LombokPost - Di tengah kesibukan sebagai santri sekaligus alumni pondok pesantren, Khairsya Istiqomah bersama beberapa rekannya justru melahirkan sebuah gerakan kecil yang berdampak besar. Gerakan itu mereka beri nama Komunitas Berbagi, akronim dari Bersama Menebar Bahagia.
Komunitas ini lahir sekitar Maret 2022, berawal dari obrolan ringan di antara teman-teman pondok yang sama-sama memiliki kegelisahan. Mereka ingin melakukan kegiatan sosial secara mandiri, tanpa membawa nama lembaga atau menunggu instruksi siapa pun.
Keinginan itu tumbuh menjadi tekad. Mereka membuat grup, memilih nama, merancang kegiatan, hingga mencari relasi. Bagi mereka yang sehari-hari terbiasa dengan ritme organisasi pesantren, mengatur rundown acara bukanlah hal baru.
Namun bergerak tanpa bimbingan, memilih lokasi sosial, hingga mencari pendanaan adalah pengalaman yang sama sekali berbeda. Kini, Komunitas Berbagi memiliki anggota grup hingga ratusan orang, meski anggota aktifnya sekitar 30-an.
Mereka datang dari berbagai daerah. Mulai dari Lombok Timur, Narmada, sampai Kopang Lombok Tengah dipersatukan oleh latar belakang sebagai alumni pesantren dan semangat untuk berbagi.
"Komunitas ini tidak didirikan untuk sekadar menyalurkan bantuan materi. Fokus kami adalah interaksi membangun koneksi emosional dan menghadirkan kebahagiaan, khususnya bagi anak-anak panti asuhan atau para lansia di panti jompo," jelas Khairsya.
Berbagi dikatakannya bukan hanya soal uang. Ini adalah prinsip yang selalu mereka pegang. Karena itu, setiap kegiatan disusun dengan konsep yang mengedepankan kedekatan. Di panti asuhan, mereka mengadakan makan bersama, membagikan jajanan, hingga menghidupkan suasana dengan berbagai ice breaking.
Tidak jarang mereka juga membawa pakaian atau kebutuhan yang diminta pihak panti. Sementara di panti jompo, format kegiatan disesuaikan dengan aturan yang berlaku. Bila pihak panti melarang pemberian pakaian, mereka beralih menyediakan makanan yang aman bagi penghuni lansia. "Prinsip kami sederhana, membantu tanpa merepotkan pihak yang dibantu," timpal Ria, anggota Komunitas Berbagi lainnya.
Pada masa awal berdiri, tantangan terbesar komunitas ini justru sederhana namun krusial yakni dana. Banyak anggota khawatir kegiatan tidak berjalan dengan baik atau bantuan tidak mencukupi. Namun perlahan, melalui konsistensi dan komunikasi, Komunitas Berbagi mulai mendapatkan kepercayaan.
Mereka juga terlibat membantu kegiatan di TPQ, salah satunya saat perayaan Idul Adha. Mereka bahkan mencarikan tim Hadroh untuk memeriahkan acara hingga menarik perhatian warga setempat. Dari sekadar kelompok kecil santri yang ingin berbuat baik, Komunitas Berbagi kini tumbuh menjadi wadah sosial yang terus bergerak dari satu tempat ke tempat lain.
"Kami percaya bahwa kebahagiaan dapat ditebar dari hal-hal sederhana. Sapaan hangat, obrolan hangat, dan hati yang tulus untuk hadir bagi sesama," tandasnya.
Editor : Siti Aeny Maryam