LombokPost---Solusi kesulitan air yang terjadi belasan tahun di Desa Gili Gede Indah, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat (Lobar) tak kunjung tertangani.
Hal tersebut menjadi perhatian serius kalangan DPRD Lobar yang kemudian diusulkan untuk pembuatan akses air bersih di pulau tersebut pada pembahasan APBD 2025.
”Sudah kita rancang di 2025 dan kita upayakan melalui DAK dalam postur APBD 2025 dan kita sedang perjuangkan. Mudahan tidak berubah,” kata Wakil Ketua II DPRD Lobar Abubakar Abdullah, saat ditemui di ruangannya.
Abu menjelaskan permasalahan akses air bersih di pulau itu sudah lama disuarakan. Sejak sebelum menjadi Anggota DPRD sampai sekarang.
Bahkan dirinya sudah menganggarkan pembuatan sumur gali dari dana pokok pikiran (pokir).
Namun dari sejumlah sumur yang dibuat, hanya satu yang memiliki sumber air. Sedangkan sisanya tidak memiliki sumber air.
”Itupun hanya bisa memenuhui kebutuhan satu atau dua dusun,” terangnya.
Selain sumur, warga setempat juga terpaksa menyeberang ke Sekotong membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi itu yang selalu membuat dirinya prihatin. Sebab terdapat sekitar 1.500 jiwa yang mendiami pulau itu terdampak kesulitan air bersih.
DPRD Lobar mencoba mengusulkan rencana pembuatan akses air melalui anggaran Dana alokasi Khusus (DAK) untuk 2025. Kajian dan pembahasan awal rencana usulan melalui DAK sudah dilakukan dirinya dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Lobar.
”Agar kebutuhan dasar masyarakat untuk air bersih bisa terpenuhui,” jelas politisi asal Gili Gede itu.
Abu memastikan nantinya legalitas akses air bersih yang akan dibangun sudah sesuai dengan ketentuan.
Sebab bekaca dari kasus yang terjadi di kawasan Gili Trawangan KLU terjadi juga di Gili Gede.
”Kita sempat komunikasikan dengan Dinas PU dan kades, hal-hal yang berkaitan dengan legalitas itu harus segera kita rapikan. Supaya orang yang berinvestasi di Gili Gede itu merasa aman dan nyaman,” jelasnya.
Selain itu, lahan yang akan digunakan untuk program air bersih itu akan dipastikan aman lebih dulu. Terutama kepemilikan lahan itu. Sehingga mencegah celah munculnya masalah hukum dikemudian hari.
”Ini tentu membantu masyarakat dan membuat potensi investasi pariwisata berkembang di kawasan itu,” pungkasnya.
Terpisah, Kepala Desa Gili Gede Indah Awaludin menjelaskan kekeringan ini telah menjadi bagian dari tantangan yang dihadapi masyarakat setiap tahun.
Warga Gili Gede sangat kesulitan mendapatkan air bersih.
Masyarakat terpaksa membeli air dari pengusaha di pulau seberang dengan harga yang cukup mahal.
”Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga Gili Gede terpaksa membeli air dari pengusaha air bersih yang mengambil air dari daratan utama. Satu kali pengiriman, biasanya sekitar 5 ribu liter dengan harga yang cukup mahal,” kata Awal.
Awaludin berharap pemerintah daerah dapat segera mencari solusi untuk mengatasi masalah kekeringan di Gili Gede. Pembangunan infrastruktur air bersih yang memadai sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
”Kami sangat berharap pemerintah daerah dapat segera merealisasikan rencana pembangunan sistem penyediaan air bersih untuk Gili Gede. Ini adalah kebutuhan dasar masyarakat yang tidak bisa ditunda-tunda lagi,” tandasnya. (chi/r12)
Editor : Kimda Farida