Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kisah Pasutri Warga Telagawaru Lumpuh yang Ditemukan Anggota Dewan Lobar Doktor Syamsuriansah

Hamdani Wathoni • Senin, 2 Maret 2026 | 22:01 WIB

Anggota DPRD Dapil Labuapi-Kediri Dr. Syamsuriansah saat turun meninjau kondisi Mahnan, warga Desa Telagawaru, Lombok Barat yang lumpuh.
Anggota DPRD Dapil Labuapi-Kediri Dr. Syamsuriansah saat turun meninjau kondisi Mahnan, warga Desa Telagawaru, Lombok Barat yang lumpuh.

LombokPost - Anggota DPRD Dapil Labuapi-Kediri Dr. Syamsuriansah tak kuasa menahan iba. Kala menemukan Mahnan dan istrinya terbaring lumpuh di rumahnya. Pasutri ini selama ini luput dari perhatian Pemkab Lombok Barat.

Di sebuah sudut Desa Telaga Waru, tepatnya di Dusun Gubuk Aide, waktu seolah berhenti di sebuah rumah yang jauh dari kata layak. Di sana, pasangan suami istri, Mahnan dan istrinya, hanya bisa terbaring pasrah. Kelumpuhan telah merampas kemandirian mereka selama setahun terakhir.

Tragisnya, di tengah kondisi fisik yang kian mengkhawatirkan karena komplikasi penyakit, mereka seolah terlupakan oleh sistem bantuan pemerintah. ​Kisah pilu ini terkuak saat anggota DPRD Lombok Barat Dr. Syamsuriansah turun langsung melakukan kunjungan lapangan. Pemandangan yang ia dapati sungguh menyayat hati.

Tidak hanya soal penyakit yang diderita, namun kondisi lingkungan rumah yang sangat tidak mendukung proses penyembuhan.

​"Kondisinya sangat memprihatinkan. Suami istri lumpuh, sudah setahun. Dan yang lebih menyedihkan, yang mengurus mereka adalah anak-anaknya. Satu masih SMP dan anak pertamanya laki-laki terpaksa tidak bekerja karena harus total mengurus orang tuanya," ujar Syamsuriansah dengan nada bicara yang bergetar menahan emosi. ​

Syamsuriansah tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Bagi politisi Partai Perindo ini, kasus Pak Mahnan adalah rapor merah bagi koordinasi birokrasi di tingkat bawah. Ia menyayangkan bagaimana kondisi yang sudah berlangsung setahun ini bisa luput dari perhatian Dinas Sosial maupun perangkat desa setempat.

​"Pertanyaan saya sederhana, selama setahun ini kita ngapain aja?" cetusnya retoris.

Ia menegaskan, pemerintah tidak boleh hanya bekerja berdasarkan laporan di atas meja atau menunggu viral di media sosial. Sinergi antara Dinas Sosial dan pemerintah desa harusnya menjadi detektor utama kemiskinan dan penderitaan warga. ​Melihat urgensi tersebut, Syamsuriansah bergerak cepat. Secara pribadi, ia memberikan bantuan sembako dan kebutuhan mendasar.

Namun, ia sadar bantuan insidental bukanlah solusi jangka panjang. Ia langsung menghubungi Dinas Sosial untuk memastikan keluarga Pak Mahnan masuk dalam kategori Desil 1 atau kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah yang berhak mendapatkan bantuan penuh dari negara. ​"Saya langsung minta didata untuk Desil 1. Hak-hak mereka harus dipenuhi, mulai dari kursi roda hingga jaminan kebutuhan makan ke depannya," tegasnya.

​Ada momen haru saat kunjungan tersebut. Syamsuriansah memberikan penghargaan khusus kepada anak Mahnan yang masih SMP. Tergerak oleh pengabdian sang anak kepada orang tuanya, ia menjanjikan beasiswa kuliah hingga tuntas di masa depan. Janji itu disambut tangis haru oleh Mahnan.

​Aksi turun ke lapangan ini, menurut Syamsuriansah, adalah bentuk refleksi bagi semua pejabat publik. Ia berharap kasus di Gubuk Aide menjadi yang terakhir. "Jangan sampai kita baru bergerak setelah ada laporan atau setelah kondisinya sudah sangat parah. Negara harus hadir sebelum air mata warga terjatuh," pungkasnya. (*)

Editor : Marthadi
#warga #Lombok Barat #lumpuh #DPRD Lobar #PEDULI