LombokPost-Perayaan tradisi lebaran topat tahun ini dipusatkan di Pantai Tanjung Bias, Batu Layar.
Tradisi yang setiap tahun digelar ini diharapkan bisa masuk Kharisma Event Nusantara (KEN) tahun selanjutnya.
Setelah tahun ini, lebaran topat tidak lolos kurasi menjadi KEN bersama dengan Senggigi Sunset Jazz.
”Untuk Dispar NTB semoga kita bisa berkolaborasi untuk menjadikan agenda ini masuk dalam KEN dalam tahun berikutnya,” ujar Kadispar Lobar Agus Gunawan.
Agus menjelaskan perayaan tradisi lebaran topat tahun ini lebih spesial karena bertepatan dengan ulang tahun Lobar yang ke-66 tahun.
Biasanya, kegiatan lebaran topat full diinisiasi Pemkab Lobar dan OPD. Namun kali ini, masyarakat mengambil peran lebih banyak dalam kegiatan ini.
”Sekarang kita usahakan dari, oleh, dan untuk masyarakat,” katanya.
Tradisi lebaran topat yang dipusatkan di Pantai Tanjung Bias Senteluk, Batu Layar ini diikuti semua desa yang ada disana.
Ada 12 desa yang turut berpartisipasi mengarak ketupat dari masing-masing desanya.
”Malah lebih meriah mereka dari dinas, topatnya lebih tinggi,” terangnya.
Perayaan ini juga biasanya turut hadir wisatawan mancanegara (wisman) sebagai salah satu langkah promosi budaya Lobar.
Namun pada perayaan tahun ini hanya terlihat tidak lebih dari 10 wisman yang hadir.
Agus menyebut, pihaknya sudah mengundang wisman tetapi kemungkinan banyak yang berhalangan hadir.
”Kedepan kita ingin mengedepankan asosiasi ini untuk ikut hadir dalam partisipasi ini,” cetusnya.
Kedepannya, Dispar berencana untuk memperluas konsep kegiatan lebaran topat. Karena masing-masing daerah di Lobar mempunyai narasi sejarahnya tersendiri.
Contohnya seperti Pantai Cemara Lembar, Kuranji Labuapi, Narmada, dan Lingsar.
”Hal itu bisa dilakukan melalui konsep desa wisata, semua akan merayakan. Makin semaraklah lebaran topat ini,” tuturnya.
Lebih lanjut, Agus mengatakan ada dua makna yang terdapat dalam perayaan lebaran topat yakni religi dan budaya. Pertama makna religi yang dilakukan dengan mengambil air dari lingkoq mas.
Setelah itu dzikiran di makam batu layar.
Kemudian makna budaya yakni kegiatan yang dapat menjadi kegiatan masyarakat berkumpul tiap tahunnya dengan menu makanan khas ketupat.
”Khusus agenda kali ini maknanya membangun silaturrahim antar desa, komunitas dan stakeholder pariwisata yang ada di Lobar,” jelasnya.
Sementara itu, wisman asal Maroko Muhammad mengatakan dirinya takjub dengan budaya yang ada dalam perang topat ini. Melihat makanan yang berbentuk unik dengan rasa yang menarik.
Muhammad mengaku baru pertama kali mengikuti kegiatan lebaran topat ini.
”Iya ini kali pertama saya melihat budaya ini, seru sekali,” katanya dalam bahasa Inggris. (chi/r12)
Editor : Kimda Farida