LombokPost-Perkumpulan Nusa Biodiversitas Indonesia (NBDI) melatih 30 perempuan pesisir di Desa Meninting dan Desa Senteluk, Kecamatan Batulayar.
Para peserta yang sebelumnya dipilih secara selektif ini akan dibekali keterampilan mengolah ikan menjadi produk yang memiliki nilai jual.
Kegiatan pemberdayaan masyarakat NBDI tersebut bekerja sama dengan Head of Embassy Fund (HEF) New Zealand di tahun 2024. Nama programnya adalah Role of Coastal Women in Climate Change Adaptation (RoCWCCA).
“Program ini bertujuan melakukan pendampingan dan penguatan terhadap kelompok perempuan pesisir dalam mengembangkan mata pencaharian alternatif sebagai upaya adaptasi perubahan iklim,” jelas Ketua NBDI Budiman ditemui di sela-sela Launching Program RoCWCCA di Hotel Montana, Senggigi, Sabtu (13/7).
Menurutnya, kelompok perempuan pesisir masuk dalam kategori rentan terhadap perubahan iklim.
NBDI ingin peran para istri nelayan ini dioptimalkan untuk memperkuat mata pencaharian tidak hanya berfokus pada penangkapan ikan yang dijual ke pasar.
Mereka diharapkan setelah mendapat pendampingan dan pelatihan mampu memproduksi olahan ikan yang memiliki legalitas usaha sehingga bisa berkompetisi dengan dunia usaha lain.
Peserta di program ini juga dibekali pelatihan mengemas produk yang menarik, penguatan manajemen dan keuangan kelompok serta pendampingan pengurusan legalitas produk.
Diharapkan ke depan para peserta memiliki alternatif mata pencaharian yang bisa dikelola dari rumah.
“Kami sudah mengidentifikasi, potensinya ada bahwa di sekitar tempat mereka tinggal ada industri pariwisata seperti pusat oleh-oleh yang produk olahan ikannya masih dipasok dari luar,” katanya.
Berbekal identifikasi tersebut, Meninting dan Senteluk dipilih sebagai lokasi program karena wilayah ini merupakan pusat kawasan pariwisata Senggigi.
Modal ini diharapkan bisa dibaca dan dimaksimalkan para perempuan pesisir setempat difasilitasi NBDI untuk menciptakan produk olahan ikan bernilai ekonomi tinggi.
Pelatihan akan diberikan selama tiga bulan yang dilanjutkan pendampingan selama setahun.
Diharapkan pemda setempat bisa melanjutkan program ini dengan memberi pembinaan ke para peserta agar ke depan bisa mandiri dengan usahanya.
“Program RoCWCCA ini merupakan rintisan dari program inspirasi namanya Indonesia Young Leaders Program New Zealand yang kebetulan saya salah satu penerima beasiswa tersebut,” ujarnya.
Program Inspirasi ini ditindaklanjuti Budi dengan melakukan proyek aksi dengan membina kelompok-kelompok kecil.
Upaya ini kemudian mampu membuat pihak New Zealand tertarik mendukung program yang dijalankan Budi dan kawan-kawan agar lebih besar dan luas.
Budi menambahkan, NBDI sebenarnya telah melaksanakan berbagai macam aksi pemberdayaan dan pelestarian lingkungan sesuai dengan tujuan lembaga yaitu sustainability atau keberlanjutan.
Mereka tidak hanya berupaya memperbaiki lingkungan yang sudah rusak namun juga fokus pada aspek pemberdayaan masyarakat sekitar. (ida/r11)
Editor : Kimda Farida