LombokPost - Jika biasanya dapur MBG identik dengan kesederhanaan, berbeda dengan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) milik Yayasan Agniya di Desa Montong Are, Kecamatan Kediri, Lombok Barat. Dapur yang baru diresmikan Sabtu (27/9) ini justru tampak mewah dan modern.
Bangunan permanen lengkap dengan sarana prasarana senilai Rp 4,7 miliar tersebut berdiri megah layaknya fasilitas hotel berbintang.
Peresmian berlangsung meriah. Alunan musik dan hiburan mengiringi kehadiran para tamu undangan, mulai dari pihak sekolah, tokoh masyarakat, hingga perwakilan dinas terkait.
Mereka bukan hanya hadir dalam acara seremonial, melainkan juga diajak menengok langsung bagian dalam dapur yang disebut-sebut paling modern di Lombok Barat, bahkan NTB.
Begitu pintu dibuka, mata tamu undangan langsung dimanjakan dengan pemandangan tak biasa. Gedung luas berukuran 20 x 22 meter itu tertata rapi dengan mesin-mesin pendingin, kompor besar, rice timer, wastafel modern, hingga perlengkapan masak standar Badan Gizi Nasional (BGN).
Lebih istimewa lagi, setiap sudutnya terpantau kamera CCTV, total 12 unit, demi menjamin kebersihan dan keamanan produksi makanan.
”Semua fasilitas ini kami siapkan sesuai standar yang ditentukan BGN. Kami ingin memberikan yang terbaik, baik dari segi kualitas maupun keamanan pangan,” jelas Ketua Yayasan Agniya, Hariyanto.
Dapur MBG Montong Are tidak main-main. Selain bangunan utama, fasilitas ini memiliki 28 ruangan lengkap dengan pendingin ruangan. Pekerjaan sehari-hari ditopang 50 orang, terdiri dari 47 relawan, satu ahli gizi, satu akunting, serta satu utusan BGN yang bertugas sebagai kepala dapur.
Menariknya, para pekerja ini disebut relawan. Sekitar 60 persen berasal dari Desa Montong Are, 20 persen dari desa lain di Lombok Barat, dan sisanya dari kabupaten tetangga seperti Lombok Tengah.
Baca Juga: Begini Modus Kades Bagik Polak-Eks Pejabat BPN Kuasai dan Jual Aset Pemkab Lombok Barat
Kehadiran program ini membawa berkah tersendiri. Ibu-ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan, kini bisa ikut bekerja dan mendapat gaji minimal Rp 100 ribu per hari. Sistem penggajian dilakukan setiap dua minggu sekali.
”Selain memberikan makanan bergizi bagi anak-anak, kami ingin memberdayakan masyarakat. Dapur ini membuka lapangan kerja dan bisa berkolaborasi dengan UKM serta koperasi sekitar,” tambah Hariyanto.
Menurut Ketua SPPG Lalu Den Nune Ali, dapur ini siap memproduksi 2.979 porsi makanan setiap hari untuk penerima manfaat di wilayah Kediri. Jumlah itu bahkan masih bisa bertambah jika permintaan meningkat. Demi menjaga kualitas, setiap menu yang disajikan selalu diawasi ahli gizi dan memiliki bank menu yang bisa diuji di laboratorium kapan saja.
”Bahan baku yang kami gunakan kualitas nomor satu. Standar gizi sangat diperhatikan agar anak-anak penerima manfaat benar-benar mendapatkan asupan bergizi,” ungkapnya.
Selain bangunan megah, dapur ini juga dilengkapi tiga unit mobil operasional dan berbagai perlengkapan masak modern. Semuanya dibangun dari nol, dengan harapan dapur MBG Agniya bisa menjadi model pengelolaan pangan bergizi di daerah lain.
Yayasan Agniya berharap keberadaan dapur senilai miliaran ini bukan hanya menjadi kebanggaan Montong Are, tetapi juga membawa manfaat luas. Selain memastikan generasi muda mendapat makanan sehat, program ini diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat lokal.
”Visi kami sederhana, agar semua anak negeri bisa merasakan manfaat program MBG,” pungkas Hariyanto.
Dengan fasilitas mewah, sistem pengelolaan modern, serta semangat gotong royong masyarakat, dapur MBG Montong Are kini menjadi simbol baru bagaimana program sosial bisa naik kelas. Tak berlebihan jika banyak yang menyebutnya sebagai dapur hotel untuk rakyat kecil.
Editor : Siti Aeny Maryam