LombokPost - Banjir yang menyelimuti wilayah Sekotong, Selasa (13/1) menelan korban. Nurinah, 68 tahun, warga Desa Persiapan Belongas, Kecamatan Sekotong Lombok Barat meninggal dunia terseret banjir.
Jenazahnya telah dimakamkan Rabu (14/1) di pemakaman setempat. Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini dan Wakil Bupati Nurul Adha datang ke rumah duka di sela-sela kunjungannya meninjau sejumlah lokasi banjir di Sekotong.
"Hujan terjadi di wilayah kami mulai jam 02.00 siang sampai malam. Korban ini hanyut sekitar 50 meter dari kediamannya jam 04.00 sore lalu ditemukan jenazahnya pukul 05.00 sore," kata Kepala Desa Persiapan Belongas H Alwi.
Korban yang sudah berusia lanjut tak bisa berenang. Sementara ketinggian banjir saat itu disebut kades mencapai 2 meter. Ini yang akhirnya membuat korban tak bisa menyelamatkan diri. "Banjir berasal dari luapan sungai yang melintas. Karena sungainya mendangkal akibat sedimentasi," kata H Alwi.
Camat Sekotong Andi Purnawan menyampaikan jika banjir memang terjadi di tujuh desa wilayah Sekotong. Mulai dari yang terparah di Desa Persiapan Pengantap, Desa Persiapan Belongas, Desa Buwun Mas, Desa Taman Baru, Desa Sekotong Tengah hingga Desa Cendi Manik.
"Yang parah itu memang Desa Persiapan Pengantap seperti yang viral di video (banjir hingga atap rumah warga). Tapi yang menelan korban jiwa itu di Belongas," bebernya.
Total ada ribuan kepala keluarga yang terdampak banjir. Rumah warga saat ini beberapa ada yang rusak hingga tertimbun lumpur. Banjir ini terjadi di beberapa desa menurutnya selain karena luapan air sungai, juga akibat air laut pasang. Air sungai tidak bisa mengalir ke laut karena permukaan air laut yang juga naik.
Dampaknya, air sungai meluber ke pemukiman warga. Disinggung mengenai seringnya wilayah Sekotong banjir apakah ini akibat aktivitas penambangan liar, Camat tak menampik hal tersebut.
"Memang ada kaitannya, karena kan ada lubang dibuat. Cuma kalau penambang tradisional kan maksimal satu hektare dan itu pun tidak satu tempat buat lubangnya. Jadi dampaknya tidak terlalu besar," jelasnya.
Yang jadi masalah adalah penambangan menggunakan alat berat. Ini yang dinilai cukup berbahaya terhadap kerusakan alam dan berdampak terhadap banjir. "Ini kan kita kucing-kucingan. Makanya pengawasan dan sanksi penegakan hukum harus tegas. Tapi sanksi pun kita harus lihat jangan sampai membenturkan aparat dengan masyarakat," jelasnya.
Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini juga menyinggung jika banjir dipicu banyak hal. Selain karena geografis alam, sampah, hingga penyempitan sungai, tambang juga menjadi salah satu pemicunya. "Itu juga memang kalau kita lihat tambang ilegal ini juga berkontribusi (terhadap banjir) karena ada penggalian di atas (bukit) kemudian tidak ditutup (bekas galian) dan merusak vegetasi," jelasnya.
Namun Pemda tak bisa berbuat banyak terhadap tambang ilegal di Sekotong karena kewenangan pertambangan tidak ada di kabupaten. "Kewenangannya ada di pemerintah pusat dan provinsi. Cuma dampaknya di wilayah kami," sesalnya.
Untuk langkah penanganan jangka pendek banjir yang harus segera dilakukan ditegaskan Bupati LAZ adalah pembersihan saluran air dan daerah aliran sungai. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan dalam waktu dekat dengan melibatkan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi NTB serta Balai Wilayah Sungai (BWS) Provinsi.
"Penanganan ini tidak mungkin dilakukan pemerintah sendiri. Diperlukan partisipasi bersama untuk menjaga ekosistem. Aktivitas yang merusak lingkungan seperti penebangan pohon harus dihentikan. Jika kita tidak bersahabat dengan alam, maka alam akan menghukum kita, seperti yang terjadi saat ini,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa bencana banjir di wilayah Sekotong menyebabkan satu orang korban jiwa. Sementara itu, data kerusakan dan dampak lainnya masih dalam proses pendataan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Barat dan akan disinkronkan dengan BPBD Provinsi NTB.
Senada dengan Bupati Lobar, Gubernur NTB yang juga turun ke lokasi banjir mengatakan pihaknya siap memetakan kebutuhan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang penanganann banjir. Ia menjelaskan, pada tahap awal, perhatian pemerintah difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Bahan pangan dan kebutuhan pokok menjadi prioritas utama agar warga dapat segera melanjutkan kehidupan sehari-hari dengan lebih tenang. Bantuan sembako telah disalurkan oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, Pemerintah Provinsi NTB, serta Baznas Provinsi NTB dan Baznas Kabupaten Lombok Barat.
"Bantuan sembako sudah didrop dan kebutuhan dasarnya sudah diidentifikasi," ungkapnya. Iqbal menambahkan, tim teknis akan segera melakukan pengambilan sedimentasi sungai dengan metode pengemasan pasir ke dalam karung sebagai tanggul sementara.
Langkah ini diharapkan mampu mengurangi risiko banjir susulan dan memberikan rasa aman bagi masyarakat sekitar. "Problem utamanya ada di sungai dan drainase di wilayah ini, sehingga itu yang kita tangani terlebih dahulu," ucapnya.
Editor : Akbar Sirinawa