LombokPost-BPBD Lobar memberi perhatian serius terhadap operasional wisata alam selama musim hujan.
Khususnya tempat wisata yang berdekatan dengan sungai dan air terjun. Sehingga musim hujan seperti saat ini rawan terjadi bencana banjir bandang, tanah longsor hingga pohon tumbang.
Salah satu contonya adalah objek wisata air Sesaot. Air sungai yang awalnya jernih tiba-tiba berubah menjadi keruh, Senin lalu (6/1).
Debit air lebih besar dan deras.
Aliran sungai pun menghanyutkan banyak batang pohon dan sampah.
”Setiap kali hujan pasti begini. Ini kiriman dari hulu,” kata Mahsun, pengelola wisata air Sesaot.
Ketika air sungai berubah keruh, pengelola pun bertindak cekatan.
Para pengunjung yang sedang mandi langsung diminta mentas.
Hal itu untuk mengindari insiden yang tidak diinginkan. Seperti terseret air atau terkena potongan batang pohon yang hanyut.
”Ini memang SOP kami. Kalau air sudah keruh kami minta pengunjung tidak berenang,” tuturnya.
Satu kawasan dengan wisata air Sesaot, tempat pemandian Bunut Ngengkang juga ramai pengunjung. Khususnya ketika weekend.
Para orangtua mengajak serta anak-anaknya untuk berenang. Pengelola wisata itu pun menerapkan pengamanan ketat ke pengunjung.
”Khususnya anak-anak. Kami awasi dengan ketat,” kata Hamdi, pengelola wisata air Bunut Ngengkang.
Kepala BPBD Lobar Sabidin tidak menampik jumlah wisatawan tetap ramai saat musim hujan seperti sekarang.
Padahal bahaya berupa bencana alam rawan mengintai.
”Kami kan tidak bisa melarang orang untuk berwisata. Tapi kami minta ekstra hati-hati dan waspada,” ujarnya.
Sejauh ini memang belum ada laporan wisatawan hanyut atau tertimpa longsor.
Tapi masyarakat harus tetap waspada saat berada di lokasi wisata air. Khususnya hujan lebat dengan intensitas yang berlangsung lama.
Selain membatasi jarak pandang, kondisi itu rentan menimbulkan potensi banjir bandang, longsor hingga pohon tumbang.
Apalagi di tempat wisata dengan kontur berbukit dan tanah yang labil.
”Jika hujan terus menerus kami minta wisatawan segera keluar dari lokasi wisata dan mencari tempat yang lebih aman,” paparnya.
BPBD juga meminta pengelola tempat wisata untuk melakukan langkah mitigasi bencana. Seperti menyiagakan satgas keamanan internal.
Mereka harus stand by mengawasi aktivitas wisatawan. Terutama anak-anak.
Tempat wisata juga wajib dilengkapi papan petunjuk kondisi rawan bencana.
”Kadang kan wisatawan tidak sadar. Dalam kondisi hujan begini,” tandasnya. (mar/r12)
Editor : Kimda Farida