Cerita Hangat Warga Nikmati Cek Kesehatan Gratis, Menghalau Petaka Pembunuh Diam-Diam dari Pelosok

Nurul Hidayati • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:32 WIB
CEK KESEHATAN: Warga Desa Taman Ayu saat melakukan pengecekan kesehatan gratis di Kantor Desa, pekan lalu. (NURUL/LOMBOK POST)
CEK KESEHATAN: Warga Desa Taman Ayu saat melakukan pengecekan kesehatan gratis di Kantor Desa, pekan lalu. (NURUL/LOMBOK POST)

LombokPost - Pemkab Lobar melalui Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Lobar gencar melakukan cek kesehatan gratis ke masyarakat.

Hal ini tidak hanya untuk mengetahui kesehatan warga, namun juga menjadi tracking penyakit yang ada di tengah masyarakat.

Matahari belum lagi tinggi ketika selasar Kantor Desa Taman Ayu, Gerung, ditata untuk memberikan layanan kesehatan masyarakat, pekan lalu.

Baca Juga: CKG Jadi Benteng Awal Cegah Penyakit Kronis di NTB

Beberapa ruangan disiapkan untuk memberikan pelayanan cek kesehatan gratis (CKG) tersebut ke masyarakat. 
Satu persatu masyarakat mendaftarkan diri untuk CKG.

Kursi plastik berwarna putih yang berjejer rapi di halaman depan kantor desa itu sudah berpenghuni.

Sebagian besar diisi lansia dan orang tua yang datang mengenakan kain sarung, bersanding dengan pasangan muda yang menggendong balita, hingga anak-anak yang diantar orang tuanya. 

Baca Juga: CKG Lotim Tertinggi di NTB

Semuanya memegang selembar kertas bernomor antrean untuk memeriksakan fisik tanpa perlu memikirkan biaya.

Pemandangan penuh sesak namun tertib ini menjadi potret harian di berbagai pelosok Lobar belakangan ini.

Lewat program CKG, pemkab menerjunkan ratusan tenaga medis hingga ke tingkat desa.

Baca Juga: Kasus Stunting Turun, Program CKG Sasar Jutaan Jiwa

Program masif ini mengusung misi utama yang cukup bernas, Cegah Dini, Tuntas Obati.

Sebuah terobosan yang hadir di tengah bayang-bayang pola hidup masyarakat modern yang kian rentan disusupi penyakit.

Selama ini, kebiasaan warga pedesaan cenderung baru mendatangi fasilitas kesehatan ketika kondisi fisik sudah benar-benar ambruk atau tidak lagi sanggup beraktivitas.

Pola pikir "tunggu parah baru berobat" inilah yang perlahan coba dikikis habis.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Lobar Erni Suryana mengungkapkan ancaman penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, stroke, jantung, hingga diabetes melitus kini bukan lagi monopoli warga perkotaan. 

Di pelosok desa, makanan tinggi gula, konsumsi garam berlebih, serta kebiasaan merokok menjadi pemicu utama yang kerap tak disadari. PTM bekerja layaknya pembunuh diam-diam (silent killer). Warga merasa tubuhnya bugar, padahal tekanan darahnya sudah melonjak tinggi atau kadar gula darahnya berada di tingkat membahayakan. 
Melalui program penjangkauan ini, kesadaran warga akan bahaya PTM terus dipacu. Targetnya jelas, masyarakat tidak lagi datang ke puskesmas dalam keadaan sudah komplikasi.
Begitu pintu pelayanan dibuka, para petugas medis dengan sigap dan ramah langsung menyambut warga. Tak ada sekat kaku antara dokter dan pasien. Alur pemeriksaan dirancang mengalir, dimulai dari meja pendaftaran yang sengaja dibuat sesimpel mungkin. 
Masyarakat tidak perlu pusing memikirkan berkas administrasi yang berbelit-belit. Cukup menunjukkan dokumen identitas seperti KTP atau Kartu Keluarga (KK), nama mereka langsung terdata di sistem. Bagi lansia yang lupa membawa kacamata atau kesulitan membaca form, kader kesehatan desa siap mendampingi dari awal hingga rangkaian pemeriksaan rampung.

Pemeriksaan dilakukan secara komprehensif. Di meja pertama, perawat dengan telaten mengukur tekanan darah, berat badan, lingkar perut, serta tinggi badan warga. Bergeser ke meja berikutnya, petugas mengambil sampel darah tipis di ujung jari untuk menguji kadar gula darah sewaktu, kolesterol, hingga asam urat.

Tidak berhenti di situ, layanan kesehatan gigi dan mulut, mata, serta telinga juga tersedia lengkap di lokasi. Petugas secara khusus menyiapkan prosedur skrining penyakit diabetes dan hipertensi untuk memetakan potensi risiko kesehatan masyarakat sejak awal. Alat-alat pemeriksaan mata sederhana hingga tes ketajaman pendengaran digelar guna memastikan para lansia masih bisa beraktivitas mandiri tanpa hambatan sensorik.

Selesai melewati laboratorium lapangan mini tersebut, warga tidak langsung dipulangkan. Mereka diarahkan menuju ruang konsultasi tatap muka bersama dokter umum. Di sinilah letak kekuatan fitur feature dari program CKG. Warga tidak hanya diberi resep obat jika ditemukan indikasi sakit, tetapi juga dibekali edukasi hidup sehat yang relevan dengan keseharian mereka.
Dokter menyisihkan waktu untuk menjelaskan secara perlahan arti dari angka-angka hasil tes tersebut. Jika tensi warga menunjukkan angka di atas normal, dokter tidak sekadar memberi obat penurun tekanan darah, tetapi juga memberikan saran praktis seputar diet rendah garam dan pentingnya olah raga ringan. 

Deteksi dini faktor risiko memang menjadi kunci utama penanganan medis modern. Sebab, secara kalkulasi anggaran maupun psikologis, biaya pencegahan jauh lebih murah dan tidak menyiksa ketimbang biaya pengobatan komplikasi di rumah sakit.
Seluruh fasilitas kesehatan di Lobar, mulai dari puskesmas, puskesmas pembantu (Pustu), hingga posyandu di tingkat RT, kini dinyatakan siap melayani masyarakat sesuai kelompok usia. 
Pendekatan ini memastikan tidak ada kelompok umur yang terlewat. ”Balita dipantau tumbuh kembangnya, remaja diperiksa kadar hemoglobinnya untuk mencegah anemia, usia produktif diskrining gaya hidupnya, dan kelompok lansia dipastikan tetap memiliki kualitas hidup yang layak,” kata Erni.
Antusiasme warga memanfaatkan program cek gratis ini terbilang sangat tinggi. Inisiatif mendekatkan akses layanan kesehatan tanpa beban biaya menjadi bukti nyata kepedulian pemkab terhadap kualitas hidup warganya. (NURUL HIDAYATI, Lombok Barat/r8)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
Sumber : Lombok Post
cek kesehatan gratis penyakit kelompok deteksi dini masyarakat