LombokPost - Jika biasanya peringatan Isra Mikraj dirayakan dengan pengajian sederhana, tidak demikian dengan warga Dusun Jerneng Mekar, Desa Terong Tawah, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat.
Di kampung ini, peringatan perjalanan suci Nabi Muhammad SAW tersebut justru terasa seperti lebaran kedua, bahkan diklaim lebih meriah dibandingkan peringatan Maulid Nabi.
Sejak Sabtu malam (10/1), geliat persiapan sudah terasa. Warga mulai menyajikan hidangan bagi para tamu dan kerabat serta tamu undangan yang datang ke rumah mereka.
Namun, puncaknya terjadi pada Minggu pagi (11/1). Ratusan warga tampak berduyun-duyun memadati Musala Al-Muttaqin.
Tak sekadar datang untuk duduk bersama tanpa aktivitas, mereka membawa serta semangat kebersamaan yang kental, dibungkus dalam balutan tradisi islami yang telah turun-temurun.
Kepala Dusun Jerneng Mekar Fahmi mengungkapkan, kemeriahan ini bukanlah tanpa alasan.
Ada sejarah atau histori yang melatarbelakangi mengapa Israkl Mikraj menjadi begitu sakral bagi warga Jerneng Mekar.
"Dulu, warga sangat ingin membangun Musala Al-Muttaqin ini. Agar musala ini selalu ramai dan menjadi pusat kegiatan, para tokoh masyarakat bersepakat untuk menggelar peringatan Isra Mikraj secara besar-besaran," kenang Fahmi di sela-sela acara.
Strategi itu berhasil. Kini, meski musala sudah berdiri kokoh, tradisi tersebut justru semakin mengakar.
Sisi unik lainnya terletak pada konsep 'Meriap' atau tradisi menyajikan hidangan.
Seluruh warga dusun bergotong-royong menyiapkan dulang makanan terbaik untuk dinikmati bersama para tamu undangan.
Rendang, opor, sate, pelalah, hingga reraon dan menu lainnya disajikan bahi para tamu di musala.
Menariknya, kemiskinan tak jadi penghalang warga untuk berbagi. Dusun Jerneng Mekar memiliki mekanisme subsidi silang yang rapi.
"Jika ada warga yang kurang mampu secara ekonomi untuk menyiapkan hidangan, dana dari kas musala akan dibagikan kepada mereka. Tujuannya agar semua bisa ikut merasakan kemeriahan isra mikraj," tambah Fahmi.
Suasana di dalam musala Al-Muttaqin kian syahdu saat zikir dan doa mulai menggema.
Hadir di tengah-tengah warga, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini bersama jajaran tokoh masyarakat dan para tuan guru.
TGH Lalu Ahmad Zaenuri yang hadir sebagai penceramah memberikan pesan mendalam tentang esensi Isra Mikraj.
Ia menekankan bahwa inti dari peristiwa besar tersebut adalah perintah salat.
"Salat adalah tiang agama. Baik buruknya amal kita yang lain sangat bergantung pada bagaimana kita menjaga salat," tegas TGH Lalu Ahmad Zaenuri di depan para jamaah. Dia juga mengingatkan, khususnya bagi kaum laki-laki, untuk mengutamakan salat berjemaah di masjid atau musala.
Sesibuk apa pun aktivitas duniawi yang sedang dijalani. Karena banyak keutamaan salat berjamaah di masjid dan musala.
Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini tak bisa menyembunyikan kekagumannya.
Baginya, apa yang terjadi di Dusun Jerneng adalah fenomena budaya dan religi yang luar biasa.
Ia menyebut antusiasme warga mengingatkan pentingnya peringatan Isra Mikraj.
"Ini luar biasa. Bahkan saya lihat di beberapa tempat lebih ramai dari Maulid. Tradisi seperti ini harus dijaga, karena di sinilah momen masyarakat bisa saling bersilaturahmi dan memperkuat ikatan persaudaraan," ujar Bupati LAZ, sapaannya.
Baginya, perayaan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan warisan tradisi yang mempererat struktur sosial masyarakat Lombok Barat yang dikenal religius. (*)
Editor : Kimda Farida