LombokPost – Kenaikan harga bahan pokok beberapa waktu terakhir mulai dirasakan dampaknya oleh pelaku usaha kuliner.
Kondisi ini memaksa pemilik rumah makan melakukan berbagai penyesuaian agar operasional usaha tetap berjalan tanpa harus menaikkan harga menu bagi konsumen.
Salah satu yang merasakan tekanan tersebut adalah Rumah Makan Sukmarasa di wilayah Labuapi, Lombok Barat.
Pengelola usaha ini mengaku harus menyiasati lonjakan harga bahan baku yang fluktuatif, terutama pada komoditas dapur utama seperti cabai.
"Pengaruhnya sangat terasa bagi usaha kuliner. Harga beberapa bahan baku, khususnya cabai dan kebutuhan dapur lainnya, fluktuasinya cukup tinggi," jelas Manajer Outlet Sukmarasa Dian Safitri.
Jika dibandingkan dengan beberapa bulan atau tahun sebelumnya, kenaikannya sekarang dikatakannya jauh lebih besar.
Dengan perubahan harga yang tidak menentu membuat pihaknya harus lebih cermat dalam menghitung biaya produksi.
Meski demikian, pihak rumah makan memilih untuk tidak menaikkan harga menu yang dijual kepada pelanggan.
Keputusan tersebut diambil sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat yang saat ini juga tengah menghadapi tekanan ekonomi.
Dian menegaskan, kebijakan tersebut juga diiringi dengan komitmen mempertahankan standar kualitas makanan.
Ia memastikan tidak ada pengurangan takaran bahan yang digunakan dalam setiap menu.
"Harga menu tetap sama seperti sebelumnya. Dari standar operasional yang kami miliki juga tidak ada perubahan gramatur bahan. Misalnya penggunaan cabai tetap sesuai standar, meskipun harganya naik," katanya.
Menurutnya, lonjakan harga bahan pokok lebih banyak berdampak pada peningkatan biaya produksi atau harga pokok penjualan (HPP).
Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha kuliner untuk tetap menjaga stabilitas usaha.
Di sisi lain, dinamika harga pasar juga memengaruhi hubungan dengan para pemasok bahan baku.
Pihak supplier biasanya menyesuaikan harga dengan kondisi pasar di tingkat produsen maupun jalur distribusi.
"Supplier tetap ada, tetapi mereka juga mengikuti tren harga di pasar. Jadi ketika harga di pasar naik, otomatis kami juga ikut merasakan dampaknya," jelas Dian.
Untuk beberapa jenis bahan seperti sayur-mayur, pihaknya masih memiliki pilihan alternatif pemasok sehingga bisa mencari harga yang lebih kompetitif.
Namun kondisi berbeda terjadi pada bahan utama seperti daging dan cabai yang memiliki pilihan pemasok terbatas.
"Kalau sayur masih bisa mencari supplier lain ketika harganya lebih tinggi. Tapi untuk bahan utama seperti daging dan cabai, pilihannya tidak banyak sehingga kami tetap bergantung pada pemasok yang sama," ujarnya.
Dian menambahkan, dalam struktur biaya operasional rumah makan, komponen bahan baku menjadi pengeluaran terbesar.
Persentasenya bahkan dapat mencapai lebih dari 60 persen dari total biaya operasional. Karena itu, setiap perubahan harga bahan pokok di pasar akan langsung berdampak pada keberlangsungan usaha kuliner.
Sementara itu, kenaikan harga bahan pokok juga diakui para pedagang di pasar tradisional.
Salah seorang pedagang di Pasar Gerung Hj Rapiah mengatakan harga sejumlah komoditas mulai merangkak naik sejak memasuki bulan Ramadan.
"Yang paling terasa itu cabai. Sekarang harganya sudah di atas Rp110 ribu per kilogram," ungkapnya. Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal sebelummya sudah turun langsung meninjau harga bahan pokok di Pasar Gerung.
Dari hasil pemantauan, selain cabai, beberapa komoditas lain seperti ayam juga mengalami kenaikan harga.
Pemerintah Provinsi NTB berencana menggelar operasi pasar untuk memastikan ketersediaan bahan pokok sekaligus menekan lonjakan harga di tingkat konsumen.
"Kami akan melakukan operasi pasar agar stok tetap tersedia dan harga bisa lebih stabil," kata Iqbal.
Editor : Kimda Farida