LombokPost - Siapa sangka, di tengah menjalani hukuman di dalam Lapas Kelas IIA Lombok Barat, para warga binaan masih tetap produktif. Bahkan mereka berkontribusi dalam menyukseskan program pemerintah menjaga Ketahanan Pangan Nasional.
Di bawah terik matahari siang yang menyengat, beberapa pria dengan topi caping tampak sibuk memetik cabai merah besar yang bergelantungan ranum di batangnya. Tangan-tangan itu cekatan, memisahkan buah yang siap panen dari tangkainya. Siapa sangka, mereka bukan petani biasa mereka adalah warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Lombok Barat.
Hari itu, kebun cabai seluas 25 are di area pembinaan kerja Lapas Lombok Barat menjadi saksi keberhasilan sebuah program pembinaan yang berbuah manis. Sebanyak 572 kilogram cabai merah besar berhasil dipanen. Warna merah menyala cabai-cabai itu bukan hanya simbol kesegaran, tetapi juga semangat baru dalam pemberdayaan warga binaan.
"Setiap pagi kami merawat tanaman ini, mulai dari penyiraman, pemupukan, sampai pemanenan. Rasanya bangga sekali lihat hasilnya sebanyak ini," ucap salah satu warga binaan sambil mengangkat keranjang berisi cabai.
Panen melimpah ini menjadi angin segar di tengah fluktuasi harga cabai di Nusa Tenggara Barat, komoditas yang selama ini dikenal sebagai salah satu penyumbang inflasi daerah. Hasil panen dijual kepada CV. Putra Mandiri dengan harga Rp30.000 per kilogram, lalu akan disuplai ke industri besar seperti Sasa, ABC, Sparindo, dan Indofood.
Direktur Utama CV. Putra Mandiri Nonok Hartono, mengaku kagum dengan kualitas cabai yang dihasilkan dari tangan warga binaan.
"Kualitasnya sangat bagus dan stabil. Cabai ini akan menjadi bahan baku utama produk olahan cabai di pabrik-pabrik besar. Ini contoh sinergi positif antara lembaga pemasyarakatan dan sektor industri pangan," ujarnya.
Keberhasilan ini bukan terjadi dalam semalam. Di balik panen tersebut ada proses panjang pembinaan dan pendampingan intensif. Kepala Lapas Kelas IIA Lombok Barat M Fadli, menyebut, pertanian bukan sekadar aktivitas kerja warga binaan, tetapi bentuk kontribusi nyata terhadap ketahanan pangan nasional.
"Kami ingin program ini tidak hanya menjadi sarana pembinaan, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Ke depan, lahan akan kami perluas dan kapasitas warga binaan akan terus kami tingkatkan," jelasnya.
Lahan pertanian Lapas Lombok Barat masih menyimpan potensi besar. Dengan perawatan yang tepat, panen berkelanjutan menjadi kenyataan, bukan sekadar wacana. Para warga binaan pun mendapat keterampilan baru yang kelak bisa menjadi bekal hidup setelah bebas.
Program ini menjadi bagian dari strategi Pemasyarakatan Produktif, sebuah pendekatan baru dalam pembinaan narapidana yang menekankan pemberdayaan dan kontribusi sosial. Hasil kerja mereka tidak hanya menghidupkan lahan, tapi juga menyokong stabilitas harga cabai dan menekan inflasi di NTB.
Dari balik jeruji, tangan-tangan ini menanam harapan. Di antara barisan tanaman cabai, tumbuh pula semangat untuk menjadi bagian dari solusi bangsa bukan lagi sekadar beban negara. (*)
Editor : Siti Aeny Maryam