H.Mawardi membuat restoran dengan cara tidak biasa. Jika biasanya bangunannya balai-balai, restoran tersebut berbentuk kapal.
HABIBUL ADNAN, GIRI MENANG
Agak aneh memang, ada pemandangan kapal ditambatkan di sebuah kolam. Tetapi begitulah adanya. Kapal tersebut sedang parkir layaknya di dermaga pelabuhan.
Tepatnya di jalan raya Kediri, yaitu Desa Montong Are, Kecamatan Kediri. Di sebuah kolam, ada kapal besar diparkir. Kok bisa? Kapal tersebut memang bukan digunakan untuk angkutan penyeberangan, melainkan sebuah restoran. Hanya bentuknya seperti kapal.
"Dulu saya punya kapal yang melayani penyeberangan ke Surabaya untuk angkut sapi. Saya dulunya pengusaha sapi," kata H Mawardi pemilik restoran.
Beberapa tahun kemudian, H Mawardi memutuskan berhenti jadi pengusaha sapi. Dia berhenti karena ingin mengurus orang tuanya yang mulai sakit-sakitan.
Pengalaman pernah punya kapal itulah yang menginspirasinya membuat restoran dengan gaya "melenceng". Bangunan itu mulai digarapnya pada tahun 1990. "Awalnya mau dijadikan rumah," tambah bapak empat anak dan sembilan cucu itu.
Setelah bangunannya selesai, H. Mawardi menjadikan kapal tersebut sebagai rumahnya. Dia tinggal di sana bersama anak dan istrinya. "Karena beberapa pertimbangan, akhirnya dijadikan restoran," katanya lagi.
Usaha restorannya berkembang pesat. Sebab, animo pengunjung sangat tinggi menikmati berbagai menu di dalam restoran kapal. Karena selalu ramai, H. Mawardi memperkerjakan banyak orang sebagai karyawan. Pada tahun 1997 saya punya karyawan sebanyak 80an," katanya.
Lama kelamaan, restorannya tidak seramai sebelumnya. Mungkin karena sudah banyak saingan di jenis usaha yang sama. Dari sinilah restoran tersebut tidak terlalu aktif buka. Kadang-kadang tutup. "Waktu MotoGP kemarin saya buka lagi, dan ternyata pengunjung cukup ramai," jelas pria yang juga akrab disapa Haji Keling itu.
Saat ini restoran kapal sedang tutup. H. Mawardi mengaku tengah melakukan pembenahan. Seperti memperbaharui cat. Rencananya akan buka lagi setelah Bulan Ramadan.
Mawardi menghabiskan dana cukup besar untuk membuat restorannya. Dia bahkan harus menjual sawahnya hingga satu hektare lebih. "Kalau biaya seluruhnya kurang tahu, tapi waktu itu semen masih harga Rp 1.800 satu sak," jelasnya.
Mawardi tidak merasa menyesal sedikitpun meski harus mengeluarkan biaya besar membangun kapal. Dia malah merasa puas karena mampu membuat bangunan seperti kapal. "Saya bisa melampiaskan unek-unek di situ," katanya.
Mawardi kini sudah tidak terlalu memikirkan urusan ekonomi. Sebab, empat anaknya sudah bekerja semua. Ada yang jadi perawat dan polisi. "Kalau sekarang mau menghabiskan waktu bersama cucu," tutup pria 60 tahun itu. (*/r3) Editor : Galih Mps