Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Keren Gak Harus Mahal, Bantu Kurangi Limbah dari Fashion

Harli Arl • Sabtu, 25 April 2026 | 10:44 WIB
Pengamat fashion, Roy Primanto (HARLI/LOMBOK POST)
Pengamat fashion, Roy Primanto (HARLI/LOMBOK POST)

LombokPost - Tren thrifting atau penggunaan pakaian bekas layak pakai terus menunjukkan perkembangan di tengah masyarakat. Selain menawarkan harga yang lebih terjangkau, konsep ini juga dinilai sejalan dengan gaya hidup berkelanjutan.

Pengamat fashion, Roy Primanto menilai fenomena thrifting bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Justru, menurutnya, tren ini membawa dampak positif terhadap pengurangan limbah fashion.

“Kalau dilihat dari visi sustainability, ini bagus. Barang bekas yang seharusnya jadi sampah bisa digunakan kembali,” kata Roy.

Baca Juga: Cerita Para Pemburu Thrifting di Thrift Shop Karang Sukun Mataram, Bisnis Thrifting Mulai Tersendat Sejak 2026

Ia menjelaskan, dalam praktiknya, pakaian thrifting tetap harus melalui proses pencucian dan perawatan ulang agar higienis serta aman digunakan. Dengan treatment yang tepat, pakaian bekas bisa tampil seperti baru dan tetap menarik secara visual.

Tren thrifting saat ini juga berkembang menjadi bagian dari gaya hidup. Tak hanya sekadar pilihan ekonomis, tetapi juga menjadi alternatif fashion yang tetap stylish. “Sekarang ini sudah jadi tren sendiri. Bujet rendah, tapi tetap bisa kelihatan keren,” tambahnya.

Di sisi lain, pasar thrifting memiliki variasi yang luas, mulai dari pakaian kasual hingga busana pesta. Untuk pakaian kasual, harga bisa sangat terjangkau, bahkan berkisar Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu dari harga awal yang jauh lebih tinggi. Sementara itu, untuk busana pesta, sistem persewaan juga kerap dimanfaatkan, dengan harga sewa yang mendekati harga beli.

Baca Juga: Keran Pakaian Bekas Impor Ditutup, Pemerintah Beri Solusi Bagi Pedagang Thrifting Untuk Jual Barang Ini

“Misalnya baju yang dijual Rp 3 juta, bisa disewa Rp 2,5 juta. Dipakai dua atau tiga kali, masih terlihat seperti baru,” jelas Roy.

Di Mataram sendiri, kawasan seperti Karang Sukun dikenal sebagai salah satu lokasi yang menawarkan berbagai pilihan pakaian thrifting, terutama untuk kebutuhan kasual seperti kaos dan busana sehari-hari.

Meski demikian, Roy mengakui keberadaan thrifting juga memunculkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap industri fashion baru. Namun, ia menilai keduanya memiliki segmen pasar masing-masing.

Baca Juga: WASPADA! Daftar Penyakit yang Bisa Menular Lewat Pakaian Bekas Dari Thrifting

“Tidak semua orang mau pakai barang bekas. Jadi tidak mematikan industri baru. Semua punya pangsa pasar sendiri,” tegasnya.

Ia juga menyoroti adanya faktor gengsi dalam penggunaan pakaian bekas. Bagi sebagian orang, thrifting masih dianggap kurang prestisius, meski secara ekonomi sangat menguntungkan. Di sisi lain, tidak sedikit pula konsumen yang justru berburu barang branded bekas dengan harga jauh lebih murah.

“Misalnya tas seharga Rp100 juta bisa dibeli Rp30 juta. Itu tetap diminati,” katanya.

Dengan berbagai kelebihan yang ditawarkan, thrifting dinilai memiliki peluang besar sebagai bisnis sekaligus solusi ekonomis bagi masyarakat. Namun, keseimbangan antara pasar barang baru dan bekas tetap menjadi kunci agar keduanya dapat berkembang secara sehat. (arl/r3)

Editor : Redaksi
#industri fashion #Thrifting #masyarakat #pakaian bekas #gaya hidup