GIRI MENANG-Jumlah kasus positif Korona di Lombok Barat (Lobar) terus meningkat. Angkanya saat ini mencapai 51 kasus. Namun, jumlah warga yang dinyatakan sembuh, jauh lebih besar.
Data terbaru (sampai siang ini kemarin, Red) pasien yang sembuh ditunjukkan Kepala Dinas Kesehatan Lobar Hj Ni Made Ambaryati kepada Lombok Post mencapai 28 orang. "Masih banyak hasil Swab yang belum diumumkan," ujarnya.
Sehingga angka ini memang kemungkinan masih bisa berubah. Namun dengan jumlah warga sembuh saat ini, tersisa tinggal 23 warga yang masih positif. Mereka dirawat di RSUD Tripat Gerung dan RSUD Awet Muda Narmada.
Tetapi saat ini ada kluster baru yang muncul di Lobar yaitu kluster Santri Temboro Kabupaten Magetan Provinsi Jawa Timur. Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Pencegahan Penanggulangan Penyakit dan Kesehatan Lingkungan (P3KL) Dikes Lobar H Ahmad Taufiq Fatoni.
Awal pekan lalu, pihaknya melakukan rapid test di daerah Batulayar. Ada enam santri yang diperiksa. Lima di antaranya dinyatakan reaktif. "Dan yang bisa saya bawa ke Sanggar Mutu untuk dikarantina baru tiga orang," jelasnya.
Sebagian besar orang tua santri Temboro ini orang tuanya menolak untuk dilaksanakan pemeriksaan. Ini menjadi tugas Dikes Lobar yang paling berat menurut Fatoni.
Dia mengatakan, jumlah santri Temboro di Batu Layar hampir 18 orang. Dan yang menjadi tantangan orang tua tidak bisa memberikan anaknya untuk melakukan rapid test.
"Dalam dua hari ini juga muncul kasus baru yang menjadi perhatian kita, kasus yang terjadi di BTN Mavilla Bajur Kecamatan Labuapi," akunya.
Menurut dia, pasien yang positif ini tidak pernah kemana-mana dalam artian pasien ini tidak pernah kontak dengan pasien positif. Mereka hanya diketahui menjemput istrinya yang kerja di RS Hepatika Mataram. Tetapi pasien ini diketahui juga rutin Salat berjamaah di masjid BTN Mavilla.
"Jangan-jangan pasien ini kena di jamaah Masjid BTN Mavilla. Kami sekarang lagi melaksanakan kontak tracing dengan jamaah masjid BTN Mavilla," terangnya.
Kemudian ada lagi muncul kasus yang ada di Taman Ayu. Pasien yang pertama kena ini pernah kontak dengan jamaah tabligh Gowa. Tetapi yang menjadi masalah jamaah Gowa ini baru salat di Masjid dan pasien yang kena ini sering salat berjamaah di Masjid.
"Tetapi yang kami khawatirkan sekarang adalah kalau dari kluster Gowa turunannya yang kita khawatirkan, termasuk kluster Temboro. Dan menjadi perhatian selanjutnya adalah Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang akan pulang," tuturnya.
Menyikapi perkembangan itu, Sekretaris Daerah Lobar Dr. Baehaqi mengatakan pekerjaan Tim Satgas Pencegahan Covid-19 untuk Kabupaten Lombok Barat sudah sangat maju baik itu Satgas Reaksi Cepat. "Namun saat ini agak sulit kita baca tren kerja keras kita ini dengan di lapangan," ucapnya.
Selama ini, jumlah warga yang di Rapid Test jumlahnya banyak tetapi yang positif sedikit. Namun santri Temboro yang dirapid test enam yang dites lima yang reaktif. "Artinya kita perlu menyelaraskan pekerjaan kita di hulu dengan yang di hilir, sehingga perlu ada ketegasan yang serius," ungkapnya.
Ia menjelaskan, dari hulu yang datang ini untuk melihat perkembangan dari kluster ini contoh kluster JT Gowa sudah selesai ditangani. Tetapi turunannya yang dikhawatirkan. Ada lagi kluster baru yang datang seperti kluster Temboro yang sulit dideteksi.
"Perilaku dari masyarakat kita justru hasil tracing gak mau dipanggil untuk di rapid tes. Kami minta baik itu untuk tim reaksi cepat maupun tim pencegahan untuk hulu kita berkolaborasi," pintanya. (ton/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online