Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kades Bagik Polak Tolak Bantuan Beras Imbas Ratusan Warga Miskin Tak Terdata

Hamdani Wathoni • Kamis, 24 Juli 2025 | 09:05 WIB
TOLAK BANTUAN: Warga Desa Bagik Polak menunjukkan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) yang mereka miliki namun justru tak dapat bantuan, Rabu (23/7)  
TOLAK BANTUAN: Warga Desa Bagik Polak menunjukkan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) yang mereka miliki namun justru tak dapat bantuan, Rabu (23/7)  

LombokPost - Kepala Desa Bagik Polak Amir Amraen Putra kecewa berat. Ratusan warganya yang masuk kategori miskin dan berhak menerima bantuan justru gigit jari. Sebagai bentuk kekecewaan, kades menolak bantuan sosial berupa beras dari pemerintah yang dikirim Bulog.

”Tahun dulu kami 686 KK, sekarang 391 KK. Kurangnya sekitar 295 KK. Setiap KK dapat satu karung dengan per karungnya berisi beras 10 kilogram,” jelas Kades Amir Amraen.

Amir mengaku heran, warganya tidak dapat bantuan padahal mereka memiliki Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dan bantuan pangan non tunai (BPNT) atau bantuan sosial beras. Dia mempertanyakan apa yang kemudian menjadi dasar pemerintah pusat menonaktifkan kartu yang saat ini masih dipegang warga.

”Masih banyak warga yang punya kartu keluarga sejahtera yang tidak mendapatkan. Baik PKH maupun BPNT. Kami harapkan kepada bupati segera mengevaluasi dan memperjuangkan masyarakat kita yang miskin ini. Tolong wujudkan sejahtera dari desa sesuai visinya itu,” katanya.

Pihaknya juga mengaku sudah menanyakan persoalan ini ke pihak Dinas Sosial Lobar. Dari pihak dinas, kades diminta mengambil foto rumah warga yang tidak menerima bantuan kemudian dikirim.

Namun Kades Bagek Polak menegaskan tidak bisa ukuran miskin seseorang hanya merujuk kepada kondisi rumah. Dia menegaskan jika tingkat kesejahteraan seseorang ditentukan oleh pendapatan, sandang, pangan dan papannya.

”Tidak masuk logika saya kalau harus memfotokan rumah warga miskin seperti itu,” ucap Amir. Dengan banyaknya warga yang tidak menerima bantuan beras, dia akhirnya menolak sementara bantuan yang diberikan. Lantaran tidak semua bantuan yang diberikan dengan warga yang seharusnya berhak. Ini akan menimbulkan iri dengki dan gejolak sosial di tengah masyarakat.

”Bisa saja gejolak muncul. Saya harap pemerintah tidak menunggu gejolak muncul baru dipenuhi hak masyarakat miskin. Jadi sementara kami tolak pendistribusian bantuan beras dari Bulog,” tandasnya. Salmiah, salah satu warga mengaku kecewa dirinya tak dapat bantuan. Padahal tahun lalu dia selalu menerima bantuan beras.

”Saya bekerja sebagai buruh serabutan. Saya nggak tahu juga kenapa sekarang tiba-tiba tidak dapat,” herannya. Hal serupa juga dialami Mutmainnah, perempuan lansia berusia 70 tahun tersebut mengaku tinggal seorang diri. Suaminya telah meninggal dunia. Dia tinggal bersama cucunya.

”Saya selalu dapat bantuan dari tahun 2015. Sekerang dikasih tahu nggak dapat. Mudahan bisa dapat bantuan beras lagi untuk kebutuhan sehari-hari,” harapnya. Bantuan beras ini dirasakan sangat membantu warga memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sehingga ketika bantuan tiba-tiba tak lagi diterima, mereka mengaku sangat merasakan dampaknya. (ton/r8)

Editor : Jelo Sangaji
#Kemensos #Bantuan #dinsos #Lobar #Beras