LombokPost - Malam itu, langit Lombok Barat seolah ikut bergetar. Gema takbir bersahut-sahutan, mengalun dari ribuan suara yang memadati Alun-Alun Giri Menang Park (GMP).
Menyisakan cerita Hari Kemenangan yang tak terlupakan.
Festival Gema Takbir 2026 Lombok Barat bukan sekadar perayaan, melainkan panggung besar yang menampilkan wajah religius sekaligus kreatif masyarakat.
Sebanyak 27 kafilah dari lima kecamatan ambil bagian.
Mereka datang bukan hanya membawa lantunan takbir, tetapi juga karya-karya spektakuler yang memikat mata.
Miniatur masjid megah berdiri kokoh di atas kendaraan hias, lengkap dengan detail arsitektur yang rumit.
Bahkan, ada kubah masjid yang dapat berputar otomatis, menjadi pusat perhatian sepanjang pawai.
Pawai dimulai dari Taman Kehati, menyusuri koridor utama perkantoran daerah, hingga berakhir di Taman Kota Giri Menang. Sepanjang rute, masyarakat berjejer di pinggir jalan.
Mereka tidak sekadar menonton, tetapi larut dalam suasana. Takbir yang menggema menciptakan nuansa haru sekaligus kebanggaan.
Kafilah dari Dasan Geres menghadirkan miniatur masjid yang memukau dengan sentuhan artistik.
Namanya Masjid Cahaya karya remaja masjid Baituttohirin Lingkungan Dasan Geres Barat, Kelurahan Dasan Geres.
Sementara remaja masjid Dodokan tampil inovatif dengan replika Bundaran Giri Menang Square lengkap dengan air mancur dan desain menyerupai kawasan GMP.
Kreativitas ini menjadi bukti bahwa semangat syiar Islam mampu berjalan beriringan dengan inovasi.
Begitu juga beberapa karya lain yang tak kalah istimewa lengkap dengan atraksinya. Namun dari sekian peserta, kafilah Dasan Geres akhirnya diumumkan menjadi juara.
"Kami sangat bersyukur tahun ini meraih tiga juara. Pertama juara I, juara harapan I dan Juara Harapan II Harapan. Ini anugerah yang luar biasa. Kami ucapkan terima kasih kepada warga remaja dan takmir masjid," ucap Lurah Dasan Geres Umar Syarafudin kepada Lombok Post.
Mengirimkan enam kafilah, Lurah menyebut pawai tahun ini sangat istimewa.
"Semaraknya luar biasa dan antusias masyarakat begitu terasa dengan kehadiran alun-alun dan taman kota," imbuhnya.
Selain menikmati pawai takbiran masyarakat juga menurutnya ingin menikmati suasana baru Alun-alun Giri Menang Park. Inilah yang membuat ribuan orang datang dari berbagai penjuru.
Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini yang membuka kegiatan tersebut, tak mampu menyembunyikan rasa bangganya.
Menurutnya, festival ini adalah cerminan kuatnya gotong royong masyarakat.
"Ini hasil kerja keras bersama. Proses panjang dalam mempersiapkan setiap miniatur menunjukkan kecintaan masyarakat terhadap syiar Islam," ujarnya. Ia menegaskan, Festival Gema Takbir bukan sekadar agenda tahunan.
Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam menghidupkan Gerung sebagai pusat aktivitas masyarakat.
"Melalui kegiatan ini, kita ingin menjadikan Gerung sebagai ikon keramaian, sekaligus pusat kebersamaan yang bernuansa religius," tambahnya. Peserta pawai sendiri dibatasi maksimal 50 orang per kafilah.
Namun, keterbatasan itu tidak mengurangi kemeriahan. Justru, penataan yang tertib membuat jalannya acara semakin nyaman dinikmati.
Perpaduan antara visual miniatur yang artistik dan gema takbir yang menggema menciptakan pengalaman yang sulit dilupakan. Malam kemenangan terasa lebih hidup, lebih hangat, dan penuh makna.
Kini, Gerung perlahan menunjukkan wajah barunya. Tidak lagi hanya dikenal sebagai pusat administrasi, tetapi juga sebagai ruang publik yang hidup.
GMP menjadi jantung aktivitas, tempat bertemunya kreativitas, budaya, dan nilai religius.
Editor : Kimda Farida