Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Antar Cepat, Rezeki Dekat, Inilah Cerita Kurir Lokal dengan Cara Promosi Semakin Berkembang

Lombok Post Online • Sabtu, 24 Januari 2026 | 12:39 WIB

 

KOMPAK: Pegawai dan mitra kurir Okegas tampak kompak sebelum memulai aktivitas melayani pelanggan.
KOMPAK: Pegawai dan mitra kurir Okegas tampak kompak sebelum memulai aktivitas melayani pelanggan.
 

LombokPost - Motor-motor melintas tanpa jeda di jalanan Mataram. Dari gang sempit hingga pusat kota, paket kecil dan pesanan mendadak berpindah tangan menjadi penanda perubahan gaya hidup urban sekaligus sumber penghidupan baru.

Di tengah budaya serba cepat masyarakat perkotaan Lombok, kurir lokal kian menjamur dan menemukan ruangnya sendiri.

Mereka hadir mengantar kebutuhan harian, mendukung usaha kecil, dan menjadikan jarak yang dekat sebagai peluang rezeki. Bukan sekadar jasa antar, kurir lokal kini menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut ekonomi kota.

Menangkap Malas Jadi Peluang

Bagi Gendut Agin, rasa kecewa adalah bahan bakar terbaik untuk berinovasi.

Pria asli Punia ini pernah berada di posisi konsumen yang merasa tidak puas dengan layanan jasa pengantaran.

Alih-alih hanya mengeluh, ia justru melihat celah bisnis di balik "kemalasan" masyarakat urban yang kini enggan bergerak hanya untuk sekadar membeli makan atau mengantar barang.

Lahir pada Februari 2024, Okegas kini tumbuh menjadi jasa kurir lokal berkembang di Pulau Lombok.

Berawal dari niat memperbaiki standar pelayanan, Agin membawa bisnis keempatnya ini melesat dengan 50 unit armada yang menjangkau pelosok Lombok mulai dari Mataram, Senggigi, Kuta, Selong Belanak, hingga Belanting.

"Sekarang zaman sudah berubah. Orang-orang semakin tergantung dengan kurir. Inilah peluang bagus yang saya tangkap," ujar Agin.

Baca Juga: Menyaksikan Robot Kurir Kolaborasi Suzuki Motor Corporation, Lomby Inc, dan 7-Eleven Bertugas

Mardiansyah, kurir lokal asal Gerung, Lombok Barat sudah menekuni pekerjaan ini sejak 12 tahun lalu. ”Kurir sekarang banyak,” katanya.

Dia mengaku menjadi kurir sejak menggunakan sistem offline. ”Belum menggunakan WhatsApp di Fast Courier. Waktu itu masih menggunakan telepon biasa. Yang jadi langganan hanya orang yang kita kenal saja,” ujarnya.

Begitu muncul WhatsApp cara promosi semakin berkembang. Mulai ramai meskipun tantanganya saat itu muncul aplikasi Go-Jek dan Grab. ”Semua dulu saya antar. Mulai dari orang, barang, hingga antar makanan. Semua kebutuhan logistik saya antar,” kata dia.

Menjadi kurir sudah banyak yang dilaluinya. Mulai dari hujan hingga panas. ”Banjir juga kita lewati asalkan paket pesanan sampai ke tujuan,” ujarnya.

Itu bentuk dedikasi untuk mempertahankan pelayanan yang profesional kepada pemesan.

”Pernah saya waktu sakit, tetap saya antar pesanan. Sebab, pesanan ramai, kurir semua lagi ngantar barang. Jadi terpaksa tetap turun,” ujarnya.

Tarif Tergantung Jarak

Berbicara mengenai hasil, semua tergantung jarak. Jika ada pesanan wilayah Kota Mataram, masih dikisaran harga Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu per sekali antar.

”Kalau kita jalan dan terima pesanan ketika ditelpon admin kantor 10 kali saja sudah cukup banyak yang didapatkan,” jelasnya.

Bisa mendapatkan Rp 90 ribu per hari. Pendapatan itu terbilang bersih.

”Sisanya kan ke admin dan membeli minyak dan setor ke admin,” kata dia.

Jika di luar Kota Mataram, pria yang akrab disapa Dian itu menarik tarif tergantung dari admin yang menerima.

“Kalau cocok ongkosnya, ya saya ambil. Kalau tidak pas harga, terpaksa harus saya tolak. Itu bukan soal dedikasi, tetapi profesionalisme,” ujarnya.

Jaga Kualitas Layanan

Terlebih saat ini pengusaha kurir semakin banyak. Tentunya harus menjaga kualitas servis. ”Tidak boleh telat harus tepat waktu,” bebernya.

Yang terpenting dalam menjalankan menjadi kurir adalah gesit dan cepat tanggap. ”Cepat tetapi juga harus tetap safety. Menjaga barang atau pesanan orang,” kata dia.

Melalui pekerjaan ini, Mardiansyah bisa menghidupi keluarganya. Saat ini anak pertamanya sudah duduk di bangku SMA.

Alhamdulillah, hidup juga kita dengan jadi kurir ini,” ujarnya.

Meskipun pendapatan pasang surut. Kalau lagi ramai pendapatan bisa sampai Rp 200 ribu per hari.

”Kalau lagi sepi, bisa sedikit juga hasilnya,” tandasnya. (rur/puj/arl/r3)

Editor : Kimda Farida
#kota #kurir #Ekonomi #peluang #lokal