LombokPost - Ribuan jemaah Nahdliyin yang terdiri dari para santri, kader Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor), dan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) memadati area kegiatan Munajat dan Doa untuk Bangsa di Lapangan Umum Desa Suranadi, Lombok Barat (Lobar), Selasa malam (20/10).
Kegiatan yang berlangsung khidmat dengan lantunan salawat ini tidak hanya menjadi wadah spiritual, tetapi juga mimbar tegas untuk menyuarakan sikap kebangsaan, menolak perpecahan, sekaligus menyampaikan kecaman keras terhadap salah satu stasiun televisi nasional.
"Acara ini merupakan bentuk komitmen kolektif Nahdliyin Lobar dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari segala upaya pecah belah," ucap Ketua GP Ansor Lobar Muhali.
Dia menegaskan bahwa stabilitas nasional adalah tanggung jawab bersama, dan Ansor Lobar berdiri di garda terdepan untuk memastikan hal tersebut.
"Kami, Ansor Lobar, dengan tegas menolak segala bentuk provokasi yang dilakukan oleh pihak luar yang ingin memecah belah Anak bangsa Indonesia," kata pria yang menjabat Ketua Komisi IV DPRD Lombok Barat tersebut.
Ia menambahkan, persatuan harus terus digaungkan di tengah keberagaman.
Menurutnya, Nahdlatul Ulama (NU) senantiasa menjadi payung besar bagi semua golongan.
"Kami mengajak semua anak bangsa, apapun sukunya, untuk terus menyuarakan perdamaian. Ini adalah komitmen abadi kita sebagai warga negara," tambahnya.
Selain menyuarakan persatuan bangsa, acara Munajat dan Doa untuk Bangsa ini dimanfaatkan oleh GP Ansor Lobar untuk menyampaikan sikap resmi terkait konten penyiaran yang dinilai telah menyinggung komunitas santri dan tokoh agama.
Secara spesifik, Muhali mengecam salah satu stasiun televisi nasional karena dianggap telah mencederai hati warga NU.
Kecaman ini terkait dengan penayangan siaran yang dianggap menzalimi dan menyinggung para kiai, khususnya Pondok Pesantren Lirboyo, yang dikenal sebagai salah satu pondok pesantren tertua dan paling berpengaruh di Indonesia.
"Ansor Lombok Barat mengecam yang telah menciderai hati kami sebagai santri NU, yang menzolimi dan menyinggung para kiai-kiai kami wabilkhusus pondok pesantren Lirboyo," tegas Muhali dengan nada prihatin.
Atas dasar penayangan siaran yang dianggap melukai perasaan banyak tokoh dan komunitas agama di negeri ini, GP Ansor Lobar melayangkan permintaan serius kepada Pemerintah Pusat.
"Ansor Lobar meminta kepada Pemerintah Pusat, agar mengevaluasi izin operasional statsiun TV nasional itu karena telah menayangkan siaran yang menyinggung para tokoh-tokoh di negeri ini," pintanya.
Permintaan tersebut dilatarbelakangi kekhawatiran bahwa konten yang dianggap kontroversial dapat memicu gejolak dan merusak harmoni sosial di masyarakat.
Organisasi kepemudaan NU tersebut menekankan pentingnya peran media sebagai penjaga moral dan etika, bukan sebaliknya.
"Selain melaksanakan Kegiatan Munajat dan Doa untuk Bangsa peringatan Hari Santri 2025 juga dilanjutkan dengan upacara bendera Rabu (21/10)," tutupnya.
Editor : Kimda Farida