasa cemas sekaligus emosi mendalam. Mereka bukan sekadar tokoh jahat pelengkap penderita yang lewat begitu saja, melainkan lawan seimbang bagi Arya Kamandanu yang perjalanannya dipenuhi motif konflik emosional, dendam, dan hasrat akan kekuasaan.
1. Mpu Tong Bajil: Dari Cacat Fisik hingga Haus Kekuatan 'God-Tier'
Julukan/Posisi: Pemimpin Antagonis Aliran Hitam & Panglima Sekutu Kediri.
Senjata & Jurus Utama: Tongkat Pencabut Roh & Aji Segara Geni.
Baca Juga: Di Balik Pedang Naga Puspa: Mengenal Tiga Mpu Legendaris dalam Lore 'Tutur Tinular'
Motivasi Kejahatan: Ambisi pengakuan, trauma penolakan, dan kehausan akan pusaka terkuat.
Mpu Tong Bajil digambarkan sebagai sosok pria dengan fisik kerdil, namun menyimpan energi kanuragan luar biasa yang sangat mematikan.
Fakta cerita menunjukkan, masa muda Tong Bajil dipenuhi oleh diskriminasi dan ejekan dari lingkungan sekitar karena bentuk fisiknya. Penolakan sosial yang ia terima sejak kecil menjadi benih utama kekecewaan dan kebencian mendalam terhadap dunia.
Untuk menutupi kekurangan fisiknya dan membuktikan bahwa ia tidak bisa diremehkan, Tong Bajil menempuh jalan penderitaan yang keras dengan mendalami ajian aliran hitam. Dari proses pertapaan yang menyiksa itu lahir kesaktian berupa Aji Segara Geni—ilmu pukulan hawa panas mematikan yang sanggup meremukkan organ dalam musuh-musuhnya.
Kejahatan Tong Bajil kian memuncak saat ia memimpin pasukan aliran hitam yang bersekutu dengan Kerajaan Kediri untuk memburu Mei Shin dan Lou Shi Shan demi merebut Pedang Naga Puspa. Baginya, memiliki Pedang Naga Puspa bukan sekadar soal menambah kesaktian bertarung, melainkan simbol seorang pria yang dulunya terhina kini bisa memegang senjata paling ditakuti di seluruh Nusantara.
2. Dewi Sambi: Pengorbanan Cinta Segitiga yang Tersesat
Julukan/Posisi: Murid Utama Dewi Upas & Kekasih Setia Mpu Tong Bajil.
Senjata & Jurus Utama: Pukulan Racun Aji Tapak Wisa.
Motivasi Kejahatan: Bucin tingkat tinggi, pengorbanan masa depan, dan dendam kesumat.
Berbeda dengan Tong Bajil yang didorong oleh ambisi fisik dan kekuasaan, Dewi Sambi adalah contoh nyata bagaimana cinta yang salah arah dapat mengubah seorang wanita cantik menjadi pembunuh berdarah dingin.
Dewi Sambi awalnya adalah seorang murid berbakat dari pertapa sakti Gunung Kawi, Dewi Upas. Memiliki paras yang anggun namun berdarah dingin, ia memegang keahlian mematikan bernama Aji Tapak Wisa.
Fakta menarik dalam cerita Tutur Tinular, Dewi Sambi rela mengorbankan segalanya—termasuk hubungan baik dengan gurunya serta masa depannya sendiri—hanya demi cintanya yang tulus dan tanpa syarat kepada Mpu Tong Bajil.
Ia tidak peduli bahwa Tong Bajil memiliki fisik kerdil atau dicap sebagai penjahat nomor satu di rimba persilatan.
Cinta buta ini membuat Dewi Sambi menutup matanya dari norma kebenaran. Ia bersedia menjadi tumpuan aksi-aksi jahat Tong Bajil, mengejar musuh-musuhnya, hingga merancang strategi tipu daya yang kejam demi mewujudkan mimpi sang kekasih.
Di balik tindakannya yang sadis, ada dorongan cinta emosional yang sangat tragis di mana seorang wanita rela menyerahkan seluruh jiwanya pada pria yang salah.
3. Dinamika Hubungan dan Puncak Tragedi Keduanya
Status Hubungan: Pasangan Kekasih Rimba Persilatan (Melahirkan putra bernama Layang Samba).
Titik Balik: Kematian Mpu Tong Bajil oleh Keris Empu Gandring di tangan Arya Kamandanu.
Akhir Hayat: Dendam membuta Dewi Sambi yang berakhir tragis akibat karmanya sendiri.
Hubungan antara Mpu Tong Bajil dan Dewi Sambi menyajikan dinamika villain couple yang sangat berbobot. Di tengah kekejaman mereka terhadap musuh, keduanya saling melengkapi dan menyayangi.
Hasil dari jalinan asmara mereka melahirkan seorang putra bernama Layang Samba.
Puncak kehancuran pasangan ini terjadi ketika pertarungan besar meletus antara Mpu Tong Bajil dan Arya Kamandanu. Tong Bajil yang berhasil ditewaskan setelah dadanya tertembus kesaktian Keris Empu Gandring meninggalkan luka dan duka mendalam yang meremukkan hidup Dewi Sambi.
Kematian sang kekasih mengubah Dewi Sambi dari sekadar pengikut menjadi monster dendam yang dipenuhi rasa benci. Sisa hidupnya dihabiskan hanya untuk merekayasa skenario fitnah dan pembunuhan demi membalas dendam kematian Tong Bajil kepada Arya Kamandanu dan Mei Shin.
Hingga akhirnya, takdir membawanya pada kematian tragis yang dipicu oleh racun ajiannya sendiri sebagai bentuk karma atas perbuatannya.
Melalui karakter Mpu Tong Bajil dan Dewi Sambi, S. Tidjab membuktikan kelasnya sebagai penulis cerita sejarah dan fiksi yang sangat manusiawi. Beliau tidak menampilkan kejahatan dalam wujud yang hitam-putih begitu saja.
Tong Bajil adalah gambaran dari jiwa yang hancur karena trauma dan rasa terhina, sementara Dewi Sambi adalah simbol dari ketulusan cinta yang diekspresikan secara keliru hingga merusak nurani.
Baca Juga: Kisah Memilukan Nari Ratih & Mei Shin: Mengapa Hati Kamandanu Berulang Kali Dihancurkan Dwipangga?
Mengulas kembali kisah duo villain ini memberi kita pelajaran bahwa penderitaan hidup dan rasa cinta yang tidak dibimbing oleh kebaikan hanya akan melahirkan lingkaran dendam yang pada akhirnya menghancurkan diri sendiri.
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Beragam Sumber