LombokPost-Prediksi cuaca kemarau ekstrem tampaknya akan terjadi hingga awal Oktober ini.
Akibat kemarau berkepanjangan, belasan desa di Lombok Barat (Lobar) nyaris mengalami krisis air.
Tak hanya itu, warga sudah mulai merasakan kerugian akibat gagal memanen padi.
”Sudah tidak ada harapan. Sungai sudah kering,” kata Kepala Desa Giri Sasak Hamdani, Senin (30/9).
Hamdani menjelaskan luas lahan sawah yang terdampak kekeringan sekitar 225 hektare dengan kemungkinan perkiraan hasil panen satu hektare sawah mencapai 5 ton padi.
Dengan harga gabah kering giling (GKG) Rp 8 juta per ton.
”Sekitar satu miliar kalau dihitung kasar kerugiannya,” terangnya.
Menurut Hamdani, pada musim kering biasanya petani menanam tanaman pengganti padi. Seperti palawija, kacang panjang, kedelai, dan lain-lain.
Namun kondisi saat ini, 75 persen warga petani yang terdampak sudah tidak memungkinkan lagi untuk melakukan penanaman.
Kondisi ini membuat ketersediaan pangan masyarakat juga berkurang.
Pihak desa dengan sudah berupaya melakukan permohonan kepada dinas terkait untuk bantuan tambahan beras dan supplai air.
”Kalau tidak cepat diatasi ini kasihan masyarakat. Sumur saja sudah tidak ada harapan. Bahkan untuk minum kita beli air galon,” jelasnya.
Baca Juga: Sepi Dikunjungi Wisatawan, Gili Tramena Tak Rasakan Dampak Kemeriahan MotoGP
Selain itu, pihaknya juga membutuhkan bantuan tandon untuk penampungan air.
Untuk menampung air kebutuhan tujuh dusun dengan 1.600 kepala keluarga yang terdampak kekeringan.
Khususnya desa ini berada pada dataran tinggi pada wilayah tadah hujan. Sehingga membutuhkan solusi jangka panjang, yang tidak dilakukan hanya pada musim kemarau saja. Seperti pembuatan sumur bor untuk tiap dusun ini.
Dirinya mengaku sudah dijanjikan sumur bor sejak lima tahun lalu.
Saat ini, hanya satu dusun yang memiliki sumur bor. Yakni di Dusun Tanah Poteq.
Dengan adanya sumur bor bantuan dari Kemensos melalui Polda NTB itu, kebutuhan air warga akan tercukupi. Warga Dusun Tanah Poteq tidak lagi membutuhkan distribusi air. Jika aliran air tetap lancar.
Hal serupa terjadi di Desa Banyu Urip, Gerung. Kepala Desa Banyu Urip M Selamat Riadi mengatakan ada empat dusun dengan 2.500 kepala keluarga yang terdampak desa tersebut.
”Setiap hari disuplai air,” kata Riadi.
Begitupula dengan kondisi pertanian yang terdampak kekeringan sekitar 300 hektare lahan sawah sudah tidak dapat tertolong.
Sehingga ada beberapa petani yang memilih untuk menanam tumbuhan lain, dan sisanya mangkrak.
”Kita utamakan untuk sehari-hari dulu. Karena pertanian sudah sia sia,” ucapnya.
Riadi mengaku sudah mengusulkan untuk pembuatan sumur bor yang ada di empat dusun terdampak. Usulan dilakukan sejak tahun lalu, bahkan tahun ini akan dilakukan kembali.
Karena hingga saat ini, belum ada sumur bor di wilayah tersebut. (chi/r12)
Editor : Kimda Farida