GIRI MENANG-Proyek Strategis Pembangunan Nasional (PSN) Bendungan Meninting ternyata menimbulkan krisis air bersih yang dialami warga di sekitarnya.
“Ketika air bersih tidak terpenuhi maka bisa dikatakan proyek tersebut tidak memenuhi hak asasi kaum perempuan. Itu juga menjadi hak semua warga,” kata Ketua Solidaritas Perempuan Mataram Nurul Utami yang ditemui di desa Kekeri, Senin (5/2).
Nurul mengatakan telah melakukan observasi bersama tim mengenai dampak pembangunan tersebut sejak 2021. Sangat miris, jika air keruh tersebut digunakan untuk membersihkan diri warga.
Terutama saat kaum perempuan mandi dalam kondisi menstruasi, bahkan melahirkan. Ini akan sangat berdampak untuk organ reproduksinya.
“Bayangkan kalau perempuan melahirkan di Polindes, itu untuk mencucinya pakai apa? Itu kan bagian dari pelanggaran hak asasi perempuan,” kata Nurul.
Di Dusun Ketapang, sebagai solusinya warga dibuatkan sumur bor yang terletak di ujung dusun. Sumur tersebut ternyata tidak berfungsi untuk memenuhi hajat hidup sekitar 700 Kepala Keluarga (KK).
“Ini kan menambah beban kerja perempuan, yang sudah dituntut untuk memenuhi kebutuhan pangan. Sekarang diminta memenuhi kebutuhan air untuk masak, nyuci, dan sebagainya,” terangnya.
Tidak hanya air, dalam hal ini kebutuhan ekonomi juga ikut terdampak oleh hadirnya pembangunan bendungan tersebut.
“Kalau memang dibawakan air pakai tangki juga tidak akan selesai sampai disitu. Karena program ini berkepanjangan. Jangan sampai terulang lagi-terulang lagi,” tegasnya.
Salah satu masyarakat Dusun Gegerung, desa sekitar, Yayuk Septiningsih mengatakan, air di rumahnya sudah keruh sejak 2019 lalu. Namun saat itu ia belum mengetahui penyebab dari kekeruhan tersebut.
“Dan kami tidak tahu sebabnya dan darimana datangnya air tersebut. Dan selama itu kami mandi menggunakan air keruh,” kata Yayuk saat ditemui.
Ketidaktahuan tersebut, diakuinya karena memang masyarakat perempuan saat itu tidak mendapatkan informasi mengenai akan adanya pembangunan proyek Bendungan Meninting.
Padahal sebagai warga yang dekat dengan lokasi pembangunan, dan juga terdampak imbas proyek tersebut, ia merasa berhak untuk dilibatkan dalam musyawarah bersama masyarakat dan pihak terkait.
“Kami baru sadar kalau itu dampak dari proyek pembangunan bendungan setelah didampingi Solidaritas Perempuan pada 2021. Kami merasakan dampak namun tidak tahu harus melapor kemana,” terangnya.
Proyek skala nasional ini juga berefek pada kesejahteraan warga. Mereka yang dulunya 90 persen bekerja sebagai perajin sapu ijuk sekarang tersisa hanya 20 persen.
Kondisi ini disebabkan bahan bakunya dari hutan sudah sangat sedikit pasca dialihfungsikan sebagai lokasi pembangunan bendungan tersebut.
Harga bahan baku kerajinan ijuk yang naik berbanding terbalik dengan harga jual yang relatif sangat murah sehingga masyarakat mencari cara agar tetap bekerja dengan beralih profesi.
“Ada yang memilih untuk menjadi buruh migran ke luar negeri, dan ada yang menjadi pedagang,” jelasnya.
Pada 2020 pun, setahun setelah air menjadi keruh, warga pernah mengalami gagal panen dua kali.
“Sebenarnya kamu tidak masalah dibangunkan bendungan, tapi tolong jangan merugikan kami masyatakat terutama perempuan,” mohonnya.
Kemudian dari sisi kesehatan akibat air keruh banyak warga mengalami gatal-gatal.
Bahkan ada yang sampai pergi ke puskesmas karena sudah parah dan infeksi.
Namun hal tersebut, tidak pernah tersorot selama ini karena hanya diceritakan dari mulut ke mulut masyarakat di sekitar.
Warga diberikan solusi dengan kompensasi sumur bor, tetapi tidak berjalan. Karena debit air yang tidak mencukupi untuk mengairi kebutuhan satu dusun.
Pengairan diusulkan untuk menggunakan selang, namun dari desa sendiri belum memilki dana untuk itu.
Ditambah lagi, air pada saluran warga sering tersumbat. Bukan hanya lumpur dan tanah yang ikut hanyut dalam galian proyek tersebut, tapi juga sampah yang terkeruk dalam galian proyek kemudian masuk ke dalam pipa saluran air warga.
“Itulah yang membuat air tersumbat. Pernah air tidak datang selama satu minggu,” keluhnya.
Salah satu Ibu Rumah Tangga (IRT) dari Dusun Dasan Griya Muslimah juga mengatakan dulu airnya bersih. Ia dengan leluasa bisa memasak, mencuci, dan mandi kapan saja.
Namun sekarang, ia tidak bisa melakukan hal tersebut karena pada jam tertentu air yang mengalir sudah mulai keruh.
“Sekarang jadinya kalau mau nyuci siang tidak bisa, karena airnya mulai keruh. Jadi nyuci harus mungkin dari jam 1 malem sampai subuh. Air untuk masak juga sekarang kita beli air bersih. Itu kan butuh uang lagi,” keluhnya. (chi/r3)
Editor : Kimda Farida