LombokPost – Pemerintah Desa Sedau, Kecamatan Narmada, terus berupaya memperkuat kemandirian ekonomi desa.
Dua sektor utama, yakni pariwisata dan ketahanan pangan, kini menjadi mesin pencetak Pendapatan Asli Desa (PADes) yang diandalkan untuk membiayai pembangunan di tingkat akar rumput.
"Potensi pariwisata di Gunung Jae sudah mampu memberikan sumbangan nyata, baik untuk PADes maupun PAD Kabupaten," ujar Kepala Desa Sedau Amir Syarifudin.
Dia mengungkapkan, objek wisata Gunung Jae tetap menjadi primadona. Keberhasilan pengelolaan wisata ini tidak hanya dirasakan oleh desa, tetapi juga berkontribusi pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Lombok Barat.
Berdasarkan data pengelolaan, tren PADes dari sektor wisata ini cukup fluktuatif namun tetap konsisten.
Amir merincikan, pada tahun pertama pengelolaan, Gunung Jae sempat menyumbang Rp 30 juta. Di tahun-tahun berikutnya, angka tersebut berada di kisaran Rp 15 juta hingga Rp 12 juta.
"Tahun terakhir, setelah ada bagi hasil dengan Pemerintah Daerah (Pemda) sebesar Rp 15 juta, desa menerima sekitar Rp 7 hingga Rp 8 juta per tahun. Ini modal penting bagi kami untuk membangun desa secara mandiri," jelasnya.
Selain pariwisata, Desa Sedau kini merambah sektor ketahanan pangan untuk memperluas sumber pendapatan.
Salah satu program unggulan yang tengah disiapkan adalah pembangunan kandang ayam petelur. Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi pada Februari mendatang.
"Kami harap dari dua sektor ini wisata dan ketahanan pangan bisa menambah pembiayaan desa melalui PADes yang lebih maksimal," tambah Amir.
Meski telah meraih predikat juara pertama lomba Anugerah Desa Wisata Lombok Barat kategori Kelembagaan dan SDM, Amir mengakui masih banyak aspek yang perlu ditingkatkan.
Ia berharap adanya dukungan fiskal dan intervensi dari pemerintah pusat, provinsi, maupun kabupaten, khususnya untuk pengembangan sarana prasarana.
Konsep pengembangan ke depan tetap mempertahankan nuansa alam melalui camping ground dan outbound.
Namun, ia juga melirik potensi pembangunan fasilitas pendukung seperti gedung keserasian atau meeting room di atas lahan milik Pemda yang ada di kawasan tersebut.
"Kami butuh dukungan untuk pembangunan fisik seperti gedung pertemuan yang nantinya bisa dikoneksikan dengan wisata alam dan kuliner," harapnya. Jika fasilitas ini tersedia, Pemdes bisa menyewakannya untuk pertemuan-pertemuan formal, yang tentu akan mendatangkan pendapatan lebih besar lagi bagi desa.
Editor : Kimda Farida