LombokPost – Lapas Kelas IIA Lombok Barat kian mempertegas komitmennya sebagai lembaga pembinaan yang menjunjung tinggi integritas.
Langkah ini diwujudkan melalui ikrar Zero Halinar dengan pemberantasan peredaran handphone, pungutan liar (pungli), hingga peredaran gelap narkoba di lingkungan warga binaan.
"Seluruh jajaran petugas berdiri dalam satu barisan komitmen. Mereka mendeklarasikan Zero Halinar. Sebuah jargon yang kini menjadi harga mati. Tidak ada toleransi untuk handphone ilegal, pungutan liar, apalagi narkoba," jelas Kepala Lapas Lombok Barat, M. Fadli.
Baca Juga: Komitmen Bersama, LPKA Lombok Tengah Deklarasikan Zero Halinar
Di balik istilah teknis tersebut, Fadli menyebut tersimpan pesan kuat bahwa perubahan besar harus diinisiasi dari internal.
Mulai dari petugas, sistem, hingga pola pikir. Baginya, Zero Halinar bukan sekadar slogan pemanis dinding atau seremoni belaka.
"Ini komitmen nyata. Tidak ada ruang bagi pelanggaran di dalam lapas," ujarnya.
Dalam dunia pemasyarakatan, isu handphone ilegal dan narkoba memang menjadi tantangan klasik. Celah pengawasan kerap menjadi titik lemah yang dimanfaatkan oknum.
Karena itu, deklarasi ini menjadi momentum krusial untuk memperketat sistem pengawasan internal secara menyeluruh.
Fadli menegaskan, langkah konkret akan segera diperketat. Mulai dari peningkatan kontrol petugas, pengawasan berlapis, hingga penegakan standar operasional prosedur (SOP) tanpa pandang bulu.
Baca Juga: Ditjenpas NTB Gelar Operasi Razia di Lapas Kelas IIA Lobar, Tim Temukan Gunting dan Sajam Rakitan
Seluruh upaya tersebut selaras dengan 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan yang mendorong terciptanya lapas yang bersih, aman, dan bebas dari praktik ilegal.
Integritas petugas kini menjadi benteng utama. Sebab, sekuat apa pun sistem yang dibangun, tanpa komitmen sumber daya manusia yang solid, celah pelanggaran tetap akan terbuka.
Momen penandatanganan komitmen bersama menjadi simbol penting dalam agenda tersebut. Satu per satu petugas membubuhkan tanda tangan sebagai pernyataan tanggung jawab moral dan profesional.
Fadli kembali mempertegas batasan-batasan yang ada agar tidak ada lagi wilayah abu-abu dalam bertugas.
Deklarasi ini sekaligus mengirimkan pesan kepada publik bahwa Lapas Lombok Barat bertransformasi menjadi institusi yang bersih.
"Perjalanan menuju Zero Halinar tentu tidak instan. Akan ada ujian, ada tantangan, bahkan mungkin resistensi. Namun, langkah pertama telah diambil. Dan langkah itu dimulai dari keberanian untuk berkata cukup," pungkasnya. (ton)
Editor : Redaksi