LombokPost – Pihak keluarga almarhum Brigadir Esco Faska Rely merasa tak sabar dengan penanganan kasus kematian yang dinilai sangat lamban.
Sampai saat ini, misteri kematian Brigadir Esco belum juga terungkap meski indikasi jika anggota Polsek Sekotong tersebut meninggal karena diduga dibunuh dinilai cukup kuat. Pihak keluarga berencana akan mendatangi Polda NTB untuk menanyakan kejelasan penanganan kasus ini.
”Dari pihak keluarga berencana akan hearing ke Polda menemui pak Kapolda, Irwasda, Dirkrimum dan Kabag Wasidik hari Kamis (11/8). Kami bersama pihak keluarga meminta agar gelar perkara segera dilakukan sehingga bisa dilakukan penetapan tersangka,” ucap kuasa hukum pihak keluarga Dr. Lalu Anton Hariawan kepada Lombok Post, Senin (8/9).
Anton menyebut indikasi jika Brigadir Esco meninggal dunia karena dibunuh cukup kuat. Dilihat dari hasil otopsi yang terungkap jika ada bekas benda tumpul dugaan penganiayaan di tubuhnya. Selain itu, pihak keluarga menurut Anton juga menemukan ada beberapa luka di bagian tubuh Esco.
”Ada tiga orang pihak keluarga yang ikut otopsi. Menurut keluarga, di tangan kiri ada luka robek bekas sayatan. Jadi ini jelas menurut kami ada indikasi pembunuhan,” ungkapnya.
Keterangan orang tua Brigadir Esco, titik koordinat terakhir handphone milik almarhum juga diketahui berada di lokasi TKP di kediamannya di Dusun Nyiurlembang, Desa Jembatan Gantung. Sehingga permintaan untuk cepat dilakukan gelar perkara ini juga agar persoalan ini tidak terus membias.
Apalagi perdebatan di media sosial terus memunculkan dugaan yang semakin liar dan menimbulkan persepsi yang bisa memicu konflik yang lebih luas. ”Apalagi pihak keluarga meyakini dugaan pelaku (pembunuhan lebih dari satu orang),” tegas Anton.
Anton juga mengaku pihak keluarga sudah menemui pihak Kapolres Lobar hingga Kasatreskrim. Keluarga Brigadir Esco mengapresiasi penyidik dalam mengungkap perkara ini. Penyidik Polres Lobar mengaku berhati-hati dalam melakukan tugasnya karena kematian Esco diduga didesain sedemikian rupa.
Sehingga penyidikan dilakukan dengan hati-hati sehingga ketika penetapan tersangka, bukti yang dimiliki cukup kuat. Sementara ayah Brigadir Esco Samsul Herawadi dan kakeknya H Supardi serta Miase sebelumnya mengatakan jika keluar almarhum mulai merasa gelisah dengan belum adanya titik temu atas kasus ini.
Bahkan, keluarga mulai terprovokasi dengan isu yang dihembuskan netizen di media sosial yang menduga Esco dibunuh orang terdekatnya. ”Bahkan keluarga sampai sempat berencana memusnahkan TKP (rumah almarhum di Dusun Nyiurlembang, Desa Jembatan Gantung, Lombok Barat).
Namun itu kami minta agar tidak dilakukan karena khawatir mengganggu proses penyidikan, bisa merugikan kita sendiri kalau barang bukti hilang,” ucap keluarga. Mereka berharap pihak kepolisian bergerak cepat mengungkap kasus ini.
Mengingat Brigadir Esco ditemukan meninggal dunia tanggal 24 Agustus lalu.
Namun sampai saat ini belum terungkap apakah almarhum memang benar meninggal dunia karena bunuh diri atau dibunuh mengingat banyak kejanggalan yang ditemukan.
Editor : Akbar Sirinawa