"Belum ada jawaban pasti dari pemerintah. Saya atas nama warga, berharap supaya memperhatikan kami di sini," kata Kepala Dusun Kekait Daye M Yusran.
Karena rumahnya belum diperbaiki, 27 kepala keluarga (KK) itu masih numpang di rumah kerabat maupun warga yang lain. Padahal, terangnya, warga sudah beberapa kali dijanjikan rumahnya segera dibangun. "Kunjungan ke sini dari pemerintah sudah tak terhitung, berapa kali," tambah Yusran.
Begitu juga dengan janji relokasi. Hingga saat ini belum ada kepastian. Yusran mengatakan, pemerintah sempat menjanjikan akan merelokasi warga di dusunnya ke tempat yang lebih aman dari ancaman bencana. "Katanya ada tanah milik pemda di Gunungsari, tapi sampai sekarang tidak ada kabarnya," ujarnya.
Dia menambahkan, belakangan warga sendiri yang diminta mencarikan lahan. Jika sudah ada lahan, Pemkab Lobar akan membiayai pembangunan rumah tersebut. "Masalahnya, kami tidak punya tanah," kata Yusran.
Terkait kondisi warga ini, dia berharap semua pihak lebih serius memberikan perhatian. Baik dari kalangan eksekutif, legislatif, maupun dermawan yang terketuk mengulurkan tangan. "Kondisi masyarakat saat ini memprihatinkan, ekonomi carut-marut pasca Covid-19," imbuhnya.
H Muhajirin, salah satu warga terdampak juga berharap demikian. Pria yang sehari-hari mencari gula aren itu mengatakan, selama ini warga hanya menerima janji-janji saja. "Tapi tidak ada buktinya. Kami sampai sekarang tidak punya rumah," ujarnya.
H Muhajirin bersama anak dan istrinya saat ini tinggal di rumah kontrakan, yang biaya kontrak rumah tersebut dibayarkan oleh seorang temannya. Kontrakannya hanya ditinggali pada malam hari, sedangkan siang hari dia istirihat di rumah gedek semi permanen dengan ukuran 4x3 meter.
Tempat tinggal dari triplek itu juga dibangunkan oleh temannya tersebut. "Di sini saya istirahat kalau sudah selesai kerja. Malam balik lagi ke rumah kontrakan. Saya berharap, pemerintah memperhatikan kami dengan serius," pungkas H Muhajirin. (cr-bib/r3)
Editor : Baiq Farida