Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

LombokCare Intensifkan Penanganan Clubfoot di Lobar, Targetkan Koreksi Normal hingga 94 Persen ​

Hamdani Wathoni • Jumat, 23 Januari 2026 | 13:46 WIB
DISABILITAS: Yayasan LombokCare bersama Pemerintah Kecamatan Batulayar dan Gunungsari dan pihak puskesmas sosialisasi terkait penanganan kaki pengkor di Aula Kantor Camat Batulayar, Kamis (22/1).
DISABILITAS: Yayasan LombokCare bersama Pemerintah Kecamatan Batulayar dan Gunungsari dan pihak puskesmas sosialisasi terkait penanganan kaki pengkor di Aula Kantor Camat Batulayar, Kamis (22/1).

LombokPost – Yayasan LombokCare terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas di Provinsi NTB. Khususnya di Lombok Barat.

Kali ini, fokus utama diarahkan pada penanganan anak-anak dengan kondisi Clubfoot atau yang biasa dikenal dengan kondisi kaki pengkor.

"Inovasi baru dalam penanganan clubfoot ini benar-benar bisa membantu anak-anak mengoreksi keadaannya hingga 94 persen kembali normal," ujar Ketua Yayasan LombokCare Apip Sutardi kepada Lombok Post, Kamis (22/1).

Dia mengungkapkan, inovasi dalam penanganan clubfoot ini menjadi krusial demi masa depan anak-anak yang lebih baik.

Mengingat, jika ditangani dengan tepat dan sedini mungkin, tingkat keberhasilan koreksi fisik dapat mencapai angka yang sangat signifikan.

​​Data menunjukkan bahwa rasio kelahiran anak dengan kondisi clubfoot adalah 1 berbanding 800 kelahiran.

Khusus di wilayah NTB, diperkirakan terdapat sekitar 93 kasus kelahiran clubfoot setiap tahunnya.

Angka inilah yang menjadi target sasaran LombokCare untuk segera dilakukan penyisiran dan penanganan. ​

Sebagai langkah nyata, LombokCare menggelar workshop yang melibatkan bidan-bidan desa dari empat Puskesmas di dua kecamatan, yakni Kecamatan Gunungsari dan Batulayar.

Puskesmas yang terlibat antara lain Puskesmas Meninting, Gunungsari, Mambalan, dan Penimbung.

Bidan dianggap sebagai ujung tombak karena mereka yang pertama kali menemui kasus kelahiran di tengah masyarakat. ​

"Tujuannya agar bidan-bidan ini bisa secepatnya memberikan informasi kepada kami atau rumah sakit terdekat agar segera ditangani," jelasnya. ​Salah satu kendala utama selama ini adalah faktor ekonomi, terutama biaya pengadaan brace atau sepatu khusus yang harganya mencapai Rp 2,5 juta per pasang.

Padahal, sepatu ini harus diganti secara berkala sesuai pertumbuhan usia anak. ​Guna meringankan beban orang tua, LombokCare memberikan layanan penanganan hingga sepatu khusus tersebut secara gratis.

Program ini didukung oleh PR YAKKUM Yogyakarta serta bantuan dari Amerika Serikat. ​

"Di kami penanganan itu gratis semua, termasuk sepatunya. Kita bereskan masalah biaya ini supaya orang tua lebih semangat mendampingi proses penyembuhan anaknya," tegas Apip.

Camat Batulayar Subayyin dan juga Camat Gunungsari Zulkifli memgapresasi program ini.

Mereka berharap pihak puskesmas bisa berkolaborasi dengan Yayasan LombokCare untuk memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak yang lahir dengan kondisi disabilitas.

"Kolaborasi dan sinergitas seperti ini memang sangat dibutuhkan. Sosialisasi harus terus digencarka agar lebih banyak masyarakat khususnya anak-anak disabiltas terbantu," jelas camat Batulayar maupun Gunungsari. 

Editor : Kimda Farida
#disabilitas #Lombok Barat #Lombokcare #PEDULI