LombokPost - Nasi goreng mungkin terdengar biasa, namun di tangan kreatif siswa SMKN 1 Gerung, hidangan sejuta umat ini berubah menjadi sajian eksklusif khas Lombok Barat kaya gizi.
Dengan sentuhan kearifan lokal, tiga pelajar SMKN 1 Gerung berhasil menyulap sayur lebui, kedelai khas Lombok, menjadi primadona dalam ajang lomba kuliner yang digelar Universitas Bumi Gora. Tak tanggung-tanggung, inovasi ini sukses menyabet gelar juara pertama, menyisihkan peserta dari berbagai sekolah menengah kejuruan lainnya.
Ratih Dwi Safitri, siswi jurusan kuliner kelas XII, tampak antusias saat menceritakan perjalanan timnya. Bersama dua rekannya, Arbi Ansori dan M. Faridh Alan, Ratih meramu konsep nasi goreng yang tidak hanya lezat, tapi juga memiliki nilai filosofis dan gizi yang kuat.
"Kami ingin mengangkat pangan lokal Lombok. Selama ini lebui hanya dimasak sayur biasa. Kami coba masukkan ke nasi goreng untuk memberikan tekstur dan rasa yang beda," ujar Ratih saat ditemui di sekolahnya, Senin (2/2).
Keunikan utama menu ini terletak pada teknik penyajiannya yang menyerupai sushi khas Jepang. Faridh Alan menjelaskan bahwa nasi goreng tersebut di-roll atau digulung untuk memberikan tampilan modern yang menarik bagi generasi muda.
"Isinya lengkap, ada lebui, bumbu khas, dan sebagai pengganti nori atau rumput laut, kami menggunakan daun pepaya Jepang," jelas Faridh. Penggunaan daun pepaya Jepang ini pun bukan tanpa alasan.
Selain memberikan warna hijau yang segar, daun ini tidak memiliki rasa pahit jika diolah dengan benar melalui teknik blanching.
Guru pendamping yang juga merupakan lulusan Sarjana Ahli Gizi Noviana Hidayah Rahmah menjelaskan, menu ini dirancang khusus untuk memenuhi standar gizi seimbang. Mengusung konsep 'Isi Piringku', setiap porsi nasi goreng lebui telah dihitung kalorinya secara presisi.
"Satu porsinya sekitar 500 kalori, sangat cukup untuk sarapan anak sekolah. Kami ingin menunjukkan bahwa makanan bergizi tidak harus mahal dan membosankan," kata Novi, sapaannya.
Dia menambahkan, inovasi ini bisa menjadi solusi alternatif untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang dicanangkan pemerintah. Selama ini, menu MBG seringkali dianggap monoton dengan lauk tahu-tempe.
Dengan mengganti protein nabati dari kacang lebui dan protein hewani dari telur gulung, biaya produksi per porsi dapat ditekan hingga di bawah Rp 10.000 jika udang (sebagai hiasan) ditiadakan.
"Kalau untuk komersil atau program sekolah, udang bisa dihilangkan tanpa mengurangi nilai gizi intinya," paparnya.
Selain itu, menu ini juga sangat berpotensi untuk masuk ke pasar UMKM. Aroma gurih, pedas, dan sedikit manis yang ditonjolkan dari bumbu sambal merah khas Lombok membuat juri terkesima.
Inovasi ini membuktikan bahwa siswa SMK tidak hanya mahir dalam hal teknis memasak, tetapi juga mampu melakukan riset gizi dan pengembangan produk yang memiliki nilai jual tinggi. Kini, nasi goreng lebui bukan lagi sekadar menu lomba, melainkan simbol kebanggaan pangan lokal yang siap bersaing di kancah yang lebih luas. (*)
Editor : Jelo Sangaji