Lombokpost.jawapos.com-Berdasarkan data yang dihimpun oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2016, lebih dari 3.000 remaja meninggal dunia setiap hari dengan total mencapai 1,2 juta kematian remaja per tahun. Melihat fakta tersebut, putri mendiang anggota DPR RI H Bambang Kristiono, Rannya Agustyra Kristiono mengajak generasi muda milenial dan Gen Z untuk mulai menerapkan pola hidup sehat dan bersih.
"Agar cita-cita Generasi Emas Indonesia bisa tercapai," kata Rannya, Minggu (27/8).
Dara cantik yang lama menempuh pendidikan di Eropa ini menjelaskan, dari data WHO dapat diketahui bahwa ada beberapa penyebab kematian yang paling tinggi terjadi di usia remaja. Yang pertama adalah kecelakaan. Kecelakaan merupakan penyebab kematian remaja usia 10-19 tahun yang terbesar. "Cara mencegah menunggu sampai anak mendapatkan SIM baru diperbolehkan untuk mengemudikan kendaraan bermotor," katanya.
Penyebab kedua kematian remaja adalah penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Menurut dia, terdapat berbagai macam infeksi saluran pernapasan bagian bawah pada remaja yakni, bronkitis, pneumonia, laryngotracheitis, dan tracheitis.
"Hal ini berkaitan dengan kebiasaan merokok. WHO mencatat bahwa lebih dari setengah dari total kasus kematian anak dan remaja akibat pneumonia adalah akibat menghirup asap polusi dalam ruangan," imbuhnya.
Selanjutnya adalah penyakit diare. Diare juga sangat berkaitan dengan kondisi sanitasi dan kebersihan lingkungan sekitar. Sehingga kebersihan menjadi penting dalam pencegahan diare.
"Diare memang kesannya sepele. Namun, bila tidak segera ditangani, diare bisa menyebabkan dehidrasi serius yang akhirnya berujung pada kematian," papar Rannya.
Penyebab kematian pada remaja lainnya adalah faktor bunuh diri. Data WHO menyebutkan, remaja yang masih berkembang dan belum begitu mampu mengelola emosinya dengan baik lebih rentan terhadap percobaan bunuh diri dibandingkan orang dewasa.
Faktor risiko terbesarnya memang adalah depresi yang tidak terobati. Pemicunya pun bisa beragam hal yang ia temui dalam hidupnya, mulai dari trauma masa kecil, kekerasan seksual, hingga bullying.
"Remaja yang kecanduan zat-zat tertentu seperti alkohol atau narkoba juga lebih rentan mengalami kematian akibat percobaan bunuh diri," jelasnya.
Karena itulah, Rannya mengajak para milenial dan Gen Z untuk mulai menerapkan pola hidup sehat, bersih dan tertib menghindari kegiatan-kegiatan negatif yang bisa merugikan diri sendiri. "Semua bisa dimulai dengan pola hidup sehat, berolahraga dan positif thinking. Jauhi makanan 'sampah’, minuman beralkohol, apalagi narkoba," katanya.
Rannya menilai ada banyak hal positif yang bisa dikembangkan. Apalagi Lombok sudah menjadi salah satu destinasi sport tourism internasional sejak adanya sirkuit Mandalika di Lombok Tengah.
"Jogging dan bersepeda bisa jadi pilihan yang tepat. Karena olahraga ini terjangkau semua kalangan dan menyehatkan," katanya.
Rannya sudah bertekad untuk melanjutkan cita-cita mendiang ayahnya dalam berkarya untuk masyarakat Pulau Lombok. Dara humble dan ramah ini mengaku akan berbuat untuk semua kalangan masyarakat, termasuk kaum milenial dan Gen Z.
"Tentu banyak hal baik dan positif yang bisa dilakukan generasi muda di daerah ini. Tapi yang utama, generasi muda lombok harus sehat, kreatif dan berbudi luhur untuk menyongsong generasi emas Indonesia 2045," ujar Rannya.
Dia menambahkan, pada tahun 2045 Indonesia akan mendapatkan bonus demografi yaitu jumlah penduduk Indonesia 70 persennya dalam usia produktif (15-64 tahun). Sedangkan sisanya 30 persen merupakan penduduk yang tidak produktif (usia di bawah 14 tahun dan di atas 65 tahun) pada periode tahun 2020-2045.
Menurut dia, jika bonus demografi ini tidak dimanfaatkan dengan baik akan membawa dampak buruk terutama masalah sosial. Seperti kemiskinan, kesehatan yang rendah, pengangguran, dan tingkat kriminalitas yang tinggi.
Melihat dari fakta yang akan dihadapi Indonesia tersebut bonus demografi memang tidak bisa dihindari. “Jadi harus disiapkan mulai sekarang," pungkasnya. (r5)
Editor : Rury Anjas Andita