LombokPost - Alun-alun Kota Gerung Sabtu Minggu (2-3/5) tampak berbeda.
Sembilan puluh pohon kerdil dengan lekuk batang eksotis berjajar rapi, menarik perhatian warga yang melintas.
Ya, ini adalah pameran bonsai yang digagas Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Cabang Lobar.
Ajang ini bukan pameran biasa. Mengusung semangat Hari Bumi Sedunia 2026, PPBI Lobar menggelar agenda yang mereka sebut sebagai "tes ombak".
Akhwan Mashudi, Lurah Gerung Selatan yang juga menjabat sebagai Ketua PPBI Lobar, sedang memasang target besar yakni Pameran Nasional (Pamnas) Bonsai 2027.
”Ini langkah awal untuk memeriahkan Alun-alun Kota Gerung. Kami mempelajari strukturnya, di mana harus mengambil air, ke mana arah hadap pohon, hingga memetakan potensi keramaian,” ujar Akhwan.
Baca Juga: Melihat Pameran Bonsai dari Desa Lendang Nangka Lombok Timur
Jika pameran kali ini hanya mencakup wilayah lokal Lombok Barat, tahun depan ia berambisi mendatangkan kolektor dari seluruh penjuru Indonesia, tepat pada perayaan HUT Lobar, April 2027. Dukungan untuk ambisi ini pun mengalir deras.
Pada malam pembukaan, deretan petinggi daerah mulai dari bupati, wakil bupati, hingga sekda hadir memberikan apresiasi.
Akhwan menyebut bupati ternyata seorang pemerhati pertumbuhan tanaman yang paham betul detail dunia botani.
Dukungan moril ini menjadi bahan bakar bagi 80 anggota PPBI Lobar untuk terus memoles koleksi mereka.
Menariknya, anggota komunitas ini datang dari spektrum profesi yang sangat luas. Mulai dari petani, ASN, aparat TNI-Polri, konten kreator, hingga pemilik toko bangunan.
Mereka membuktikan bahwa bonsai adalah hobi yang inklusif dan melintasi batas profesi.
Di kantor kelurahan tempatnya bertugas, Akhwan bahkan menjadikan bonsai sebagai simbol identitas, Kelurahan Bonsai.
Hal ini bukan sekadar julukan, sebab banyak warganya kini mulai menekuni profesi sebagai petani bonsai.
Bicara soal angka, nilai ekonomi dari seni ini memang menggiurkan.
Pohon-pohon yang tampil di pameran ini rata-rata adalah atlet yang sudah sering berprestasi di luar daerah.
Untuk ukuran kecil saja, harganya bisa menembus Rp 20 juta hingga Rp 35 juta. Bahkan, beberapa koleksi unggulan dibanderol hingga Rp 50 juta.
”Artinya, hobi bonsai itu dua sisi mata uang. Satu sisi kita merawat alam, di sisi lain ada nilai ekonomisnya yang sangat tinggi,” tambahnya.
Meski pameran kali ini membatasi ukuran pada kelas medium dan small, Akhwan menjanjikan kejutan besar di tahun 2027 nanti.
Koleksi-koleksi berukuran raksasa sengaja disimpan sebagai senjata utama saat status pameran sudah naik ke level nasional.
Bupati Lobar Lalu Ahmad Zaini mengapresiasi kegiatan pameran bonsai ini.
Menurutnya, para pegiat bonsai adalah orang yang memiliki ketekunan tinggi. Karena tidak mudah merawat bonsai yang berkualitas.
”Yang saya apresiasi juga adalah upaya teman-teman untuk meramaikan dan menghidupkan Alun-alun Kota Gerung. Semangat ini tentu akan kita dukung,” ucap Bupati LAZ. (*/r8)
Editor : Kimda Farida