Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tiket Mendaki Hanya Rp 10 ribu, Bukit Keteri Lombok Barat Bisa Jadi Obat Penat dan Gabut

Hamdani Wathoni • Kamis, 12 Februari 2026 | 09:58 WIB
TEMPAT HEALING: Puncak Bukit Keteri Lombok Barat kini menjadi salah satu destinasi favorit warga.
TEMPAT HEALING: Puncak Bukit Keteri Lombok Barat kini menjadi salah satu destinasi favorit warga.

LombokPost - Alam kadang bisa memberi inspirasi dan jawaban atas berbagai persoalan yang dihadapi. Ini yang kemudian menjadi alasan beberapa orang beramai-ramai datang ke Bukit Keteri, Summit, Lombok Barat.

Kabut pagi masih menggantung tipis ketika langkah-langkah kecil para pendaki mulai menyusuri jalur Bukit Keteri. Dari ketinggian, hamparan alam terbuka menyuguhkan pemandangan yang perlahan menghapus penat.

Di tempat inilah, Ita bersama rekan-rekannya kembali menemukan ketenangan. Perempuan asal Dasan Tapen itu mengaku sudah dua kali mendaki Bukit Keteri. Alasannya sederhana.

"Pemandangannya indah, bikin pikiran tenang. Udaranya juga menyegarkan," ujarnya sambil melepas lelah. Bagi Ita, Bukit Keteri bukan sekadar tujuan wisata, melainkan ruang jeda dari rutinitas yang melelahkan. Ia tidak sendiri.

Bukit Keteri kini menjadi magnet baru bagi pencinta alam. Tak hanya dari Lombok Barat, pendaki juga datang dari Lombok Timur, Lombok Tengah, hingga Kota Mataram. Bahkan, beberapa di antaranya berasal dari luar Pulau Lombok. "Kalau lagi penat dan gabut, mendaki Bukit Keteri jadi salah satu solusi," kata Ita.

Dibuka untuk umum sejak 2025, Bukit Keteri menunjukkan geliat yang menjanjikan. Heri, salah satu pengelola, menyebut jumlah kunjungan terus mengalami peningkatan. Pada hari biasa, pengunjung berkisar 10 hingga 15 orang per hari. Namun saat akhir pekan, jumlah itu melonjak drastis.

“Bisa lebih dari 50 orang, terutama karena aktivitas camping,” jelasnya. Selain berkemah, pendakian santai menjadi daya tarik utama. Jalur yang relatif ramah dan pemandangan yang terbuka membuat Bukit Keteri cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati alam tanpa harus menghadapi tantangan ekstrem.

Tiket masuk pun terjangkau, hanya Rp 10 ribu per orang. Namun, Bukit Keteri bukan hanya soal panorama dan adrenalin. Kehadirannya perlahan menggerakkan roda ekonomi warga sekitar. Dari basecamp hingga Pos 3, aktivitas perdagangan mulai hidup. Pengelola pun menggandeng kelompok Hutan Kemasyarakatan (HKM) untuk memastikan pengelolaan kawasan tetap berkelanjutan.

Nurminah menjadi salah satu wajah dari perubahan itu. Pedagang kecil di Pos 3 Bukit Keteri ini merasakan langsung dampak wisata. Sebelum Bukit Keteri ramai dikunjungi, ia tak memiliki pekerjaan tetap. Kini, ia menggantungkan hidup dari berjualan kebutuhan pendaki. Setiap hari, Nurminah harus mengangkut sendiri barang dagangannya dari kaki bukit.

Waktu tempuhnya tak singkat, sekitar 40 menit hingga satu jam perjalanan menanjak. Di lapaknya, ia menjual makanan ringan, es, kopi, hingga pop mi yang jadi favorit pendaki. Usahanya berbuah manis. Pada hari biasa, ia bisa mengantongi Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu per hari.

Saat akhir pekan, pendapatannya melonjak hingga Rp 400 ribu sampai Rp 500 ribu. Meski berada di ketinggian, ia tetap menjaga harga. Air mineral yang di bawah dijual Rp 3 ribu hingga Rp 4 ribu, di atas hanya Rp 5 ribu. "Biar pendaki nyaman dan usaha bisa jalan terus," tandasnya. 

Editor : Jelo Sangaji
#trekking #Lombok Barat #tektok #healing #Bukit Keteri