LombokPost - Misteri kasus meninggalnya Brigadir Esco Faska Rely hingga saat ini belum terungkap. Kasus yang semula diduga bunuh diri tersebut kini makin kuat mengarah ke kasus pembunuhan. Menyusul berbagai kejanggalan seperti bekas luka dan kematian yang tidak wajar.
Pihak keluarga Brigadir Esco kemarin mendatangi Polres Lobar meminta kejelasan terkait perkembangan penanganan kasus yang menyebabkan kematian almarhum anggota Polsek Sekotong tersebut.
”Tadi kami juga diberikan surat terkait perkembangan hasil penyidikan. Kepada penyidik kami menanyakan kejelasan karena menurut kami ini sangat lama dan lamban,” ucap H Supardi, kakek Brigadir Esco.
Dia dan pihak keluarga mengaku sangat heran apa yang membuat pihak kepolisian begitu lama mengusut kasus ini. Padahal sudah dilakukan olah TKP serta pemeriksaan terhadap beberapa saksi. ”Karena kami pihak keluarga terus terang berharap ada kejelasan mengenai kasus ini,” katanya.
Namun pihak keluarga menurut Supardi mendapat penjelasan dari penyidik jika kematian Brigadir Esco berkaitan dengan orang terdekatnya. Sehingga ini yang membuat kasus ini lebih rumit dan membutuhkan waktu. ”Makanya kami juga bisa memahami dan bersabar,” jelasnya.
Sementara itu, Samsul Herawadi, ayah Brigadir Ecso meminta agar kasus ini diproses sebagaimana mestinya. Jika memang ada pelaku yang membunuh putranya, dia meminta agar dihukum setimpal karena telah berlaku keji.
”Kami minta pihak berwenang menindak pelaku sesuai perbuatannya,” ucapnya.
Miase alias Amaq Kake, keluarga Brigadir Esco lainnya menyebutnya keluarga besar sudah tidak sabar dengan ketidakpastian penanganan kasus ini. Terlebih di media sosial beredar informasi yang tak terbendung terkait penyebab kematian Brigadir Esco. Jika tidak ditangani dengan cepat, ia khawatir pihak keluarga mengambil langkah di luar aturan hukum.
”Keluarga besar sudah muak dengan lamanya pengungkapan kasus ini. Bahkan mereka mau bergerak menghancurkan TKP,” jelasnya
Hal ini menyusul informasi yang beredar jika Brigadir Esco dibunuh di rumahnya sendiri oleh orang terdekatnya. Keluarga besarnya kemudian tersulut informasi liar ini.
”Tapi saya sudah imbau ke keluarga besar yang ada di Pujut supaya tidak seperti itu. Karena kalau terjadi seperti itu, kita yang rugi,” tuturnya.
Untuk itu, pihak keluarga meminta agar penanganan kasus ini dipercepat. Jika memang Polres Lobar kesulitan, keluarga meminta diambil alih Polda NTB. (ton/r8)
Editor : Jelo Sangaji