Warga Dusun Tanah Poteq, Desa Giri Sasak, Kecamatan Kuripan merasa kebahagiaannya sudah lengkap. Bagiamana tidak, kekeringan yang melanda setiap musim kemarau, kini tidak lagi terjadi di dusun itu.
Proyek sumur bor di dusun tersebut sukses. "Airnya sudah keluar setelah dibor dengan kedalaman 50 meter," ujar Asri Wiraguna selaku Kepala Dusun Tanah Poteq.
Di dusun tersebut memang langganan kekeringan. Ketika musim kemarau, mereka kesulitan air bersih. Jangan untuk mandi, untuk memasak saja mereka harus berhemat air. Sumur-sumur berair.
Tetapi, kini mereka tak kesulitan air. Beberapa hari lalu, pengeboran sumur di dusun yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Lombok Tengah ini, membuahkan hasil. Airnya sudah keluar setelah pengeboran mencapai kedalaman 50 meter.
Ini yang membuat warga sangat riang. Karena itu, mereka langsung riuh ketika sumur bor mengeluarkan air. Asri mengaku bukan kali ini saja dilakukan pengeboran, tetapi sudah beberapa kali. Sayangnya, upaya pengeboran selalu gagal. "Kalau hanya 15-20 meter percuma," katanya.
Bahkan, dengan kedalaman di atas 50 meter juga pernah gagal. Dia mengaku, sekitar tahun 2008 lalu pernah ada pengeboran hingga 70 meter. Airnya keluar, tetapi warnanya kekuningan. "Itu yang saya khawatirkan waktu pengeboran kemarin. Alhamdulillah, airnya jernih," ujar Asri.
Dia memastikan, dengan adanya sumur bor tersebut, kebutuhan air warga akan tercukupi. Sebab, setelah diuji coba, air dari sumur bor tetap mengalir meski sudah dialiri ke beberapa rumah. "Sekarang kami sudah tidak butuh dikirimi air bersih," katanya lagi.
Munah, salah seorang warga mengatakan, kekeringan selama bertahun-tahun yang terjadi di dusunnya membuat masyarakat sengsara. Sebab, dia harus mencari air kemana-mana hanya untuk memasak. "Kita ambil air ke wilayah Lombok Tengah," katanya.
Sehingga tidak berlebihan jika warga kini merasa sangat bahagia. Munah mengatakan, air merupakan kebutuhan paling penting. "Kalau beras tidak ada masih bisa pinjam ke tetangga. Sementara kalau air tidak ada, mau pinjam kemana," ujarnya.
Munah mengatakan, reaksi warga berbeda-beda setelah air keluar dari sumur bor. Misalnya, ada yang mengaku merasa jadi orang kaya. "Ada yang bilang, tidak akan takut mandi tiga kali sehari. Kalau masih kesulitan air, kita takut mandi," tutupnya. (bib/r3)
Editor : Galih Mps