Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ramai Penonton Lokal, Senggigi Sunset Jazz Belum Dongkrak Okupansi Hotel

Hamdani Wathoni • Senin, 3 November 2025 | 23:52 WIB
General Manager Hotel Merumatta Senggigi Fahrurrozi
General Manager Hotel Merumatta Senggigi Fahrurrozi

LombokPost – Meski ramai penonton lokal, gelaran Senggigi Sunset Jazz tahun ini dinilai belum memberikan dampak signifikan terhadap tingkat hunian hotel di kawasan wisata Senggigi, Lombok Barat.

Beberapa pelaku industri perhotelan menyebut acara musik tersebut masih perlu banyak evaluasi, mulai dari konsep, lokasi, hingga kualitas promosi.

General Manager Hotel Merumatta Senggigi Fahrurrozi menyebut acara ini belum mampu mendongkrak okupansi hotel di kawasan Senggigi.

Berdasarkan catatan pihaknya, tingkat hunian selama acara berlangsung hanya berkisar 19 persen.

"Kami senang ada event besar di Senggigi, tapi sayangnya dampaknya ke hotel belum terasa. Kalau bisa, konsepnya dievaluasi supaya benar-benar menarik tamu dari luar daerah," ujarnya, Senin (3/11).

Menurut Oji, sapaan karibnya salah satu hal yang perlu dikaji ulang adalah pemilihan nama acara. Ia menilai kata 'Jazz' kurang tepat, karena sebagian besar musisi yang tampil bukan bergenre jazz murni.

"Lebih baik namanya diganti menjadi Senggigi Music Festival agar lebih inklusif. Semua genre bisa masuk, dan pengunjung pun jadi lebih luas," sarannya.

Selain soal konsep musik, Farurrozi juga menyoroti lokasi pelaksanaan acara. Meskipun membawa nama Senggigi, namun panggung utama tidak diselenggarakan di kawasan Senggigi sendiri melainkan di Pantai Kerandangan I.

"Kalau namanya Senggigi, seharusnya acaranya juga diadakan di Senggigi. Itu akan membantu citra dan mendukung ekonomi lokal di sekitar kawasan wisata ini," tegasnya.

Oji menilai, jika tujuan utama adalah meningkatkan pariwisata dan Pendapatan Asli Daerah (PAD), maka Senggigi sebaiknya fokus pada sport tourism seperti lomba maraton, jet ski, atau coast trail.

"Sport tourism terbukti bisa membuat hotel penuh. Saat ada event olahraga, okupansi bisa tembus 100 persen. Itu yang perlu dikembangkan," tegasnya.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas event dan penataan fasilitas pendukung, seperti penyediaan kantong sampah di area acara agar tidak menimbulkan masalah kebersihan seperti tahun sebelumnya.

Senggigi Sunset Jazz dinilai memiliki potensi besar, namun perlu evaluasi total agar benar-benar memberikan dampak nyata terhadap industri perhotelan dan pariwisata di kawasan Senggigi.

Sementara itu, General Manager Hotel Aruna Senggigi, Yeyen Heryawam, mencatat tingkat okupansi hotelnya pada 1–2 November mencapai sekitar 50 persen.

Namun, menurutnya, peningkatan tersebut bukan disebabkan oleh acara Senggigi Sunset Jazz.

"Okupansi 50 persen itu karena ada acara wedding dan event korporat di hotel kami. Kalau dari Jazz-nya sendiri, dampaknya minim sekali," jelasnya.

Yeyen juga menyebut, mayoritas penonton yang hadir merupakan warga lokal. Jumlah wisatawan dari luar daerah bahkan sangat sedikit, dan hanya terlihat satu wisatawan asing selama acara berlangsung.

"Kalau ingin jadi event nasional, promosi harus digencarkan dan musisinya benar-benar dari genre jazz, atau bahkan menghadirkan artis internasional agar menarik wisatawan luar," tambahnya.

Upaya hotel untuk menjual paket bundling antara tiket dan kamar juga gagal menarik minat pasar. Menurutnya, jika tujuan acara lebih sebagai 'pesta rakyat', maka tidak heran bila okupansi hotel tidak terdampak secara signifikan.

"Memang ada beberapa pejabat daerah yang menginap di hotel kami kaitannya dengan acara ini. Cuma kalau paket menginap yang kami siapkan untuk acara Sunset Jazznya belum ada (pembelinya)," tandasnya. (*)

Editor : Marthadi
#Senggigi #jazz #sunset #Lombok Barat #Hotel #Asosiasi Hotel Senggigi