LombokPost--Banjir rob menjadi musibah langganan tiap tahun bagi warga pesisir Pantai Induk, Desa Taman Ayu, Gerung Lombok Barat (Lobar).
Abrasi tersebut ternyata tidak hanya dipicu faktor alam, namun diduga juga sebagai akibat dari aktivitas penyedotan pasir yang dilakukan PLTU Jeranjang.
“Kalau menurut logika masyarakat, parahnya abrasi itu akibat dari penyedotan pasir yang ada di PLTU,” kata Kepala Desa Taman Ayu, M.Tajudin kepada Lombok Post, Selasa (20/8).
Penyedotan pasir tersebut menurutnya berdampak pada pengikisan bibir pantai.
Kemudian menyebabkan air laut semalin menjorok ke daratan. Bahkan saat ini pun, bukan hanya pantai saja tetapi juga tanah warga mulai terkikis.
Selain itu, pengangkutan batu bara yang dilakukan PLTU juga mengakibatkan abrasi dan kerusakan jalan.
“Jadi dua-dua nya rusak ini, pantai abrasi dan jalan juga rusak,” jelasnya.
Banjir rob sudah dua hari menggenang di pemukiman warga yang ada di pesisir Pantai Induk. Meski kondisi saat ini sudah mulai surut, namun yang dikhawatirkan warga adalah kembali pasangnya gelombang pada cuaca yang tidak menentu seperti sekarang.
“Biasanya itu kan Desember-Januari. Tapi ini kan cuaca tidak menentu, baru sekarang ini di Agustus naik. Biasanya kita siap-siap itu Desember,” ucapnya.
Ada satu RT yang terdampak banjir rob dengan sekitar 50 rumah warga yang terendam. Meski di sepanjang pantai telah dibuatkan groin sebagai pemecah ombaknya, tapi saat ini sudah berserakan dan tidak berfungsi.
“Dulu memang kita minta break-water (pemecah gelombang, Red), tapi saya tidak tahu apa pertimbangan PLN membangun groin,” tambahnya.
Imbas dari bencana ini, dikatakan Tajudin, warga yang sebagian besar menjadi nelayan tersebut terancam tak bisa melaut.
Sesuai dengan prediksi BMKG, gelombang tinggi akan terjadi selama tiga hari ini.
Selain itu, Pemerintah Desa (Pemdes) juga kesulitan untuk melakukan pengembangan wisata. Tambatan perahu nelayan juga sudah tidak bisa lagi dilakukan di pesisir pantai.
“Mereka kan sekarang taruhnya di tanah orang, bukan lagi di pesisir pantai. Karena pantainya sudah habis, jadi terpaksa mereka taruh di tanah orang,” imbuhnya.
Diakui kades, pada 2024 ini sudah dua kali warga pesisir Pantai Induk dilanda banjir rob.
Setelah pada sekitar Juni lalu banjir rob datang yang kemudian djanjikan Pemda Lobar untuk dibuatkan alat pemecah gelombang.
Beberapa keluhan tersebut diharapkannya dapat diatensi pihak PLTU dengan pembangunan break-water.
“Butuh pemecah gelombang, tidak bisa pake groin itu,” tandasnya.
Sebelumnya, salah seorang warga Muhammad Izhar mengatakan, air laut mulai naik dan menggenangi rumah-rumah warga pada Senin (19/8) pagi sekitar pukul 09.40 Wita.
Bahkan, tingginya sempat mencapai betis orang dewasa. Namun perlahan mulai surut.
"Tadi pagi, pas jam 9.40 Wita, sampai betis dan airnya sampai ke rabat jalan dekat rumah warga," kata Izhar.
Air rob juga sempat merendam kurang lebih lima unit kendaraan masyarakat yang terparkir.
Bahkan, beberapa nelayan terpaksa batal melaut. Karena kata dia, biasanya banjir rob terjadi 5 sampai 7 hari.
"Tadi posisi ada sekitar 3 orang nelayan mau naikkan perahu pada saat sebelum gelombang tinggi," imbuhnya.
Kawasan itu diakuinya memang menjadi langganan banjir rob yang terjadi setiap tahun, pada saat musim gelombang tinggi.
Terlebih abrasi yang kian parah juga menyebabkan kondisi kian mengkhawatirkan bagi masyarakat pesisir Pantai Induk, Gerung.
"Tiap tahun terjadi, karena memang pantai Induk sekarang sudah terkena abrasi. Sehingga bibir pantai dengan rumah warga semakin dekat," ungkapnya.
Bahkan ketika gelombang sedikit lebih tinggi dari biasanya pun, disebutnya pasti akan menyebabkan banjir rob hingga menggenangi rumah warga.
Mereka berharap, pemda maupun pihak terkait lainnya bisa membantu membangun pemecah gelombang, di pesisir pantai Induk. Sebagai upaya untuk dapat membantu mengurangi abrasi.
Sebelumnya, di kawasan itu dulunya pernah dibuatkan groin. Namun groin tersebut diakuinya tidak dapat bekerja maksimal untuk mengurangi abrasi yang terjadi di sana.
"Malah di beberapa titik, beton groinnya sudah hilang diterjang gelombang. Ini juga dikhawatirkan bisa membayahakan para nelayan. Karena groin beton yang dulu disusun entah di mana posisinya," tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Lobar Hartono Ahmad membenarkan kawasan Pantai Induk kerap disambangi banjir rob, yang terjadi setiap tahun. Bahkan dalam setahun, kawasan itu bisa dua kali diterjang banjir rob.
"Pada saat air pasang dan angin kencang biasanya terjadi rob. Ini terjadi dua kali setahun, dan pasti terjadi di tempat tersebut," paparnya.
Namun, pihaknya memprediksi banjir rob hanya akan berlangsung selama 2 hingga 3 hari ke depan. Pihaknya saat ini akan berkoordinasi dengan dinas terkait seperti PU-TR dan PLN Jeranjang untuk membantu mengupayakan pembangunan pemecah gelombang. Lantaran di BPBD sendiri, saat ini diakuinya tak ada anggaran untuk hal tersebut.
"Kita akan kontak Dinas terkait dan PLN Jeranjang. Karena di BPBD tidak ada anggaran, mungkin di Dinas yang lain ada," tandasnya. (chi/r13)
Editor : Kimda Farida