LombokPost – Upaya pencegahan stunting terus diperkuat melalui edukasi gizi berbasis masyarakat.
Dosen dan mahasiswa Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Mataram turun langsung ke Desa Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, memberikan penyuluhan gizi dan demonstrasi pengolahan makanan kaya protein hewani berbasis pangan lokal kepada para ibu balita dan kader posyandu.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) bertajuk Cegah Stunting dengan Pemberian Edukasi Gizi dan Demonstrasi Makanan Kaya Protein Hewani Berbasis Pangan Lokal di Desa Labuapi Lombok Barat itu diikuti sekitar 50 ibu balita.
"Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai stunting sekaligus keterampilan mengolah makanan bergizi secara mandiri di rumah" jelas
Ketua tim pengabmas Joyeti Darni, S.Gz., M.Gizi.
Dia menjelaskan, stunting masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang serius. Kondisi gagal tumbuh pada anak tersebut terjadi akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, terutama selama periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
“Stunting bukan hanya masalah tinggi badan anak, tetapi juga berdampak pada perkembangan otak, kemampuan belajar, produktivitas saat dewasa, hingga risiko penyakit degeneratif. Karena itu pencegahannya harus dimulai sejak dini,” ujar Joyeti saat memberikan materi edukasi kepada peserta.
Baca Juga: Poltekkes Kemenkes Mataram Perkuat Kompetensi Caregiver untuk Tingkatkan Layanan Lansia
Menurutnya, pemenuhan kebutuhan protein hewani sangat penting untuk mendukung pertumbuhan anak. Berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan antara rendahnya konsumsi protein hewani dengan kejadian stunting pada balita.
Karena itu, pemanfaatan bahan pangan lokal yang mudah diperoleh masyarakat menjadi strategi yang efektif dan berkelanjutan.
Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga praktik langsung membuat olahan protein hewani berbasis pangan lokal. Salah satu menu yang diperagakan adalah bakso ayam kelor, yang memanfaatkan daun kelor sebagai sumber zat gizi tambahan.
“Bahan-bahan lokal sebenarnya sangat potensial untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Melalui praktik ini kami ingin menunjukkan bahwa makanan bergizi tidak harus mahal,” tambahnya.
Selain menyasar ibu balita, tim pengabdi juga memberikan pelatihan kepada kader posyandu setempat. Kader dibekali pengetahuan tentang deteksi dini stunting, pemantauan pertumbuhan balita, serta cara menyosialisasikan pemanfaatan pangan lokal kepada warga secara berkelanjutan.
Para peserta tampak antusias mengikuti demonstrasi memasak dan mencicipi hasil olahan yang disajikan. Beberapa balita yang hadir juga terlihat menyukai menu bakso ayam kelor yang dibuat bersama.
Tim pengabdi berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang, memperkuat peran kader posyandu, dan mendorong keluarga memanfaatkan pangan lokal sebagai alternatif pencegahan stunting.
Dengan langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten, angka stunting di lingkungan masyarakat diharapkan dapat terus ditekan.
Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Lombok Post