Tak terkecuali dua SPPG di bawah naungan Yayasan Batu Emas. Pengelola program Makan di wilayah Lombok Barat ini sudah mempersiapkan diri bahkan sejak jeda waktu libur sekolah untuk melakukan sterilisasi total, perawatan dapur, serta peningkatan kapasitas fasilitas memasak.
Langkah ini diambil guna memastikan bahwa saat program MBG bagi pelajar yang mulai bergulir pada 20 Juli 2026, seluruh sajiannya berada dalam standar higienitas tertinggi.
Baca Juga: Banyak Dapat Kritik, Program MBG Jalan Terus
Pemimpin Yayasan Batu Emas, Muhazam, SP., menjelaskan bahwa selama libur sekolah, operasional dapur utama memang dihentikan, namun disisi lain, Yayasan melakukan pembenahan fasilitas. Menurutnya, masa rehat ini menjadi momentum krusial untuk mengevaluasi kelayakan alat masak hingga memperkuat manajemen bumbu dan bahan baku.
"Di masa libur kamarin, kami memiliki kesempatan untuk berbenah, memperbaiki, serta menambah fasilitas dapur yang kurang. Mulai dari perlengkapan memasak hingga kesiapan bahan baku. Tujuan kami adalah memastikan dapur kembali beroperasi pada minggu ini dalam keadaan steril seperti baru," ujar Muhazam saat ditemui pada Rabu (22/7/2026).
Muhazam juga menegaskan bahwa kesuksesan program nasional MBG tidak hanya diukur dari seberapa banyak porsi yang dibagikan, melainkan dari tingkat konsumsi anak-anak.
"MBG ini dihajatkan untuk peningkatan kualitas SDM masyarakat Indonesia melalui asupan bergizi. Jika makanan yang disajikan tidak habis karena rasanya kurang diminati, maka program ini akan sia-sia. Oleh karena itu, kontrol kualitas rasa dan nilai gizi adalah harga mati bagi kami," tegas pria berlatar belakang Sarjana Pertanian tersebut.
Selain fokus pada pemenuhan nutrisi harian yang seimbang, mencakup karbohidrat, protein hewani, sayuran, dan buah-buahan, operasional skala besar yang dikelola Yayasan Batu Emas terbukti membawa dampak domino positif bagi perekonomian lokal.
Dengan kebutuhan pasokan pangan yang masif setiap harinya, yayasan ini mengintegrasikan rantai pasoknya langsung dengan para petani dan produsen lokal di Kabupaten Lombok Barat. Pola ini tidak hanya menjamin kesegaran bahan baku, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat sekitar melalui penyerapan hasil tani daerah.
Saat ini, Yayasan Batu Emas mengelola dua titik SPPG strategis dengan total layanan mencapai ribuan penerima manfaat setiap harinya.
Titik pertama berada di Desa Karang Bongkot Kecamatan Labuapi Kabupaten Lombok Barat yang melayani 2.615 orang penerima manfaat MBG per hari. Jumlah ini tersebar di 22 institusi pendidikan (PAUD, TK, SD, SMPN 2 Labuapi, hingga SMA) yang berada di Desa Karang Bongkot, Perampuan Kuranji, Kuranji Dalang, dan Telaga Waru. Mulai beroperasi 29 September 2025.
SPPG kedua berada diDusun Kerangkeng Timur Desa Banyumulek, Kecamatan Kediri Kabupaten Lombok Barat. SPPG ini melayani 1.438 orang penerima manfaat MBG per hari yang tersebar di 7 sekolah serta kelompok prioritas B3 (Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita non-PAUD) di 4 Dusun. Mulai beroperasi sejak 11 Mei 2026.
Melalui pengawasan mutu yang ketat, ketepatan waktu distribusi, serta pendekatan berbasis gizi terukur, Yayasan Batu Emas kini dinilai berhasil menciptakan standar baru (benchmarking) bagi pengelolaan program jaminan pemenuhan gizi di Nusa Tenggara Barat. Ikhtiar berkelanjutan dari Muhazam dan timnya menjadi optimisme baru dalam mencetak "Generasi Emas" yang sehat, cerdas, dan kompetitif di Lombok Barat.
Editor : Siti Aeny MaryamSumber : Liputan