Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Melihat Sekolah Alam Marsekal TNI (Purn) Hadi Tjahjanto di Lobar, Ajarkan Siswa Seni Pedalangan, Tari hingga Tenun Sasak

Umar Wirahadi • Kamis, 23 Januari 2025 | 10:51 WIB

 

PEDULI BUDAYA LOMBOK: Marsekal TNI (Purn) Hadi Tjahjanto dan istri Nanny Hadi Tjahjanto melakukan peletakan batu pertama pembangunan sekolah alam di Dusun Gumesa Timur, Desa Giri Tembesi, Gerung.
PEDULI BUDAYA LOMBOK: Marsekal TNI (Purn) Hadi Tjahjanto dan istri Nanny Hadi Tjahjanto melakukan peletakan batu pertama pembangunan sekolah alam di Dusun Gumesa Timur, Desa Giri Tembesi, Gerung.
 

Masyarakat Pulau Lombok yang multikultural sangat kaya dengan budaya, kesenian, tradisi serta adat yang berbasis kearifan lokal.

Semua itu harus dirawat dan diwariskan ke generasi penerus.

Mantan Menkopolhukam Marsekal TNI (Purn) Hadi Tjahjanto ingin berkontribusi menjaga kelestarian budaya Lombok melalui sekolah alam tingkat menengah yang dibangunnya.

---------------------

Pembangunan gedung sekolah alam diawali dengan ritual bangar oleh Yayasan Pemaos Sabda Jati (Pesaja) Lombok Barat, Selasa (21/1).

Sejumlah elemen ditabur ke dalam lubang tanah. Setelah itu, para pemaos berjalan mengelilingi lahan yang menjadi area bangunan itu. 

Dalam tradisi masyarakat Sasak, ritual bangar kerap dilakukan sebelum memulai proses pembangunan gedung atau bangunan.

”Ritual bangar ini untuk minta  izin kepada makhluk yang tidak kasat mata di sekitar sini. Kita minta izin supaya pembangunan nanti berjalan lancar,” ujar Ketua Yayasan Pemaos Sabda Jati (Pesaja) Lombok Barat Zul Padli.

Tahap selanjutnya adalah peletakan batu pertama pembangunan gedung sekolah.

Proses itu dilakukan langsung Marsekal TNI (Purn) Hadi Tjahjanto dan istri Nanny Hadi Tjahjanto.

Mereka yang didampingi sejumlah pejabat dan tokoh-tokoh adat meletakkan batu pertama pembangunan gedung sekolah alam tingkat menengah.

Hadir di antaranya Ketua DPRD NTB Baiq Isvie Rupaedah, Danrem 162/Wira Bhakti Brigjen TNI Agus Bhakti, serta Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Karo Kesra) NTB Sahnan.

Tampak hadir juga Ketua Majelis Adat Sasak Dr Lalu Sajim Sastrawan, legenda dalang Wayang Sasak H Lalu Nasib serta para tokoh budayawan dan seniman Lombok.

Dalam pidatonya, Marsekal TNI (Purn) Hadi Tjahjanto mengatakan dirinya ingin ikut berkontribusi dalam melestarikan adat dan kearifan lokal masyarakat Sasak. Yaitu dengan pendirian sekolah alam berbasis budaya.

”Sekolah ini akan mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal Sasak sebagai landasan kurikulum pendidikan,” kata Hadi.

Pria yang juga mantan Menkopolhukam serta mantan Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR/BPN) itu memastikan sekolah jenjang menengah itu akan dibangun dalam waktu dekat. Luas lahan yang ditempati mencapai 1.200 meter persegi. 

Lokasinya berada di Dusun Gumesa Timur, Desa Giri Tembesi, Kecamatan Gerung.

Sekolah akan dirancang menggunakan arsitektur tradisional Sasak.

Selain ruang belajar mengajar, ruang guru serta, gedung sekolah juga memiliki sejumlah keunggulan. Karena dilengkapi ruang praktek kesenian dan kebudayaan, ruang praktek kewirausahaan, dapur, limbung padi, ruang tamu berupa berugak sekenem, serta tempat ibadah untuk umat Islam dan Hindu.

Sebab selain beragama Islam, warga Desa Giri Tembesi juga banyak yang menganut Hindu.

”Desain ini mencerminkan keberagaman dan kerukunan antar umat beragama,” paparnya.

Sekolah itu dirancang sebagai sekolah inklusif. Selain pelajaran umum, siswa akan mempelajari seni budaya Lombok seperti sastra dan aksara Sasak.

Seni pedalangan, seni drama tari dan musik, seni rupa, seni kriya, pemintalan kapas dan produksi tenun. Juga ada ilmu pertanian, peternakan berkelanjutan, arsitektur tradisional serta kewirausahaan.

”Singkatnya siswa akan mempelajari warisan budaya, sandang, pangan, papan masyarakat Lombok yang kaya dan beragam,” tandasnya. 

Nanny Hadi Tjahjanto menyampaikan sekolah itu nanti akan berada di bawah naungan Yayasan Cahayatama Indonesia Foundations.

Di sana Nanny menjabat ketua pembina yayasan. Selain menggenjot kualitas pendidikan formal, sekolah itu diharapkan mampu mencetak generasi yang memahami dan melestarikan budaya serta tradisi lokal Sasak.

”Kami harap sekolah ini kelak menjadi motor penggerak kemandirian ekonomi masyarakat melalui pendidikan berbasis kewirausahaan, pertanian, peternakan, pemintalan kapas dan kegiatan produksi tenun berkelanjutan untuk kemajuan budaya lokal Sasak,” papar Nanny.

Ketua Majelis Adat Sasak Lalu Sajim Sastrawan menyambut dengan gembira berdirinya sekolah alam berbasis budaya dan kearifan lokal itu. Sekolah berbasis budaya sangat penting.

Agar warga Lombok tidak kehilangan budaya dan identitas diri akibat maraknya serangan informasi global.

”Aksara Sasak dan sastra Sasak harus bisa dipertahankan supaya anak cucu kita tidak kehilangan identitas budayanya,” kata Lalu Sajim.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadikbud) Lombok Barat Maad Adnan juga menyambut baik keberadaan sekolah alam itu.

Keberadaan sekolah itu akan mampu mendekatkan akses sekolah untuk anak-anak di sekitar Dusun Gumesa Timur. Itu juga bagi untuk pemerataan dan menambah kualitas SDM di Lobar. 

Para siswa tidak hanya menguasai hal-hal yang bersifat akademis, tapi juga bisa mengangkat seni budaya dan kearifan lokal.

”Apalagi sekolah ini sangat istimewa karena menjadi sekolah berbasis budaya pertama di NTB,” ungkap  Maad.

Lalu Hilman Afriandi, ketua panitia peletakan batu pertama sekolah alam menceritakan sekolah alam ini lahir dari insiatif dan diskusi yang intens dengan Marsekal TNI (Purn) Hadi Tjahjanto dan istri sejak enam bulan lalu.

”Tujuan pendirian sekolah ini untuk membuka akses pendidikan menengah bagi anak-anak di Desa Giri Tembesi. Sekaligus mengintegrasikan konsep alam berbasis kearifan budaya Lombok,” papar pendiri Yayasan Andi dan Dina itu. (Umar Wirahadi/r8)

Editor : Kimda Farida
#kearifan lokal #ritual #sekolah alam #arsitektur #budaya #Sasak #Kasat Mata #tradisional #Adat