LombokPost - FOMO (Fear of Missing Out) di kalangan pendaki pemula, khsususnya anak muda, memicu tren kenaikan jumlah pendaki gunung yang signifikan.
Tapi kegiatan positif ini seringkali tanpa persiapan matang dan lebih didorong menjadi konten media sosial untuk mencapai FYP (For Your Page). Masuk FYP berarti konten mendapatkan jangkauan luas alias viral dan mendapat algoritma tinggi.
Toko penyewaan alat-alat outdoor yang menyediakan perlengkapan mendaki gunung dan camping terlihat ramai pengunjung, Jumat (10/4). Gerai yang tidak terlalu luas di Jalan Guru Bangkol, Kelurahan Pagesangan Timur, Kota Mataram, itu dipenuhi anak-anak muda.
Rata-rata adalah mahasiswa.
Mereka terlihat antusias memilih perlengkapan outdoor yang dibutuhkan. Seperti sepatu, matras, sleeping bag, tongkat, tas carrier atau tas gunung, hingga tenda. Setelah mendapatkan barang yang dibutuhkan, mereka lalu ke meja kasir untuk membayar uang sewa.
"Saya mau ke Bukit Anak Dara. Berangkat besok (hari ini, Red)," kata Arti Aulia, salah seorang penyewa.
Baca Juga: Pendakian Gunung Rinjani Dibuka, Sopir Sembalun Kembali Dapat Penghasilan
Gadis berkerudung yang berusia 19 tahun itu adalah mahasiswa Universitas Nahdlatul Wathan (UNW) Mataram. Sore itu ia datang bersama teman sekampusnya, Titi Damayanti, 19 tahun. Mereka punya tujuan yang sama. Yaitu menyewa peralatan outdoor untuk mendaki. "Kami sudah janjian berangkat besok (hari ini, Red). Makanya sekarang (kemarin, Red) kami sewa alat-alat dulu," timpal Titi Damayanti.
Arti Aulia dan Titi Damayanti mengaku sama-sama sebagai pendaki pemula. Keduanya baru sekali mendaki ke Bukit Pergasingan. Nah, keduanya akan menjajal Bukit Anak Dara. Dua bukit tersebut berada di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). "Capek sih. Tapi senang saja. Pemandangannya indah. Bagus banget buat foto dan konten," ujar Arti Aulia.
Mereka tidak menyangkal bahwa ketertarikan mendaki berawal dari media sosial. Sejumlah rekannya yang satu kampus atau mahasiswa dari perguruan tinggi lain kerap posting foto dan video di lokasi pendakian. Tidak jarang postingan itu viral dan menjadi FYP yang muncul di beranda.
Baca Juga: Pendakian Rinjani Dibuka, TNGR Perketat Sistem Zero Waste
"Mungkin jadi FOMO ya. Akhirnya saya mikir juga ingin ikut mendaki," tutur mahasiswi Jurusan Farmasi itu.
Dari sana ia mulai rajin update bagaimana kondisi medan di lokasi pendakian. Mulai dari trek yang akan dilalui hingga ketinggian bukit. "Kalau ke puncak Rinjani sih belum berani. Sekarang nyoba di bukit-bukit di sekitarnya dulu," ungkap Titi Damayanti lalu tertawa.
Hal serupa dituturkan Aini Lestari. Gadis 20 tahun yang kuliah di Universitas Mataram (Unram) itu mengaku awalnya hanya coba-coba dengan mengikuti tren mendaki gunung. Apalagi teman satu organisasi di kampus rata-rata suka mendaki gunung dan camping.
Merasa takut kehilangan tren, ia pun ikut. Dan ternyata saat ini ia merasa ketagihan untuk terus mendaki. "FOMO juga. Karena di postingan medsos itu kan bagus-bagus," ujar mahasiswi Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) FKIP Unram itu.
Yusril Ashfahani, pemilik toko penyewaan alat-alat outdoor Lake Outdoor mengatakan banyak pendaki pemula kini bermunculan. Ini juga ikut mendongkrak tingkat penyewaan perlengkapan alat-alat pendakian miliknya. "Sisi positifnya sebagai pelaku usaha, tentu senang ya," ujar Yusril.
Setiap akhir pekan, tokonya selalu diserbu konsumen para calon pendaki. Mereka menyewa berbagai peralatan outdoor. Mulai dari sepatu, matras, sleeping bag, tongkat, tas carrier atau tas gunung, tenda maupun head lamp.
"Kalau akhir pekan begini selalu ramai. Nah Sabtu sampai Minggu alat-alat sudah kosong karena disewa semua," tutur Yusril.
Kondisi itu tentu cukup menguntungkan dari sisi ekonomi. Tapi, ungkap dia, ada hal yang membuat prihatin. Yaitu terkait keamanan pendakian. Banyak pendaki muda yang hanya FOMO karena pengaruh di medos. Bahkan banyak di antaranya yang berlomba-lomba saling adu ketinggian MDPL (Meter di atas Permukaan Laut). Semua dilakukan demi konten bisa FYP alias viral.
"Jadi istilah pendaki FOMO ini sekarang sangat liar di medos. Sedikit-sedikkt adu MDPL. Dalam artian, mereka adu ketinggian pendakian agar bisa FYP," ungkapnya.
Fenomena ini terbilang kurang bagus. Sebab mereka belum tahu banyak kondisi medan. Juga bagaimana kondisi trek hingga pengaruh cuaca di ketinggian. Bahkan kondisi kekuatan fisik juga cendrung diabaikan. Ini sangat membahayakan keamanan dan keselamatan pendaki. "Dampak negatifnya tentu pada pendaki itu sendiri. Ada yang pingsan, ngeluh sakit, muntah-muntah. Sampai kejadian paling fatal adalah jatuh ke jurang hingga meninggal," pungkas pria 27 tahun yang sudah dua kali melibas event Sembalun Seven Summit itu. (UMAR WIRAHADI, Mataram /r3)
Editor : Redaksi