Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kartini Masa Kini: Pelda Nyoman Dewi, Sosok Babinsa Perempuan Pertama di NTB

Geumerie Ayu • Selasa, 21 April 2026 | 18:29 WIB
 Pelda (K) Nyoman Dewi Tri Ary Susanti, Babinsa perempuan pertama di NTB. (Istimewa)
Pelda (K) Nyoman Dewi Tri Ary Susanti, Babinsa perempuan pertama di NTB. (Istimewa)

LombokPost – Tugas sebagai Bintara Pembina Desa (Babinsa) selama ini identik dengan figur pria yang menuntut fisik prima dan mental baja.

Namun, di Desa Karang Bayan, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, paradigma soal Babinsa tersebut berubah.

Sosok Pelda (K) Nyoman Dewi Tri Ary Susanti hadir sebagai inspirasi baru sekaligus mencatatkan sejarah sebagai Babinsa perempuan pertama di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Baca Juga: Polisi Tahan Terduga Pelaku Pemerkosaan Anak di Gerung

Bertugas di bawah Koramil 1608/Narmada, Kodim 1606/Mataram, Pelda Dewi kini dikenal sebagai Kartini Masa Kini yang tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga menyentuh aspek terdalam isu sosial masyarakat.

Menjadi Babinsa perempuan pertama di NTB merupakan kehormatan besar bagi Pelda Dewi.

Sejak mulai bertugas pada tahun 2025, ia membuktikan bahwa dedikasi tidak mengenal gender. Selama enam bulan terakhir, ia aktif turun ke lima dusun di Desa Karang Bayan untuk memahami persoalan warga secara langsung.

Baca Juga: Rekomendasi 5 Dracin Terbaik Arthur Chen, Pilihan Tontonan Maraton di Akhir Pekan

"Menjadi Babinsa itu luar biasa. Kita tidak hanya bekerja dengan hati nurani, tapi juga harus langsung bersentuhan dengan masyarakat. Tantangannya pasti ada, karena di masyarakat banyak persoalan yang harus kita hadapi," ujar Pelda Dewi.

Kehadiran Pelda Dewi membawa sentuhan berbeda dalam pendekatan program kerja TNI di tingkat desa.

Salah satu prioritas utamanya adalah penanganan stunting. Ia melihat perbaikan gizi anak-anak sebagai investasi jangka panjang bagi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di desa tersebut.

Baca Juga: Bikin Baper! 3 Momen Menggemaskan Yoo Yeon Seok dan Esom dalam Drakor Phantom Lawyer

"fokus utama saya adalah bagaimana bisa membantu menurunkan angka stunting. Saya melihat masih banyak anak-anak yang membutuhkan perhatian gizi lebih," tegasnya.

Selain isu kesehatan, Pelda Dewi juga jeli melihat potensi ekonomi lokal. Desa Karang Bayan kaya akan hasil alam seperti durian, manggis, hingga pohon aren. Ia bercita-cita mengubah pemanfaatan nira yang selama ini terbatas agar memiliki nilai jual lebih tinggi.

"Nira aren bisa diolah menjadi produk lain yang lebih bernilai dan tidak beralkohol. Ini yang ingin saya dorong agar ekonomi masyarakat meningkat," tambahnya.

Desa Karang Bayan merupakan potret nyata kebhinekaan Indonesia, di mana umat Muslim, Hindu, dan Nasrani hidup berdampingan dengan rukun.

Baca Juga: 8 Rekomendasi Drama Korea Penyamaran Terbaik yang Wajib Masuk Watchlist Anda

Pelda Dewi mengaku kagum dengan semangat gotong royong warga yang sangat kuat tanpa memandang perbedaan agama.

Kehadirannya di tengah masyarakat multikultural ini juga menjadi motivasi besar bagi generasi muda perempuan di desa tersebut.

"Sekarang mereka tahu bahwa perempuan juga bisa menjadi tentara dan mengabdi di garis depan. Saya harap ini memotivasi anak-anak muda untuk mengejar cita-cita mereka," katanya.

Baca Juga: SK Perpanjangan Plt Kepala SMA/SMK NTB Terbit, Legalitas Kini Jelas

Menjadi Babinsa berarti harus siap siaga 24 jam. Pelda Dewi mengakui bahwa perannya seringkali menuntut waktu di luar jam kerja normal, termasuk saat malam hari.

Namun, dukungan penuh dari suami dan anak-anak menjadi energi utama dalam menjalankan tugas negara.

“Saya mungkin tidak bisa membantu banyak, tapi saya ingin kehadiran saya bisa memberi warna dan manfaat bagi desa,” tutupnya.

Baca Juga: Semangat Hari Kartini, PLN Salurkan Bantuan kepada 15 Lansia Dhuafa di Lombok Timur

Editor : Akbar Sirinawa
#Babinsa perempuan pertama #Kartini masa kini #Pelda Nyoman Dewi #NTB #Stunting