LombokPost – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lombok Barat kembali jadi sorotan. Puluhan ompreng makanan yang disediakan di SDN 1 Telagawaru, Kecamatan Labuapi terbuang percuma alias mubazir karena tidak disantap oleh siswa.
Saat sidak, Satgas MBG Lombok Barat menemukan menu MBG berupa roti tawar dengan saus tomat kemasan, sepotong ayam fillet, serta sayur kacang dan buncis rebus. Dari ratusan ompreng yang tersedia, baru sekitar 50 persen yang dibagikan ke siswa.
"Sepertinya anak-anak kurang suka dengan roti dan sayuran rebus, jadi banyak yang tidak dimakan," ungkap Heny Murdiati, Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Barat yang ikut dalam kunjungan itu.
Kondisi itu membuat Ketua Satgas MBG Lombok Barat Saepul Akhkam juga angkat bicara. Ia menilai menu yang disiapkan Satuan Penyedia Pangan Gizi (SPPG) tidak menggugah selera anak-anak.
"Bagaimana anak-anak mau menikmati MBG kalau menunya seperti itu? Harusnya tidak hanya berpikir kandungan gizi. Ngapain bergizi kalau tidak dimakan, kan mubazir," tegas Akhkam.
Ia meminta agar pihak SPPG rutin mengevaluasi penerimaan siswa terhadap menu yang disajikan. Bahkan, Akhkam menyarankan agar sisa makanan atau limbah MBG dikembalikan ke pihak SPPG. "Biar mereka tahu, makanan yang dibuat tidak dimakan karena tidak disukai anak-anak," sambungnya.
Menariknya, kondisi di SDN 2 Montong Are berbeda jauh. Di sekolah ini, ompreng MBG ludes disantap siswa. Menu yang disajikan berupa nasi putih, ayam kecap, sayur, dan susu.
"Artinya selera anak-anak harus diperhatikan. Kalau menunya cocok, mereka pasti lahap makan," tegas Saepul Akhkam.
Dalam kunjungan kemarin, Satgas MBG mendatangi tiga dapur SPPG dan dua sekolah penerima. Dari hasil pengecekan, ada dua SPPG yang beroperasi normal dan satu SPPG dihentikan sementara.
"Kami akan terus melakukan sidak ke dapur SPPG dan sekolah. Program MBG ini sangat mulia. Jangan sampai hanya formalitas, atau malah membahayakan anak-anak," pungkas Akhkam.
Sementara Sekretaris Daerah Lombok Barat Ilham yang turut hadir dalam sidak jug menegaskan pentingnya peran guru dalam mendampingi siswa menyantap makanan bergizi.
"Guru harus ikut memberikan edukasi gizi. Anak-anak perlu dibiasakan makan sayur karena kandungan gizinya sangat tinggi," ucapnya.
Ilham juga mengingatkan soal standar penyajian makanan. Menurut dia, Kementerian Kesehatan memiliki SOP jela. Makanan tidak boleh dibiarkan lebih dari tiga jam setelah matang.
"Kalau dibiarkan terlalu lama, bisa terkontaminasi bakteri. Kita tidak mau kejadian keracunan terulang," tegasnya.
Sekda mengungkapkan, beberapa hari lalu Satgas menerima laporan dari sebuah madrasah di Lombok Barat yang mendapat jatah MBG dalam kondisi tercemar belatung di nasi maupun lauk ayam. Hal ini untungnya cepat diketahui.
Jika tidak, bisa fatal bagi anak-anak. Sehingga ini menjadi pelajaran penting agar SPPG betul-betul menjaga kualitas dan kebersihan.
Editor : Siti Aeny Maryam