Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Inaq Sakmah, Warga Desa Eat Mayang Dua Tahun Tinggal di Rumah Terpal, Jual Rumah karena Terlilit Utang di Bank, Tak Tenang Tidur Saat Musim Hujan

Hamdani Wathoni • Kamis, 8 Januari 2026 | 09:22 WIB
PASRAH: Inaq Sakmah dan putrinya Juliatni, warga Desa Eat Mayang tinggal di rumah terpal selama dua tahun terakhir.
PASRAH: Inaq Sakmah dan putrinya Juliatni, warga Desa Eat Mayang tinggal di rumah terpal selama dua tahun terakhir.

LombokPost - Selama musim hujan, Inaq Sakmah, 60 tahun, dan anaknya Juliatni, 42 tahun, tak bisa tidur nyenyak. Di bawah rumah terpal, air hujan merembes masuk ke dalam rumah mereka yang bocor di sejumlah titik.

Hidup kerap diibaratkan seperti roda yang berputar. Namun bagi Inaq Sakmah, putaran itu terasa terlalu tajam. Dua tahun terakhir, perempuan itu bersama putrinya, Juliatni, menjalani hari-hari berat di sebuah gubuk darurat berdinding terpal biru di Dusun Jelateng Barat, Desa Eyat Mayang, Kecamatan Lembar, Lombok Barat.

Di bawah terpal yang mulai usang dan robek di beberapa bagian, mereka bertahan dari panas dan hujan. Tak ada sekat ruang, tak ada perabot layak. Dapur kayu bakar, dipan tidur, dan tempat makan menyatu dalam satu ruang sempit beralaskan tanah.

"Tidak ada apa-apa di dalam rumah ini. Di sini tempat masak, tempat makan, dan tempat tidur,” ujar Inaq Sakmah kepada Lombok Post, Selasa (6/1).

Saat musim hujan, air kerap merembes masuk. Ketika kemarau tiba, panas matahari langsung menyengat. Dalam kondisi serba terbatas itu, Inaq Sakmah tetap berusaha bertahan hidup. Kadang ia menjual ubi goreng seharga tiga ribu rupiah. Namun ia seringkali juga bekerja sebagai buruh bata tanah liat dengan upah tak seberapa.

Ironisna kehidupan pahit ini bukan tanpa sebab. Dulu, Inaq Sakmah dikenal sebagai pedagang. Namun semua berubah ketika ia harus membiayai pendidikan anaknya. Usaha yang dijalani perlahan bangkrut, hingga akhirnya ia terjerat utang bank.

"Utang saya di bank sampai seratus juta lebih. Makanya saya jual rumah buat lunasin hutang, sisanya saya pakai beli tanah ini," akunya.

Rumah yang dulu menjadi tempat berteduh harus ditukar dengan sebidang tanah kosong. Di atas tanah itulah, gubuk terpal biru kini berdiri menjadi saksi kerasnya perjuangan seorang ibu.

Putrinya, Juliatni, juga bukan tanpa beban. Statusnya sebagai janda membuat tanggung jawab hidup semakin berat. Mereka hanya bisa saling menguatkan di tengah keterbatasan.

"Kami berharap ada bantuan untuk rumah layak huni. Kalau ada juga gerobak dorong biar bisa jualan keliling," harap Juliatni.

Kepala Desa Eyat Mayang Munawir Harismengaku telah mengajukan bantuan rumah layak huni ke Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Lombok Barat. Tahun 2025 lalu, empat unit rumah bantuan memang terealisasi.

Namun, persoalan data menjadi ganjalan. "Dari Perkim mengatakan bantuan sudah ditentukan sistem berdasarkan prioritas desil 1. Sementara Inaq Sakmah masuk desil 2," jelasnya.

Baca Juga: Nanang Samodra Lakukan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI Tahap IX, Perkembangan Konstitusi di Indonesia

Ia mengakui data kemiskinan masih perlu validasi. Bahkan, menurutnya, ada perangkat desa yang justru masuk kategori desil 1 meski kondisi ekonominya tak separah warga lain. "Padahal kami yang paling tahu kondisi desa," ungkapnya.

Meski belum bisa memberikan bantuan rumah layak huni bagi warganya, Kades mengaku pihaknya memastikan Inaq Sakmah dapat bantuan sosial seperti PKH hingga bantuang langsung tunai (BLT). (*)

Editor : Jelo Sangaji
#Lombok Barat #rumah #RTLH #miskin