LombokPost - Kabar duka menyelimuti Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Haramain Putri 1, Narmada, Lombok Barat.
Salah seorang santriwati berinisial BAL, santri kelas IV atau setingkat kelas 1 Madrasah Aliyah mengembuskan napas terakhirnya di RSUD Provinsi NTB Kamis (11/6) lalu setelah sempat berjuang melawan masa kritis akibat terjatuh dari lantai tiga Gedung Khofifah.
Dewan Pengasuhan Santriwati Ponpes Nurul Haramain Ustad Akhwaf Habiburrahman menceritakan, kronologi peristiwa tersebut terjadi pada hari Jumat, 5 Juni 2026 yang lalu.
Saat itu, sekitar pukul 16.12 WITA, suasana di area pondok sebenarnya tengah berlangsung aktivitas ibadah rutin.
Seluruh santriwati berkumpul di musala bawah untuk melaksanakan salat Asar berjamaah yang kemudian dilanjutkan dengan mengaji bersama.
"Saat itulah, tiba-tiba suasana berubah heboh karena terdengar ada suara dentuman yang cukup besar. Semua santriwati yang berada di musala kaget. Setelah diperiksa, ternyata salah satu santriwati kita sudah terjatuh dari lantai tiga," ujar Ustad Akhwaf saat memberikan keterangan.
Diketahui, kondisi lantai tiga Gedung Khofifah tersebut sebenarnya merupakan area kosong.
Baca Juga: Jamaah Haji Asal Bima Meninggal Dunia Bertambah Jadi Tiga Orang
Gedung itu sudah tidak berpenghuni sejak beberapa bulan terakhir karena sengaja disiapkan untuk menyambut kedatangan santriwati baru.
Ditambah lagi, saat kejadian berlangsung, almarhumah sedang dalam kondisi berhalangan (menstruasi), sehingga ia tidak ikut bergabung bersama rekan-rekannya di musala untuk beribadah.
Pihak pondok pesantren langsung bergerak cepat melakukan pertolongan pertama.
Sekitar pukul 16.14 WITA, atau hanya berselang dua menit dari kejadian, korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Awet Muda Narmada untuk mendapatkan penanganan intensif.
Korban sempat menginap semalam di sana sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Provinsi NTB pada hari Sabtu, 6 Juni 2026.
Setelah mendapatkan perawatan medis intensif selama enam hari di RSUD Provinsi NTB, takdir berkata lain. Pada hari Kamis, 11 Juni 2026, pihak rumah sakit menyatakan BAL meninggal dunia.
Jenazah almarhumah langsung dipulangkan ke rumah duka di Selong, Lombok Timur menggunakan mobil ambulans pada hari yang sama dan telah dikebumikan di pemakaman umum setempat pada hari Jumat, 12 Juni 2026.
Ustad Akhwaf juga secara tegas menepis isu miring yang sempat berkembang di luar terkait penyebab jatuhnya santriwati berusia 16 tahun tersebut.
Pihak Ponpes bersama aparat kepolisian dan perwakilan Kanwil Kemenag Bidang Madrasah telah melakukan tabayun atau klarifikasi serta olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) secara langsung.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan, pemantauan, dan observasi dari pihak kepolisian yang turun langsung melakukan olah TKP, disimpulkan bahwa peristiwa ini murni merupakan kecelakaan. Jadi ini menepis anggapan atau isu miring yang sempat beredar di luar," tegasnya.
Selain itu, pihak pondok juga meluruskan kabar yang menyebutkan korban sempat mengalami koma selama masa perawatan.
Berdasarkan catatan medis, baik saat dirawat di RS Awet Muda maupun di RSUD Provinsi, tidak ada laporan yang menyatakan korban mengalami koma.
Setelah tindakan operasi, kondisi korban memang terus menurun hingga akhirnya tidak dapat tertolong.
Pihak keluarga sendiri dinyatakan telah menerima musibah ini dengan ikhlas dan lapang dada setelah pihak pondok terus mendampingi sejak hari pertama kejadian.
Pihak RSUD Provinsi NTB melalui Humas rumah sakit Solikin membenarkan almarhumah BAL dirawat selama beberapa hari di sana.
"Berdasarkan data pelayanan di RS, bahwa memang benar pasien inisial BAL meninggal dunia dan telah mendapatkan perawatan di RS kami sejak tanggal 6 juni 2026," jelasnya.
Editor : Kimda Farida