Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Syamsul Khair Atlet Tenis Meja Difabel asal Lombok Barat, Targetkan Emas Peparnas 2028 Usai Raih Perak

Umar Wirahadi • Rabu, 15 Januari 2025 | 16:21 WIB

  

HARUMKAN DAERAH: Syamsul Khair membentangkan bendera pataka NTB saat meraih medali perak di Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XVII Solo, Jawa Tengah 2024 lalu.
HARUMKAN DAERAH: Syamsul Khair membentangkan bendera pataka NTB saat meraih medali perak di Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XVII Solo, Jawa Tengah 2024 lalu.

LombokPost--Syamsul Khair menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik bukan kendala utama untuk berprestasi.

Pria penyandang disabilitas tunadaksa itu tercatat sebagai atlet tenis meja asal Dasan Tapen, Kecamatan Gerung, Lombok Barat.

Belum puas meraih medali perak di Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XVII Solo, Jawa Tengah 2024 lalu, kini dia menatap medali emas di ajang Peparnas XVIII yang rencananya berlangsung di NTB dan NTT pada 2028 mendatang.

--------------------

Smash keras dan cepat dilepaskan Syamsul Khair dengan tangan kirinya.

Pukulan itu tidak mampu dibendung oleh pemain lawan.

Selama pertandingan singkat itu, terhitung lima kali dia melesakkan bola pingpong yang semuanya  menjadi poin.

”Itu hanya latihan. Saya tadi memeragakan bagaimana teknik smash yang efektif,” kata Syamsul. 

Saat itu dia sedang melatih sejumlah alumni Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di kompleks perumahan BTN Puri Pagutan Indah, Mataram.

Yang istimewa, beberapa muridnya adalah pejabat di lingkungan Pemkot Mataram, Pemkab Lombok Barat dan Pemkab Lombok Utara.

”Awal melatih dulu ada rasa canggung. Karena yang dilatih banyak pejabatnya. Tapi sekarang sih sudah biasa,” ujar Syamsul lalu tertawa.

Syamsul Khair adalah atlet difabel asal Desa Dasan Tapen, Kecamatan Gerung, Lobar.

Saat ini pria penyandang tunadaksa itu tercatat sebagai atlet tenis meja di National Paralympic Committee (NPC) NTB.

Dia termasuk salah satu pahlawan NTB dalam Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XVII Solo, Jawa Tengah 2024 lalu.

Dalam event nasional itu, Syamsul yang turun di cabang olahraga (cabor) tenis meja berhasil menyumbangkan medali perak.

Syamsul meraih medali perak kategori tunadaksa atau TT10.

Sampai pertandingan terakhir saat itu, kontingen NTB berhasil membawa pulang lima medali.

Terdiri dari dua medali emas, satu medali perak, dan dua medali perunggu.

”Alhamdulillah saya bisa mengharumkan nama NTB dengan menyumbang medali perak,” tuturnya.

Pria kelahiran 9 Maret 1985 itu tidak puas dengan pencapaian itu.

Kini dia sudah bersiap lagi menatap Peparnas XVIII yang rencananya akan berlangsung di NTB dan NTT pada 2028 mendatang. Targetnya meraih medali emas.

”Mudah-mudahan kita positif jadi tuan rumah. Ini semakin menguatkan rasa percaya diri untuk meraih target emas,” ungkapnya.

Syamsul Khair adalah atlet yang istimewa.

Dia mengalami folio sejak lahir. Kondisi ini membuat kaki kanannya tidak tumbuh dengan sempurna. Sampai sekarang dia tidak bisa dengan berjalan tegak.

”Saya kalau jalan agak pincang. Karena kaki kiri lebih kecil dan lebih pendek dari kaki kanan,” tuturnya.

Baca Juga: Pemprov NTB Alokasikan Rp 68 Miliar untuk MBG, Jadwal Pelaksanaan Belum Keluar

Namun kondisi fisik itu tidak membuatnya patah semangat.

Sejak usia kelas III sekolah dasar (SD) dia sudah terbiasa rajin berolahraga.

Latihan yang diseriusi adalah tenis meja. Kemampuan itu secara konsisten digeluti sampai sekarang.

Selain melatih orang normal, Syamsul  juga melatih sejumlah disabilitas.

Total ada enam murid difabel yang dilatihnya. Terdiri dari tunadaksa dan tunarungu.

”Saya ingin mengangkat para penyandang difabel agar lebih percaya diri. Kalau mereka pede dan tidak minder, saya yakin mereka juga bisa,” tandas ayah satu anak itu. (Umar Wirahadi/r12)

Editor : Kimda Farida
#peparnas #nasional #teknik #smash #peyandang disabilitas #ntt #olahraga #cabang #cabor #medali #NTB #difabel #tunadaksa