Terutama bagi kalangan pelajar yang cenderung memiliki selera makanan yang bervariasi. Masing-masing anak juga sudah pasti memiliki menu favorit yang berbeda-beda.
Itu sebabnya SPPG Karang Bongkot selalu merubah menu MBG setiap harinya dan memilih menu yang kira-kira paling disukai pelajar. Mereka sejak awal terus melakukan survey mana menu yang paling menarik untuk disantap pelajar.
Baca Juga: SPPG Yayasan Batu Emas Banyumulek Tetap Layani Penyajian Menu MBG Hingga Hari ini
Komitmen dalam mensukseskan program pemenuhan gizi nasional membutuhkan tidak sekadar niat baik, melainkan juga kepatuhan terhadap regulasi, kesiapan infrastruktur, dan fleksibilitas operasional.
Menyajikan makanan dalam jumlah banyak tak membuat SPPG Karang Bongkot mengabaikan kualitas makanan yang diproduksinya. Higienis, lezat dan bergizi menjadi harga mati para koki yang bertugas di bagian dapur.
Perpindahan lokasi SPPG ini ke lokasi baru juga demi kepentingan pun demi kepentingan memberikan areal dapur yang lebih luas supaya produksi makanan yang berkualitas menjadi lebih prioritas.
Baca Juga: Lompat ke Laut Bersama, Ombak Besar Pisahkan Pelukan Selvi dan Suami Usai KMP Putri Yasmin Terbakar
Langkah yang diambil oleh SPPG Karang Bongkot di bawah naungan Yayasan Batu Emas menjadi contoh nyata bagaimana sebuah lembaga pengelola program Makan MBG menyikapi tantangan kapasitas demi mempertahankan mutu pelayanan.
Pemilik Yayasan Batu Emas, Muhazam, S.P., menegaskan bahwa relokasi ini merupakan langkah wajib. Kedisiplinan terhadap regulasi BGN menjadi konsen penuh demi menjamin operasional dapur memenuhi kriteria nasional, baik dari segi tata ruang, alur kerja pengolahan pangan, hingga faktor keselamatan kerja.
Meskipun secara geografis lokasi baru ini masih berada dalam radius koordinat yang berdekatan dengan tempat sebelumnya di Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, keunggulan utama terletak pada daya tampung dan tata kelola ruang (layout dapur) yang jauh lebih representatif.
Area dapur yang lebih lapang membawa sejumlah manfaat operasional yang signifikan, makanan lebih higiene dan sanitasi terjaga.
"Dapur yang luas memungkinkan pemisahan area yang lebih tegas antara penerimaan bahan baku, pemotongan/persiapan, area memasak (hot kitchen), pengemasan (packing), hingga pencucian alat. Pemisahan ini meminimalkan risiko kontaminasi silang (cross-contamination)," jelas Muhazam Jumat (14/8).
Selain itu gerak para koki dan staf dapur menjadi lebih leluasa. Alur distribusi makanan dari dapur menuju armada pengangkut dapat dilakukan lebih cepat tanpa terjadi penumpukan (bottleneck).
Fasilitas yang lebih besar juga memungkinkan pengolahan porsi makanan dalam jumlah ribuan setiap harinya tanpa mengorbankan kualitas rasa maupun ketepatan waktu pengiriman ke sekolah-sekolah penerima manfaat.
Langkah responsif yang ditunjukkan oleh SPPG Karang Bongkot dan Yayasan Batu Emas mencerminkan profesionalisme sebagai mitra strategis pemerintah di daerah. Penyediaan pangan bergizi gratis bagi ribuan anak sekolah di Lombok Barat bukan hanya soal membagikan makanan, melainkan menjaga kualitas nutrisi, kebersihan, dan keselamatan pangan (food safety) sesuai ilmu kesehatan.
Dengan beroperasinya dapur umum baru yang lebih luas, steril, dan sesuai standar BGN, SPPG Karang Bongkot kini makin percaya diri dan siap memaksimalkan jangkauan layanannya. Langkah ini diharapkan dapat menjadi percontohan bagi unit layanan gizi lainnya di wilayah Nusa Tenggara Barat dalam menerapkan standar tata kelola dapur MBG yang ideal dan berkelanjutan.
Editor : Siti Aeny MaryamSumber : Liputan