LombokPost - Persoalan penanganan sampah di daerah masih menjadi beban amat berat. Timbunan sampah harian masyarakat terus meningkat tajam setiap hari.
”Sebenarnya secara nasional persoalan sampah ini sama hingga kini,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Lombok Barat Muhammad Busyairi, Sabtu (1/8).
Menurut Busyairi, pemda tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan penuh masyarakat. Sinergi seluruh elemen sangat dibutuhkan dalam pengelolaan sampah harian.
”Masalah nasional terkait pengelolaan sampah membuat tahun 2025 tidak ada satu pun kabupaten/kota di Indonesia yang berhasil meraih penghargaan Adipura,” terangnya.
Persoalan sampah ini memang terus menjadi atensi di daerah mana pun di seluruh Indonesia. Seluruh daerah masih menghadapi kendala besar dalam sistem pengelolaan.
”Hanya 53 daerah masuk kategori menuju bersih,” jelasnya.
Baca Juga: Wagub NTB Salurkan Dana Kompensasi Dampak Negatif untuk 8 Desa Sekitar TPA Kebon Kongok
Kondisi ini membuktikan pengelolaan sampah nasional masih amat memprihatinkan. Kesadaran warga dalam memilah sampah rumah tangga sangat rendah. ”Masyarakat hanya mengandalkan pola lama, kumpul buang saja,” katanya.
Pola pengangkutan konvensional seperti ini dinilai sangat tidak efisien. Di sisi lain keterbatasan sarana prasarana menjadi penghambat. ”Timbunan sampah Lombok Barat mencapai 300 ton sehari,” tuturnya.
Namun volume sampah terangkut ke TPA amat terbatas sekali. Armada pengangkut milik dinas terkait masih sangat terbatas. ”Kapasitas terangkut baru sekitar delapan puluh ton sehari,” tegasnya.
Baca Juga: Peringati HLH Sedunia 2026, Dinas LHK NTB Gelar Pasar Murah di TPAR Kebon Kongok
Ratusan ton sisa sampah terpaksa menumpuk di pemukiman warga. Sebagian sampah bahkan terbuang liar ke tempat umum lainnya. ”Kebutuhan ideal armada pengangkut mencapai 50 unit untuk 300 ton sehari,” ujarnya.
Jumlah tersebut dihitung berdasarkan estimasi volume timbunan sampah harian. Setiap armada idealnya melakukan dua kali ritase pengangkutan harian. ”Tapi kondisi kita sekarang hanya punya 17 armada pengangkut sampah,” aku Busyairi.
Kekurangan armada membuat penanganan sampah menjadi kurang maksimal terlayani. Dinas terus berupaya mencari jalan keluar penanganan masalah ini. ”Solusinya masyarakat wajib mulai mengelola sampah dari sumber,” imbaunya.
Pemilahan sampah organik dan anorganik harus dilakukan di rumah. Pembuat lubang biopori mandiri sangat disarankan bagi setiap keluarga.
”Kalau semua dibuang ke TPA akan cepat penuh,” pesannya.
Daya tampung TPA kalau hanya terpaku sistem konvensional tidak akan bertahan lama lagi. Tanpa penanganan dari sumber, TPA berpotensi bisa tutup beberapa tahun lagi. ”Pemerintah daerah dan provinsi harus bersinergi secara kuat,” pungkasnya. (nur/r8)
Editor : Redaksi Lombok Post OnlineSumber : Liputan Berita Lombok Post