Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

PWRI Kecamatan Lingsar Lombok Barat Santuni Ratusan Anak Yatim dan Lansia

Ali Rojai • Minggu, 18 Januari 2026 | 22:55 WIB
Ketua PWRI Lobar H Mahyudin (kanan) menyerahkan santunan secara simbolis kepada Ketua PWRI Lingsar Akhmad Adil di Masjid Qomarul Huda, Desa Lingsar, Sabtu (17/1). PWRI santuni ratusan yatim dan lansia
Ketua PWRI Lobar H Mahyudin (kanan) menyerahkan santunan secara simbolis kepada Ketua PWRI Lingsar Akhmad Adil di Masjid Qomarul Huda, Desa Lingsar, Sabtu (17/1). PWRI santuni ratusan yatim dan lansia

LombokPost- Semangat pengabdian tidak berhenti meski masa tugas telah usai. Hal inilah yang ditunjukkan Pengurus Cabang (PC) Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kecamatan Lingsar, Lombok Barat melalui kegiatan rutin santunan anak yatim dan lansia.

Dengan mengusung moto “Purna Tugas Bukan Purna Bakti”, para pensiunan ini terus aktif menebar manfaat di tengah masyarakat.

Kegiatan santunan anak yatim dan lansia PWRI Lingsar digelar di Masjid Qomarul Huda, Desa Lingsar, Sabtu (17/1). Acara dihadiri Ketua PWRI Lobar H Mahyudin, perwakilan Kecamatan Lingsar, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta puluhan anak yatim piatu dan lansia.

Ketua PWRI Kecamatan Lingsar Akhmad Adil mengatakan sejak dikukuhkan pada Agustus 2023, PWRI Lingsar langsung fokus pada program sosial yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Salah satunya adalah santunan anak yatim dan lansia yang kini menjadi agenda rutin tahunan.

Pada tahun 2024, PWRI Lingsar menyalurkan santunan kepada 50 anak yatim. Jumlah tersebut meningkat signifikan pada 2025, dengan total 100 penerima manfaat, terdiri dari 75 anak yatim piatu dan 25 lansia dari berbagai desa di Kecamatan Lingsar.

Alhamdulillah, meski sudah purna tugas, kami masih bisa bergerak dan bermanfaat. Purna tugas bukan berarti purna bakti, justru menjadi fase untuk memperbanyak pengabdian,” ujar Adil.

Menariknya, seluruh dana santunan PWRI Lingsar dikelola secara mandiri oleh para anggota. Selain iuran bulanan sebesar Rp 50 ribu, PWRI Lingsar juga menggagas Gerakan Menabung Subuh, yakni menyisihkan uang mulai dari Rp 5 ribu setiap subuh untuk dana sosial.

Tak hanya itu, PWRI Lingsar juga menjalin kolaborasi dengan pihak eksternal, seperti Bank NTB Syariah untuk pengadaan bantuan sembako. Program sosial ini bahkan bisa dilaksanakan dua kali dalam setahun, terutama pada momen-momen keagamaan seperti bulan Asyura.

Selain kepedulian eksternal kata Adil, PWRI Lingsar juga memperhatikan kesejahteraan anggotanya. Jika ada anggota yang sakit atau meninggal dunia, organisasi memberikan santunan solidaritas sebesar Rp 200 ribu sebagai wujud kekeluargaan di masa pensiun.

Sementara itu, Ketua PWRI Lobar H Mahyudin menegaskan, bahwa semangat pengabdian tidak mengenal kata pensiun. Menurutnya, para pensiunan yang tergabung dalam PWRI memiliki pengalaman panjang, mulai dari guru hingga pejabat pemerintahan selama puluhan tahun.

”Kami tidak ingin hanya berdiam diri. PWRI ingin tetap berkontribusi membantu pemerintah dan masyarakat, termasuk dalam isu lingkungan hidup,” ujar Mahyudin.

Salah satu fokus yang didorong PWRI adalah edukasi kelola sampah untuk cegah banjir. Mahyudin menilai rendahnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan menjadi pemicu utama banjir di berbagai daerah.

PWRI mendorong edukasi dimulai dari lingkup terkecil, yakni keluarga, dengan membangun kebiasaan tidak membuang sampah sembarangan. Bahkan, PWRI mengusulkan menghidupkan kembali budaya lubang sampah di pekarangan rumah untuk sampah organik agar tidak menyumbat saluran air.

”Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil, dari halaman rumah sendiri,” tandas Mahyudin.

Editor : Rury Anjas Andita
#Iuran #PWRI Kecamatan Lingsar #menabung #penerima manfaat #PWRI Lombok Barat #asyura #santunan #Lansia #Persatuan Wredatama Republik Indonesia #peduli lingkungan #simbolis #yatim piatu #Sembako