LombokPost - Senggigi tak ingin terus tertinggal dari gemerlap destinasi wisata baru yang ada di NTB seperti Mandalika.
Lewat dentingan keris, gemuruh Gendang Beleq, dan semangat empu, kawasan ikonik ini mulai bersolek kembali.
Aroma besi yang dibakar, denting palu menempa bilah, dan aura magis dari bilik pameran terasa kuat di Pasar Seni Senggigi.
Di sanalah, Gelar Budaya Festival Keris Lombok digelar.
Pameran ini menjadi magnet baru wisata budaya di Lombok Barat.
Festival ini dihadiri Bupati Lobar Lalu Ahmad Zaini atau yang karib disapa LAZ.
Bahkan, LAZ menegaskan bahwa event ini akan disiapkan masuk ke dalam Kalender of Event Lombok Barat 2026.
”Saya sedang inventaris semua event, insyaallah September kita launching kalender event Lombok Barat. Senggigi ini harus hidup lagi,” tegas LAZ.
LAZ tak menampik bahwa Senggigi kini sedang mencari napas baru.
Kehilangan pamor sejak Mandalika melesat sebagai primadona pariwisata NTB, Senggigi butuh kejutan.
Dan keris sebagai pusaka yang sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia bisa menjadi jawabannya.
”Keris ini identitas kita. Wisatawan harus tahu kalau Lombok punya budaya luar biasa yang layak ditampilkan,” ujarnya.
Ia bahkan membayangkan Gendang Beleq dan Peresean, dua atraksi khas Sasak, bisa disuguhkan rutin layaknya Tari Kecak di Bali.
”Saya membayangkan, kalau Bali punya Kecak, kita bisa suguhkan Gendang Beleq di Senggigi setiap minggu,” katanya.
Apalagi, revitalisasi Dermaga Kapal Cepat Senggigi saat ini tengah berjalan.
Harapannya, ini akan membuka akses lebih besar bagi wisatawan domestik dan mancanegara.
Di balik megahnya event, berdiri Paguyuban Keris Anjani, komunitas penggiat keris yang digawangi Lalu Yopi Diansastra.
Dia menyebut, acara ini telah berjalan sejak 2021 dan selalu menghadirkan empu dari berbagai penjuru negeri.
”Mengusung tajuk Wikara Ruwat Gegaman, acara ini bukan sekadar pameran keris biasa, melainkan sebuah gerakan kultural yang mempertemukan kolektor, pelestari, perajin, hingga generasi muda dalam satu panggung harmoni, keris sebagai warisan pusaka bangsa,” jelas Lalu
Yopi yang juga sebagai ketua panitia. Pameran ini terbagi menjadi tiga zona.
Mulai dari ruang pameran keris, workshop pembuatan keris, dan area UMKM lokal.
Semuanya menyatu dalam satu ekosistem budaya yang hidup dan menggugah rasa.
Menariknya, sejak proposal acara ini dipresentasikan, bupati langsung merespons cepat.
”Bupati langsung bilang, ini cocok masuk kalender event. Alhamdulillah akhirnya didukung penuh,” tutur Yopi.
Kehadiran Gelar Budaya Keris Anjani bukan hanya soal warisan budaya, tapi juga upaya strategis memantik denyut Senggigi.
Dengan kolaborasi lintas komunitas, pemerintah, dan pelaku budaya, Senggigi perlahan mulai bersuara lagi.
Editor : Kimda Farida