Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Penggiat Wisata Kenalkan Pengolahan Sampah Organik Menjadi Sabun Eco-enzyme 

nur cahaya • Sabtu, 31 Agustus 2024 | 17:25 WIB
Masyarakat Lembar mendapatkan cara Pengolahan Sampah Organik Menjadi Sabun Eco-enzyme.
Masyarakat Lembar mendapatkan cara Pengolahan Sampah Organik Menjadi Sabun Eco-enzyme.

LombokPost--Penggiat wisata bersama Dosen Program Studi Ilmu Lingkungan Unram mendampingi masyarakat melakukan pengolahan sampah organik menjadi sabun eco-enzyme pada Kawasan Ekowisata Lembar Selatan. 

Desa Lembar Selatan merupakan wilayah bagian selatan melalui jalur laut yang memiliki kawasan pelabuhan laut dan berdampingan dengan pelabuhan internasional Gili Mas Lembar.

"Sehingga desa ini menjadi penyangga KEK Mandalika," kata Dosen Program Studi Ilmu Lingkungan Unram Ernawati.

Lembar Selatan memiliki kawasan wisata yang disebut Ekowisata Lembar Selatan (ELS).

Potensi Ekowisata Lembar Selatan (ELS) terdiri dari kawasan wisata alam dan wisata buatan yang unik yang tidak didapatkan di kawasan wisata lain.

ELS terbagi menjadi tiga objek daya tarik wisata yaitu kawasan Pesisir Pantai Cemare, Maqam Keramat dan Hutan Mangrove.

ELS dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Lembar Selatan yang dipelopori kelompok pemuda penggiat wisata.

Jumlah pengunjung dan aktivitas wisata yang terus meningkat akan menimbulkan konsekuensi pertambahan timbulan sampah wisata yang signifikan.

Timbulan sampah wisata yang terus meningkat perlu dikelola agar tidakmenimbulkan dampak negatif pada lingkungan dan kesehatan manusia.

"Sampah wisata yang dihasilkan di Kawasan ELS salah satunya adalah sampah organik dari sisa makanan dan dedaunan," tambahnya.

Dalam meminimalkan dampak negatif sampah organik, dosen Program Studi Ilmu Lingkungan melaksanakan pendampingan pengolahan sampah organik menjadi ecoenzym.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi penggiat wisata Kawasan ELS dalam pengolahan sampah organik dan meningkatkan motivasi untuk melakukan upaya daur ulang sampah organik.

Agenda pendampingan dilakukan dengan penyampaian materi pengolahan sampah organik.

Ernawati mengatakan, pengolahan sampah organik di kawasan wisata perlu perhatian serius, karena karakteristik sampah organik yang mudah membusuk dan menimbulkan bau tidak sedap.

Hal ini dikhawatirkan akan mengganggu keberlangsungan aktivitas wisata yang dilakukan pengunjung dan merusak objek daya tarik wisata dan sumberdaya alam.

Salah satu sumber sampah organik di ELS adalah sisa makanan dari pedagang di kawasan ELS.

Pengolahan sampah organik menjadi eco-enzyme merupakan pengolahan sederhana yang dapat dilakukan oleh Ibu-Ibu pedagang UMKM di tempat berdagang maupun di rumah.

Eco-enzyme dapat dibuat dari bahan yang mudah ditemukan dan harga yang terjangkau.

Bahan baku pembuatan Eco-enzyme terdiri dari sisa sayur dan buah seperti kulit wortel, kulit terong, kulit jeruk dan lainnya, dengan tambahan gula merah/molase dan air.

"Salah satu manfaat Eco-enzyme yaitu sebagai pembersih," tuturnya.

Produk turunan eco-enzyme yaitu sabun Eco-enzyme yang sangat bermanfaat sebagai produk substitusi sabun pencuci piring, detergen, dan sabun pencuci tangan.

Sabun produk substitusi ini memiliki dampak positif menghemat pembelian sabun yang berimplikasi pada pengurangan belanja bulanan.

Dampak positif yang lebih luas dapat mengurangi timbulan sampah organik. Sehingga tidak menimbulkan bahaya bagi lingkungn dan kesehatan manusia.

"Kawasan ELS yang terjaga dapat meningkatkan kualitas jasa ekosistem yang mendapat meningkatkan kunjungan wisatawan," kata dia. (nur)

Editor : Kimda Farida
#ekowisata #potensi #Lobar #Lembar